Tampilkan postingan dengan label orang kantor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang kantor. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Pengen Jadi Satpam

Temanku pernah bertanya sambil melirik tajam kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjaku:

"Akunting itu kerjanya cuma input2 data aja, kan?"
Aku terdiam beberapa jenak, berfikir, lalu menjawab: "iya.."
"Enak ya kayaknya kerjanya.."
Aku terdiam lagi, berfikir, menimbang; enak nggak ya kerjaanku inih? Lalu kujawab:"mungkin.."

Kamis, 02 Januari 2014

Aku dan Dia

Pada hakikatnya, diantara kami berdua itu ada sebuah dinding yang memisahkan. Hingga aku tidak bisa menatapnya dan dia tidak bisa mengintipku. Akan tetapi, memanjang dari belakangku hingga ke belakang dia, ada dinding kaca yang melerai kami dari aroma uap mesin di ruang produksi. Nah, dari dinding kaca inilah cerita kita berdua mengalir syahdu...

Jumat, 22 November 2013

Mantan Preman Jadi Bos

Kadang aku berfikir bos baruku ini pasti mantan preman.. Biasanya bos kan jaim, ngomong dijaga, ketawa kalem tanpa suara, kentut ditahan biar kliatan wibawa winking.

Tapi boss ku ini enggak!

Pertama kali ketemu, dia pakai kaos oblong warna hitam dan bawahan celana jins. Harusnya kan keren, ya? Tapi ini jauh dari keren. Ujung kaos bagian depan masuk ke celana. Tapi bagian belakang dibiarin menjuntai dengan sembrono. Duh.. straight face

Selasa, 05 Februari 2013

November Rain, Desember Kelabu dan Januari Biru

Sejak bulan November itu, hujan hobi banget turun ke bumi. Sejak bulan November, mama terkapar sakit dan tak pernah tersenyum. Sejak bulan November Valeska ditempa jadi anak sabar dan tabah, coz tiap hari harus ikut ke kantor, kadangkala kena hujan atau panas, kena angin kena debu, tidur siang di atas kursi atau di samping filing cabinet, atau kadang tak tidur siang sama sekali, lalu pulang kerja terkantuk-kantuk diatas motor, tak jarang sampai tertidur dengan kepala sering berkorban perasaan gegara kejeduk stang. Mama Vales mesti siapkan seat belt berupa sebuah kain jarik untuk mengikat tubuh Valeska biar nggak terlalu ndolosor jikalau mendadak tertidur tanpa terencana dan tak terlalu keras jikalau terpaksa terantuk stang menjulurkan lidah

Rabu, 04 April 2012

My Boss & Upilawati

*Sebuah cerita nggak penting dari seorang karyawan galau :D *

Dia tinggal di sebuah lorong gelap penuh bulu. Entah sejak kapan dia masuk ke situ. Jarang-jarang dia mau keluar kalo nggak dikeluarin. Tapi ada kalanya dia mengintip sedikit di muka lorong pada saat yang tidak pernah tepat. Selain di lorong gelap itu, dia juga sering terlihat berderet tak beraturan di bawah meja, di pinggiran lemari, dan di sekitar kaca rias. Anda tau siapa dia? Dialah yang kupanggil 'upilawati' :D .

Senin, 05 Maret 2012

Bongkar

Hi, I'm back! :D

Bijimane kabarnya Sobat Blogger semua? Kangen sama diriku? hahaha.... Aku tau, aku tau. Tak perlu kau ucapkan kataa-kata rindu itu. Aku paham perasaanmu setelah lama kita tiada bertemu. 

Sejak bulan Januari, pasca kontes Saweran Kecebong kemarin diriku memang kehilangan passion nge-blog. Kehilangan semangat kerja. Pokoknya hidupku rasanya hampa. Hanya sesekali daku OL untuk melihat teman-teman di pesbuk Warung Blogger. Kalo napsuku pamer jempol lagi membara, daku obral jempol tanpa komen di sana. Tapi seringnya cuma ngeliatin status dan komen penghuni warung. Setelah puas, aku sign out tanpa kesan dan pesan.

Kamis, 12 Januari 2012

My Pikun Boss

Judulnya mirip novel My Stupid Boss ya? hahahaha.............. Aku emang suka cerita MSB bahkan sejak  sebelum cerita itu dibukukan. Dulu aku sering buka blog penulisnya, sih...

Tapi bosku ini nggak setupid dan bulat menggelinding kayak Bossman di MSB. Bos aku tuh orangnya cewek, perawakannya kecil ramping, lemah lembut, murah senyum, baik hati, rajin menolong dan suka menabung. Tapi setiap bulan purnama muncul, penyakit pikunnya kambuh. Kadang membuat aku kepingin gantung diri di pohon toge. 

Jumat, 06 Januari 2012

Kiamat Sudah Dimulai

Kata orang, kiamat akan terjadi di tahun 2012. Tak jelas, siapa orangnya yang berani mengatakan itu. Kok bisa tau ya? Tapi di sini, kiamat sudah terjadi. Sejak akhir tahun lalu. Tepatnya 3 hari sebelum tahun 2011 berakhir. 

Setiap akhir tahun, kantorku bagai kiamat. Sibuk, berantakan, kusut, kacau. Dan penderitaanku selalu sama:
- Nyaris nginap di kantor, karena pulang lamaaaa setelah azan Isya selesai bergema. 
- Sakit kepala, karena akibat banyak kerja, makan jadi telat.
- Kelelahan ampe kadang lemes nggak jelas

Senin, 15 Agustus 2011

Appraisal atau pesangon?

Di suatu senja di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik....*halah, kok jadi nyanyi lagu Ngkong Broery*

Jadi, aku ingin bercerita, Temans, tentang seorang karyawan teraniaya yang pada suatu hari datang menghadap boss nya dan bertanya tentang ketidak jelasan statusnya.

Senin, 20 Juni 2011

Salahkah aku yang jadi mau karena melihat isi dalam rokmu

Postingan ini dibuat hanya untuk menandakan bahwa pemilik blog masih hidup :D, sekaligus menjadi pertanda dia sedang bingung mau mosting apa..hehehe... Jika tidak berkenan, silahkan lanjutkan perjalanan Temans ke rumah tetangga yang lebih bermutu :)


Seorang gadis manis melangkah memasuki kantorku pagi ini mengiringi seorang staf HRD yang mengantarnya (dia calon asistenku). Aku sedikit pangling. Jum'at kemarin waktu ku interview dia memakai celana panjang dan kameja putih lengan panjang. Rambutnya yang kemarin Jum'at masih hitam semua, hari ini berubah agak-agak merah tembaga di beberapa bagian. And dia memakai rok pendek diatas dengkul. Cantik sih... Tapi dikantor kami jarang-jarang ada yang memakai rok, apalagi sependek itu.

Rabu, 01 Juni 2011

Gigi

Kalo udah diserang, matanya liar penuh amarah menatap setiap orang yang mendekat. Bola matanya yang besar itu melotot seakan mau keluar dari rongganya. Mulutnya yang biasa cerewet stadium 4, langsung tak bersuara. Tapi sekali bersuara, melengking tinggi, tajam menusuk hati.

Kalau sudah begitu, diam saja. Tak usah banyak komentar, tak usah banyak tanya. Kalau tidak mau terluka, just keep quiet! Nanti jika keadaan sudah aman terkendali, mata bulatnya sudah kembali redup, mulutnya sudah tak lagi mengatup, rahanya sudah tak lagi berdenyut, itu tandanya kau sudah bisa mengajaknya bicara. Meski nadanya masih 7 oktaf, tapi tidak lagi terlalu melukai hati.

Percayalah, aku sudah berpengalaman mengendalikan makhluk ini.

Kamis, 21 April 2011

Cerita di Hari Kartini

Pak Kumis; bos aku, baru datang dari S'pore tadi pagi, langsung nyamperin ke ruanganku, membuat daku terperanjat kaget, untung lagi nggak buka blog. Untung lagi baca peraturan pajak tentang Ppn 10% yang mulai dikenakan di FTZ sini.

"Hi, Dewi.." seperti biasa dia menyapa sambil memperbaiki tatanan jambulnya.
"Hi, Pak.." sambil memperbaiki dudukku yang tadinya sanderan di kursi mendekati posisi sempurna bagai duduknya RA Kartini.

"Sorry, I didn't reply your sms," katanya sambil menarik sebuah kursi dan duduk disebelahku.

Senin, 07 Maret 2011

Sama-sama bingung

Penyakit gila nomer 17 gw kambuh lagi. Yaitu gila meng-gosip tentang orang kantor yang lucu-lucu bin aneh. Bis, kalo nggak di share di blog, rasanya persis kayak berada pada situasi nahan ke**t pas lagi meeting shareholder sama para petinggi dunia persilatan. *Apalagi namanya kalau bukan gila*.

Jadi begini, awal tahun kemarin, seperti biasa kami di audit E 'n Y dari negeri tetangga S'pore yang nggak bisa sama sekali bahasa Indo palagi bahasa Jawa atau bahasa Padang yang gw paling ahli. Dia hanya bisa berbahasa aneh: Inglish logat cina, yang hanya bisa dimengerti oleh orang2 shaleh dan berbudi luhur macam gw. Apalagi kalau dia ngomong sama senior gw ini yang rada gagap berbahasa linggis. Akan lebih hot kalo ngomongnya linggisnya panjang-panjang tanpa titik koma. Senior gw bakal banyak mangapnya ketimbang mingkem.


Selasa, 22 Februari 2011

Malu bertanya belilah kompas

Harusnya hari ini gw bertugas melengkapi Net Book Value-nya data fixed asset yang mo dikirim ke tanah jiran sono. Tapi mengingat dan menimbang bahwa blog-ku udah sering terlantar gara-gara kerja (yang gw anggap nggak lebih penting dari blog), maka dengan ini gw memutuskan bahwa pekerjaan tak penting itu harus gw singkirkan dulu dengan semena-mena. Apa boleh buat, tai kambing bulat-bulat.

Jadi begitulah. Sebenarnya gw nggak tau mo nulis apa. :D Tapi IbuDini meminta gw mengerjakan PR ini: menuliskan sebuah kalimat inspirasi. Permintaan yang sulit ditolak, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak *jiahhh*. Jadi gw ingin berbagi tentang nasehat 'berlagak bodoh' -nya mak gw yang gw catat dengan tinta emas dihati gw dan gw amalkan dengan sebaik-baiknya.

Jumat, 07 Januari 2011

Kacau

Jika sudah begini, aku ingin berhenti saja. Melihat kertas yang bertaburan memenuhi meja, menatap layar computer dg mata yang makin buram, menghitung angka-angka yang tak jelas keberadaannya, entah benar ada entah tidak. Mengecek jurnal yang memualkan perut. Benar, aku mual sudah…


Tampang mejaku saat awal bulan


Senin, 11 Oktober 2010

Alhamdulillah

Tuhan itu memang Maha Penyayang, tak dapat dipungkiri lagi.
Tuhan itu Maha Tau, Pengertian dan Selalu mengabulkan doa dan harapan umatnya.

Ketika kecil hingga remaja, aku suka ikutan baca majalah wanita dewasa punya Mama. Yang aku suka adalah membaca atau nonton tentang wanita-wanita dewasa yang bekerja di kantor. Pagi berangkat kerja nyetir mobil sendiri atau diantar sopir dan pulang sore. Rasanya indah banget hidup seperti itu. Keren banget ngeliat para wanita duduk di belakang meja nulis sesuatu, lalu ngitung-ngitung pake kalkulator, sambil sesekali ngelirik layar komputer. Aku berharap suatu saat bisa bekerja seperti itu.

Bertahun-tahun kemudian, disinilah aku. Lengkap dengan kalkulator dan komputerku, disebuah kantor. Meski belum punya mobil sendiri, aku cukup puas karena apa yang ku inginkan dulu jadi kenyataan. Alhamdulillah.


Pernah juga aku menghayal punya motor sendiri gara-gara ngeliat teman sekolah wira-wira naik motor. Dan akhirnya aku punya juga, meski aku mendapatkannya setelah kerja. Aku senang karena motorku bukan pemberian ortu, melainkan hasil kerja kerasku. Alhamdulillah.

Beberapa tahun lalu aku berniat berhenti kerja sebagai pegawai swasta, aku ingin punya usaha sendiri. Ternyata lama-lama kerja sebagai wanita kantoran membosankan juga. Aku ingin kerja dirumah, bisa dekat dengan anakku. Dan Tuhan menjawab keinginanku...

Kemarin Pak GM datang dari S'pore, mengumumkan bahwa perusahaan ini akan ditutup dalam 6 bulan dan seluruh projek akan pindah ke perusahaan cabang di Malaysia seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Beliau meyakinkan akan membayar kompensasi bagi sekitar 800 karyawan sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia. Jadi tak perlu cemas, katanya.

Tentu saja aku senang meskipun ada sedihnya juga. Bagi kebanyakan orang, bekerja dimanapun, gaji adalah prioritas number 1. Tapi bagiku, soal gaji kugeser dikit ke posisi 1,5. Yang nomer 1 adalah suasana kerja yang nyaman, team work yang solit, pertemanan yang asyik. Disini semua itu ada. Kami juga punya big bos yang lumayan 'baik'. Meskipun kadang menjengkelkan (karenagakadabosyangnggakmenjengkelkandiduniaini) kami menyukainya. Dia friendly dan dekat dengan karyawannya. Bisa jadi teman, bisa jadi bos dan sesekali jadi lawan. Itu adalah hal-hal baik yang harus kulepaskan dan membuat sedikit sedih.

Tapi senangnya, aku akan menerima uang kompensasi dari perusahaan, bisa dipakai untuk memulai usaha yang sudah lama kuimpikan. Aku dulu punya planning untuk berhenti kerja dan memulai usaha sendiri ketika berumur 35 tahun nanti. Tapi masih jauh lagi aku berusia segitu, Tuhan sudah membuka jalan untukku. Alhamdulillah. 

Meski masih banyak mimpi-mimpiku yang belum jadi nyata, masih banyak doa yang belum dikabulkan namun aku bersyukur atas banyak hal yang sudah Tuhan kasih padaku. Banyak sekali yang sudah Dia beri bahkan tanpa aku minta. Terima kasih ya, Allah..

Alhamdulillah...

Gambar di pinam dari sini

Senin, 27 September 2010

Pengemis dan pemalak bersafari


Disini, semua orang mulai malas kerja, karena:
Semua orang sibuk membicarakan banyak projek yang akan di transfer ke perusahaan cabang di Malaysia.
Semua orang sibuk ngitungin aset perusahaan.
Semua orang sibuk nyari rumus ngitung pesangon di internet :D .
Benarkah perusahaan ini akan tutup?

Aku harap-harap cemas. Harap-harap dapat pesangon dan cemas setelah dapat pesangon tuh mau ngapain? Jadi pengacara? Pengangguran banyak acara? Bis, mau jadi apa coba? Mau jadi tukang pecel, nggak pintar ngulek, mau jualan lontong, nggak bisa masak, aku hanya sedikit pintar ngitung uang....hhffhhh.. Itupun uang orang, uang sendiri malah nggak ketahuan raibnya, debet kredit nya nggak pernah balance.. :D

Kolega yang kerja di kantor pusat di S'pore cerita bahwa manajemen sana banyak mengeluhkan upeti-upeti nggak jelas yang harus di bayar di negara antah berantah ini. Upeti nggak jelas itu malah lebih besar jumlahnya daripada biaya yang wajib, jelas dan resmi. Karena itulah, cabang disini mesti dibumi hanguskan, di peti matikan. :(

Kadang saya malu jadi WN sini. Tau kenapa? Soalnya pejabat kita sering tanpa malu minta jatah ke perusahaan-perusahaan asing. Sebagai orang yang duduk di bagian keuangan perusahaan, saya tahu persis lalu lintas aliran dana perusahaan kemana aja. Karena itulah banyak perusahaan asing yang pindah ke negara lain yang punya upeti lebih rendah. Dan saya miris karenanya.

Selama rentang 10 tahun saya bekerja di FTZ ini, saya rasa ada sekitar 20 perusahaan asing yang udah mengundurkan diri dan mencari negara lain untuk berinvestasi. Saya dengar sebagian besar dari mereka gulung tikar, ngungsi ke negara lain karena nggak tahan dengan upeti liar itu tadi.

Yang nggak habis saya mengerti, pejabat dari negeri antah berantah itu tanpa malu nelpon ke kantor dan bilang:
"Mana nih, THR nya...? Mentahan boleh atau 10 kes minuman ya Pak? Iya kami hanya 5 orang....bla..bla.."
Itu satu instansi, masih banyak instansi lain yang minta seperti itu.
Kalau udah dikasih, masih ngomel:
"Kok cuma segini sih, Pak? Bisa buat apa?" ck..ck..ck..

Ada lagi yang tanpa malu minta pulsa ke direktur saya yang WNA pas lagi makan siang di PS.
"Pulsa, Mister.. 100 ribu aja..." itu dalam sebulan bisa beberapa kali, loh! Mbok ya kalau nggak bisa beli pulsa, nggak usah punya hp, Pak. Ya nggak sih..

Kadang si direktur curhat sama saya: "Saya tadi diajak makan sama si anu, pejabat anu. Kirain mereka yang bayar, ternyata saya disuruh bayar. Udah gitu minta dibelikan rokok lagi..."

Yang lucu lagi, kadang ada yang datang dari suatu instansi yang kami tidak pernah berhubungan, tapi tetap minta jatah. Aneh.
Biasanya si Bos cerita begini: "Dewi, tadi ada orang jumpa di PS, minta beli rokok. Pakai baju seragam warna anu yang saya jarang lihat. Itu dari instansi mana? Apa kita sering berhubungan dengan instansi itu?"
Kalau saya jawab," Nggak, Pak. Nggak ada hubungan.. Kalaupun ada, jarang-jarang. Setahun mungkin cuma sekali atau semacam itu."
Si Bos paling mesem-mesem: "Mati, saya tertipu lagi.. Ha, semua orang sini suka uang, ha?" katanya dengan sinis. Sebagai gadis pemalu, saya jadi makin malu.

Belum lagi kalau ada impor/expor di hari libur, setelah bayar biaya-biaya yang memang resmi, mereka juga minta untuk mereka sendiri. Alasanya mereka harus datang dihari libur, rumahnya jauh, mesti beli bensin, makan pagi-makan siang-rokok-segala macam. Okelah, tapi minta jangan gila-gilaan dong! Bukan kecil, Coy. Mintanya 2 jeti. Mesti pandai-pandai nawar lah... Kalau nggak, barang nggak bisa keluar. Padahal, tiap bulan mereka juga kita kasih semacam under table fees, loh. Teratur setiap bulan. Semua perusahaan disini ngasih. Tapi tetap aja adaaaaa....lagi dana lain yang mesti dibayar dadakan diluar budget bulanan. Sungguh, tega!

Cerita lain lagi kalau ada visitor dari luar. Kadang dari kantor pusat ada yang datang kesini sekedar liat-liat keadaan pabrik. Ngecek mesin-mesin kalau ada yang ngadat. Atau cuma rapat-rapat kecil. Eh, malah ditanyain WP-nya. Kan mereka nggak kerja disini ya? Buat apa ngurus WP mahal-mahal kalau cuma datang sesekali? Aku bingung deh.. Akhirnya kita harus keluar under table fee lagi untuk setiap orang yang datang. Mainnya dollar, Coy. Rupiah nggak maen... Kalau memang untuk negara, boleh-boleh aja. Bagus, biar negara kita bisa bangun macem-macem. Lah, kalau masuk kantong pribadi?? Nggak rela, nggak rela...

Emang nggak semua pejabat sini sih, yang kayak gitu. Masih ada sebagian keciiiiillllll....yang masih punya harga diri dan gak mau jadi 'peminta-minta'. Tapi ada sebagian yang lebih besar diantara mereka yang nggak punya malu, norak, sok jagoan, minta duit sana-sini tanpa beban moral. Saya ngerasa mereka sama aja dengan peminta-minta alias pengemis atau pemalak. Hanya saja baju mereka lebih keren,  mobil mereka punya, hp paling mutakhir, pendidikanya lumayan tinggi. Tapi apa iya, karena kelakuan mereka yang kayak gitu akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan gara-gara investor asing malas nanam modal disini?

Huh. Capek deh...
Daripada mikir gituan, mending ngitung pesangon dulu ah...



Gambar dipinjam dari sini. Thanks

Senin, 20 September 2010

Tipu-tipu

Panas.
Didalam ruangan, satu dari dua AC ngadat nggak mau nyala. Diluar matahari meradang menunjukkan kedahsyatannya. Didepan pintu ruangan finance, Pak Kumis berdiri dengan wajah kejam dan mata sipitnya yang merah, eh mata merahnya yang sipit, eh...mana yang bener nih kalimatnya? Bodo ah!

Laporan ditunggu, siang ini!

Marah, kesel, laper, pengen kentut ampe keringatan..(dua terakhir itu kondisi tubuhku.. :) )
Pada saat yang menghawatirkan seperti itu, hp-ku berdering tiba-tiba tanpa liat-liat situasi.

Beberapa jenak, kubiarkan hp itu tetap melengking. Tapi buru-buru kuangkat ketika lirikan mata sipit Pak Kumis nancep dijidatku.

Aku        : Halo...
Si Bodo  : Halo... (Diam sejenak, aku menunggu kata-kata selanjutnya) Benar ini nomor 08sekian sekian...? (dengan logat cina)
Aku        : Hmm.. (mangkel dalam hati, emang tadi yang nekan tombol angka di hp lu siape?)
Si Bodo : Saya dari Telkomsel Batam, Ibu. Saya mau memberitahukan Ibu bahwa Ibu adalah pemenang Telkomsel point untuk periode bulan Agus 2010 ...bla..bla...plentang..plentong..ketepak..buk..! (menjelaskan dengan seksama dan dalam tempo yang sepanjang-panjangnya)

Dengan geram, aku diam mendengarkan bualan Si Bodo dengan emosi yang tertahan di ubun-ubun.

Si Bodo : Jadi untuk penyerahan hadiah dan sebagainya, Ibu diminta menghubungi Telkomsel pusat di Jakarta.
Aku         : Ngapain? (dengan suara yang di setting lugu sambil melirik Pak Kumis yg lagi marahin atasanku)
Si Bodo   : Jadi begini, Ibu ini kan pemenang, makanya Ibu diminta menghubungi Telkomsel Jakarta untuk proses selanjutnya seperti penyerahan hadiah dll (dengan suara di ramah-ramahin).
Aku         : Untuk apa?
Si Bodo   : Aduh, Ibu belum mengerti ya? (terdengar sedikit kesel)
Aku         : Nggak...nggak ngerti..
Si Bodo  : Ibu ini gimana sih..?? Nggak ngerti-ngerti juga ya? Ibu kalau mau ambil hadiah mesti telpon Telkomsel Jakarta, begitu Ibu!! (nyolot, volume suara meninggi)
Aku         : Ya iya, tapi saya nelpon kesana ngapain? Harusnya dong mereka yang nelpon saya.. Ibu dapat hadiah, hadiahnya akan kami kirim ke alamat Ibu, gitu. Ngapain juga saya yang nelpon kesana? Suruh aja mereka yang nelpon saya. Nggak masuk akal aja, sih! (ikutan nyolot).
Si Bodo   : Eh, Kau masih perawang tak? Kalau kau masih perawang..bla..bla..dag dig dug dhuerr...

Aku langsung matikan hp. Sebel. Lagian ngapain juga aku ngelayanin orang begituan yah? Heran deh..!

Tak lama, hp atasan ku berdenting pertanda sms masuk. Tak sampai 2 menit, dia sontak berdiri seperti orang kebingungan, trus bersabda:
"Dew, ada nggak ya karyawan kita yang jualan pulsa?"
"Ada lah, Pak. Orang ynag jual pulsa kan hampir sama banyak dengan orang yang punya hp," aku nyengir.
"Sapa Dew? Saya butuh pulsa nih.."
Aku nyebutin salah satu nama dan nomer extention. Si bos pun langsung nelpon dari telpon kantor sambil menatap layar hp-nya.
"Ria, tolong transfer pulsa 20 ribu ke nomer 08xxxx. Urgent yah? Kalau bisa cepat," pintanya sambil ngos-ngosan penuh nafsu.
Kemudian dia duduk di kursinya sambil tetap mlototin layar hp. Tiba-tiba dia sontak berdiri, neken tiga nomor extention di telpon kantor. Lalu bicara dengan lebih ngos-ngosan, lebih nafsuan dari yang tadi:
"Ria, tolong tahan dulu, jangan transfer dulu yah? Saya telpon istri saya dulu... Okeh..??"
Dia kembali duduk, mencet-mencet hp, lalu dideketin ke kupingnya.
"Halo, Ma.. Mama tadi minta kirim pulsa ya ke papa? Hah..? Nggak..? Iya, nomornya ini 081xxx. Iyah, makanya Papa tanya... Iya, papa tau nomor mama... Iya.. Tapi tadi kirim sms ke papa.. Iya, ya udah ya Ma ya.. Maaf papa ya... Udah ya..." dia menutup telpon, memandangku seperti bingung. Lalu bergegas mencet tiga nomor ext di telpon kantor:
"Ria, nggak jadi pulsanya yah..? Maaf ya..? Iya, sepertinya saya kena tipu.." dia nyengir.
Barulah aku ngeh, ternyata beliau menerima sms "mama minta pulsa" hingga grasak grusuk nggak karuan.

Akupun terpingkal-pingkal ketawa.
"Emang Bapak nggak tau kalau banyak tipuan kayak gitu, Pak?"
Si bapak tersenyum, tersipu," enggak.. saya nggak tau Dew.."
Aku terbahak-bahak sampai beleleran air mata.
"Bapak nggak gaul sih..... Suamiku udah dapat beberapa kali, Pak"
"Iya, istri saya sampai marah. Saya dibentakin: emang papa nggak tau nomer Mama, katanya. Emang siapa yang minta pulsa? Kalau mama ganti nomer kan papa pasti tau? Emang itu mama yang mana? Papa punya mama lain? Mati saya... Ntar malam pasti tidur di teras nih... Mending dikasih bantal, kalo nggak.."

Aku gagal menahan tawa.

Buat teman-teman, hati-hati ya, jangan gampang tertipu tipuan murahan kayak gini. Buat tukang tipu, mending jualan sate daripada nipu-nipu. Lebih terhormat dan lebih halal.



Rabu, 16 Juni 2010

Tawaran dari Pak Kumis

Beberapa hari yang lalu Pak Kumis nanyain apa gw mau ditarik ke kantor pusat di Singapore. Gw tertegun melongo. Nggak nyangka, kaget and surprise banget. Jujur, gw nggak pernah mimpi sampai sejauh itu. Gw nggak pernah mimpi kerja di LN. Walaupun LN-nya deket-deket aja. Dari Bintan hanya sekitar 45 menit ke S’pore. Tapi tetap aja itu bukan Negara gw dan gw nggak nyaman, gitu loh (kampungan amat nggak sih).

Saat itu, gw hanya ketawa, ngerasa Pak Kumis mungkin hanya bercanda. Tapi tadi pagi dia menanyakan hal yang sama kembali. Dan gw kembali tertawa.

“Why?” dia bertanya terheran,” kamu tak ingin grow up? Kamu ingin disini-sini saja sepanjang hidup kamu? Come on… “

“That’s not possible, Pak”

“Why?” kali ini dia memandangku.

Aku cengengesan,” Bapak hanya bercanda, kan?”

“No la…. Untuk apa saya bercanda. Kayak kecakepan aja kamu saya becandain. Kalau kamu mau tak apa, saya akan bicara dengan Finance Manager di sana. Kecuali jika kamu hanya ingin jadi orang ‘kecil’ dan tinggal di sini sepanjang hayat kamu dan membuang kesempatan ini.”

“I’m not confident,” hhhaa...akhirnya terucap jua…

“Why?”

(Alamaakkk…wai wai lagi.. Itu aja kosa kata yang dia punya kali ya?)

Ya iyalah, gw nggak confident, secara sekolah gw juga nggak tinggi-tinggi amat, nggak lebih tinggi dari Ucok Baba, dan rasa percaya diri gw emang kelewat rendah, hanya sedengkulnya Ucok Baba. Gimana gw mau pergi-pergi..? Ke luar negeri pulak! Kalau sekedar jalan-jalan sih nggak masalah, ini kerja di sana, bergaul dengan orang sana, bicara bahasa mereka, tinggal di sana, jauh dari keluarga gw tercinta. Apa gw mampu, gituh?

Kemudian Pak Kumis ceramah, tentang gw yang udah punya cukup banyak pengalaman di bidang gw, tentang umur gw yang masih muda dan punya banyak kesempatan untuk berkembang, tentang gw yang nikah dengan sesama karyawan di perusahaan dia yang sebenanarnya haram hukumnya menurut policy perusahaan. Maka dari itu dia ingin memindahkan gw dari sini.

“Kamu tau, orang finance itu memegang banyak hal yang bersifat rahasia sebuah perusahan, sebenarnya mereka tidak boleh menikah dengan sesama karyawan di tempat kerja yang sama, karena dikhawatirkan akan membocorkan rahasia perusahaan (perasaan, gw nggak pernah ngomongin masalah kerjaan ma suami gw di rumah, cos kita udah terlalu sibuk dengan 'kerjaan' lain :D ). Salah satu mesti keluar dan di sini kamu adalah pengecualian. Kamu dapat perlakuan istimewa, ha? Tapi konsekwensinya kamu tidak boleh mengetahui sesuatu yang sangat-sangat confidential, artinya kamu nggak bisa ke jabatan yang lebih tinggi. Nah, kalau kamu mampu, jadinya kamu yang rugi.”


Aku manggut-manggut.

“Tapi di sana kan, perusahaan ini juga Pak. Di sana induknya di sini anaknya. Artinya, saya tetap satu perusahaan dong, dengan suami saya meski beda negaranya. Emang boleh kayak gituh? Atau mungkin saya berhenti kerja aja kali, Pak,” jurus oon mode on.

“Kalau berhenti kerja kamu mau kemana? Ada planning yang lebih baik? Atau kamu ingin jadi ibu saja, duduk di rumah, menjaga bayi dan memasak? I don’t think so. Kalau kamu sudah terbiasa bekerja akan sulit bagi kamu menjadi ibu rumah tangga sejati. Lagian kalau kamu di sana, suami kamu tetap di sini, itu nggak masalah saya rasa.”

Begitukah? Saya merasa sebaliknya, Pak. Akan banyak masalah jika gw jauh dari suami gw. Kalau dia tersesat jadi Ariel, gimana?Kalo dia bikin video suparno dengan cewek lain, gimana? Siapa yang susah, gw atau bapak?
Jadi, gw pikirin dululah Pak, sembari berfikir, gw akan belajar dan berlatih lebih keras agar ilmu kanuragan yang gw miliki lebih digjaya sebelum gw turun gunung. Ciaat…!



“Dewi, mulai bulan depan kamu akan saya beri more responsibility, more important job. Kamu belajar yang keras, ha? “

Aku menatapnya, menunggu kata-kata seperti; more benefit atau more money atau more fulus.
Semenit.
Dua menit.
Tiga menit.

Kayaknya nggak bakalan ada, deh. Pak Kumis berjibaku melototin dokument yang gw sodorin beberapa menit yang lalu, kemudian dia tandatangan dibarengi bibir manyun-manyun mengikuti arah goresan penanya. Trus disodorin ke gw.

"Any more?"
Ada, Pak. More job it's mean more fulus, right?





Kamis, 03 Juni 2010

My name is Dewi

Ada request pending di FB gw, pas di buka ternyata dari Forum Antar Dewi. Hihihih… gw jadi cekikikan sendiri… Kok bisa ada forum antar Dewi. Kayak mau ngasih tau dunia kalau ada hampir separo penduduk Indonesia yang bernama Dewi.

Kenapa ya, kok nama Dewi laku keras di belantara nusantara ini? Kayak nggak ada nama lain aja. Kalau bokap gw masih hidup nih, gw mo minta diganti nama aja. Biar nggak ada yang nyamain nama gw. :)

Coba bayangin aja, Guys… Ketika SMA, satu kelas ada dua nama Dewi. Yaitu gw dan teman akrab gw: Dewi Susanti.


Ketika merantau ke Kepri dan bekerja di sebuah kawasan industri, gw berbagi kamar dan berteman dekat dengan seorang Dewi Khairul. Kemana-mana kami berdua, sehingga dipanggil Dewi kuadrat.

Lalu, si Dewi teman gw pulang kampung ke Payakumbuh. Selang dua tahun kemudian, gw pindah kerja dan tinggal di sebuah dormitory (mess) perusahaan, masih di kawasan yang sama. Tak lama tinggal di situ, masuk lagi seorang Dewi, sekamar lagi sama gw. Yang ini gw lupa nama lengkapnya. Dewi yang ini berkulit gelap, jadi kalau ada yang nyari “Dewi” teman-teman pada nanya:

“Dewi mana, Bang? Dewi item pa Dewi putih?” hihihihi….

Kalau yang dicari Dewi putih, maka gw akan keluar dengan sumringah… Soalnya, meski gw nggak putih-putih amat, tapi dibanding Dewi satunya, gw jauh lebih terang. *sorry Dew*


Trus, karena gw naik pangkat sedikit, gw pindah ke lain dormitory. Tahukah Anda apa yang terjadi? Sekitar 2-3 tahun kemudian datang lagi Dewi baru, yang akhirnya satu divisi sama gw di finance. Nama lengkapnya “Rosmala Dewi” Para orang-orang terdekatnya memanggil dia “Dewi”, tapi karena di kantor udah ada gw, dia jadi ganti nama panggilan “Ros” hahaha…. Sekarang Ros udah resign, tinggallah di finance gw sendirian merajalela dengan nama Dewi.


Nah, di perusahaan yang sama, gw hitung-hitung ada sekitar 10 orang bernama Dewi. Untung kita nggak saling kenal. Cuma kalau ada manggil “Dewi” ketika karyawan lagi rame ngantri absensi, misalnya, beberapa kepala akan menoleh kea rah si pemanggil. Gw kadang bingung, yang dipanggil dewi yang mana? Solusinya, gw kadang pura-pura budek aja sampai ada seseorang nyolek gw dan bilang kalau yang dicariin adalah gw.


Cerita lain lagi nih, dulu gw punya cowok yang punya kakak cewek bernama Dwi. Tapi tetap aja dipanggil Dewi. Nah, supaya memudahkan anggota keluarga, namaku ditambahin dengan embel-embel nama cowokku itu.

Cerita dilanjut nih, akhirnya gw nikah sama suami gw yang sekarang ini nih, tapi waktu dikenalin sama keluarga besarnya, kami semua tertawa geli, ternyata banyak amat nama Dewi di keluarga ini. Alamak… Bayangin deh, anak kakaknya punya panggilan Dewi, tunangan sepupunya punya nama Dewi, adek ipar abangnya juga Dewi.

Oh My God…!


Gw nggak mau ngitung berapa orang bernama Dewi yang gw jumpai di pasar. Silahkan Anda hitung sendiri kalau berkenan… :)
Eh, iya.. ada berapa orang Dewi-kah di sekitar Anda? :)