Kamis, 16 Oktober 2008

Misteri shalat subuh

Judul ini kuambil dari sebuah buku karangan DR. Raghib As-Sirjani.

Waktu baru pindah ke perumahan yang kutempati sekarang, seorang tetangga bilang padaku:
"Aku nggak pernah sholat subuh semenjak pindah kesini"
Lalu kutanya," kenapa?"
"Habis, disini dingin banget, apalagi menjelang subuh, dingiiiin...banget. Jadi aku selalu bangun siang dan nggak sholat subuh," jawabnya santai,"kamu juga kan?"tanyanya menyusul.
Aku tersenyum," Alhamdulillah, aku masih mau sholat subuh, walau dingin menusuk. Rasanya rugi kalau nggak sholat."

Karena itulah, aku tertarik membeli buku yang judulnya kuambil untuk postingan ini.
Yang menarik (atau menyedihkan) adalah, ternyata memang banyak sekali orang Islam yang tidak mendirikan sholat subuh dan tidak merasa rugi atau bersalah karenanya.
Alasanya macam-macam, ada yang kedinginan seperti tetanggaku tadi, ada juga karena tidur terlalu larut, hingga bangun siang.

"Sesungguhnya dua sholat ini (Subuh dan Isya') adalah sholat yang berat bagi oarang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam sholat Subuh dan Isya', maka mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak." (HR Ahmad dan An-Nasa'i)

Padahal, ada perlakuan istimewa terhadap shalat Subuh ini dibandingkan dengan shalat yang lain. Salah satunya adalah; Rasulullah SAW memberikan doa khusus sesudah shalat subuh, yang dibaca setelah selesai shalat, belum beranjak dari tempat shalat dan belum bicara dengan siapapun....

Bunyinya dalam Bahasa Indonesia:

"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah saja, Ia tidak memiliki sekutu, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Jika doa ini dibaca sebanyak 10 kali, akan ditulis baginya 10 kebaikan, dihapuskan 10 kesalahan, diangkat baginya 10 derajat. Satu hari penuh dia dilindungi dari sesuatu yang tidak disukai, terlindungi dari setan dan tidak ada dosa yang pantas dianggap sebagai dosa kecuali syirik (HR At-Tirmizi)

Buat temanku (semoga membaca postingan ini), dan buat siapapun yang masih malas shalat subuh, jangan malas lagi ya.....

Jumat, 03 Oktober 2008

Fidyah puasa untuk Mamaku

Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin... Selamat hari raya aidil fitri.

Lebaran tahun ini ada satu kejadian yang sedikit mengharukan sekaligus lucu dirumahku. Ini tentang Mamaku yang tercinta, yang karena sakit maag beliau tidak lagi sanggup puasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Satu bulan penuh, mama tidak puasa. Pernah beliau coba puasa dihari pertama, tapi baru jam 9 pagi udah nyaris pingsan. Akhirnya puasanya dibatalin.


Ketika puasa hampir berakhir, mama mulai bertanya tentang fidyah yang harus kubayarkan untuk beliau. "cobalah hitung, berapa fidyah mama..." katanya.

Karena kurang mengerti masalah hitungan fidyah, saya telpon suami yang sedang berada dirumah mertua agar mampir ke musholla untuk menanyakan berapa fidyah yang harus kami bayar untuk mengganti puasa mama. Kebetulan mushola persis disamping rumah ibu mertuaku. Pastilah ada panitia zakat dan fidyah yang stand by disana dan bisa dimintai keterangan tentang hal ini.

Tak lama menunggu, suami saya telpon; "Ma, fidyahnya Rp.35,000 perhari!"

Aku langsung hitung dalam hati.... What?! Nggak salah ni? Mahal amat bayar fidyah? Kalau dihitung untuk 30 hari puasa, saya harus bayar Rp.1,050,000. ???

Kayaknya nggak masuk akal deh... Belum pernah saya dengar orang bayar fidyah sampai 1 jutaan begitu.

"Mas salah dengar nggak tuh?" saya berusaha meyakinkan diri...

"Nggaklah... Ini Mas lagi baca daftar harga fidyah dan zakat fitrah yang ada dimushola. Mas juga bingung. Tapi kata ustadz-nya emang segitu," katanya.

Karena ragu, saya larang suami bayar dulu,"tunggu Mas, jangan bayar dulu. Kayaknya ada yang salah hitung nih... Masak nyampe 1 juta lebih?"

Ibuku yang pasrah langsung berucap: "salah tuh, setau mama fidyah nggak sebesar itu. Fidyah itu kita bayarkan sebanyak biaya makan kita (1 orang) per hari. Dikalikan jumlah puasa yang ditinggalkan. Lah, mana ada biaya makan mama 35,000 sehari. Kalau memang jumlahnya benar segitu, nggak usah bayarlah... Biar, terserah Tuhan aja mama ini gimana..." katanya pasrah tapi dengan raut muka nggak rela. (Aduh, jadi sedih liatnya....)

Besoknya dikantor saya langsung buka internet (ketahuan deh, nge-net nebeng kantor..hihihi...nggak modal!). Cari, cari, cari....akhirnya kutemukanlah 'si fidyah' nyelip di monitor.

Ternyata jumlahnya jauh dibawah jumlah yang disebutkan oleh suamiku.

Jumlah fidyah menurut hadits Rasul SAW adalah 1 mud makanan pokok (gandum atau beras) atau setara dengan 675 gram. Nah, sekarang tergantung harga beras yang kita konsumsi tiap hari. Yang Rp. 10,000 per kg, atau Rp. 5,000 per kg atau Rp. 2,000 per kg. Bagi ke gram, kalikan 675. Segitulah biaya makan kita. Dan segitulah yang kita bayarkan ke fakir miskin atau dhuafa. Okelah, ditambah lauk-pauk seadanya, karena nggak mungkin orang hanya makan beras rebus doang. Paling nggak ada sayur bening bayam dan tempe goreng tambah sedikit sambel terasi (kok jadi ngomongin makanan?)

Hitung punya hitung, ternyata saya hanya harus bayar sekitar Rp. 134,000. Okelah, dibulatkan aja jadi Rp. 150,000. Wow...! Jauh banget selisih hitungannya sama mushola tetangga mertuaku (ngomong-ngomong, itu siapa yang hitung ya?) Dan yang bikin aku bingung, kenapa di mushola itu nggak disebutkan takarannya aja ya? Kenapa yang disebutkan malah harganya? Dan kenapa harga tersebut dipatok Rp.35,000 perhari? Kan nggak semua orang membeli beras dengan harga yang sama?

Any comment?