Kamis, 11 Agustus 2016

Surat Cinta Untuk Suamiku

Credited
Hai Sayang..

Ini hari ke 60 sejak terakhir kali aku melihatmu. Dan baru tadi malam kamu datang dalam mimpiku. Kenapa lama sekali? 

Apa kabarmu hari ini?

Semua baik-baik saja, kan? Kau merindukan kami? Kami juga rindu padamu.. Sangat rindu. Apalagi sejak tiba di rumah ini. Setiap kali pulang kerja, aku membayangkan kau ada di rumah, menyambutku di depan pintu sambil tersenyum

“Assalamualaikum..”

“Alaikum salam, Mama sayang.. Capek ya?” lalu kau akan mengambil tasku, membawa masuk. Aku akan duduk sebentar, lalu kamu akan bilang,“itu teh mama dekat dispenser.. Diminum dulu ntar keburu dingin...” 

“Ya, makasih papa.. I love you..”

“I love you too..”

Sekarang tak ada lagi teh hangat sepulang kerja. Yang ada kini hanya mataku sering terasa hangat bila ingat masa-masa indah itu..

Kau tau, sejak tiba di rumah ini, Valeska sering menangis diam-diam, hampir setiap tengah malam, saat aku sudah hampir tertidur. Aku menguatkan hati untuk menghiburnya, untuk tidak ikut menangis. Tapi begitu dia berhenti menangis, air mataku justru menetes pelan-pelan..

Kata gurunya, di sekolah dia sering menangis tiba-tiba,  Kemarin saat sedang belajar, tiba-tiba nangis. Trus saat shalat dhuha esok harinya dia nangis lagi. Untung guru-gurunya baik dan sabar. Aku rasa dia lebih sedih ketimbang yang terlihat karena kepergianmu. Karena kalian berdua sangat dekat, sih.. 

Aku berharap kesedihannya akan hilang seiring waktu. Setiap malam sebelum tidur, aku mengajari Valeska untuk mendoakanmu. Kadang-kadang dia sudah mulai berdoa sendiri sebelum kusuruh. Dia sudah hampir hapal doanya.. Alhamdulillah.. Mudah2an dia jadi anak yang shalehah agar doanya untukmu diijabah ya, Sayang..

Sayang, apa kau nyaman disana? Aku selalu berdoa semoga engkau mendapatkan tempat yang indah disisi Nya. Aku masih menangis sesekali. Kadang di jalan saat melaju menuju kantor, kadang saat melepas Valeska ke sekolah. Begitu dia masuk gerbang dan melambai, aku selalu merasa sedih memandang punggungnya.. Aku juga menangis setiap kali mendoakanmu. Oh..ya, maaf, aku juga menangis saat menulis surat ini. 

Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu..

Aku senang disaat-saat terakhir kamu masih sempat bilang ‘I love you’ padaku. Kamu melingkarkan tangan dipinggangku saat aku menunduk membersihkan luka diperutmu. 

“Kasihan mama.. Capek. Harus jagain papa sambil kerja terus. Kurang istirahat.. “

Aku bilang, “ papa lebih kasihan, harus sakit lama gini. Yang sabar ya, Pa.. Sakit papa untuk penggugur dosa papa sekaligus untuk ladang amal bagi mama. Kita harus sabar ya.. Allah tau yang terbaik untuk kita..” 

Kamu memandangku sambil bilang,” iya.. Insya Allah.. Makasih sayang..”

Aku tau kau sangat menyayangi kami berdua seperti kami menyayangimu juga. 

Aku pernah bilang aku sangat bersyukur memilihmu jadi suami kan, Sayang? I mean it! Dimataku kau sempurna sebagai seorang manusia. Terlalu sempurna hingga Tuhan ingin memanggilmu secepatnya. Kau taat beragama, ganteng, ramah, sayang keluarga, setia dan suka menolong siapa saja, berteman dengan siapa saja.. See? Kau terlalu sempurna untuk hidup di dunia, Sayang. Jadi Tuhan memanggilmu kembali. Lebih cepat dari yang kuduga..

Padahal aku sudah memohon, merendah-rendah, menangis agar Dia mengijinkan aku meminjammu sebentar lagi. 

“Pinjamkan aku dulu ya, Allah.. Aku mohon pinjamkan aku dulu, suamiku ini. Beri kami waktu lebih lama untuk membesarkan putri kami bersama. Pinjamilah aku dulu mungkin untuk 20 tahun atau 10 tahun lagi.. Ijinkanlah dia sembuh, mohon angkatlah penyakitnya. Panjangkanlah usianya. Berikanlah sebuah keajaiban untuk kami ya, Allah..”

Aku benar-benar berdoa seperti itu. Dengan bahasaku sendiri. Saat siang dan malam hari, bercucuran air mata, diatas sajadah, disela-sela kerja, saat melaju di jalan raya, di dapur..dimanapun aku ingat, aku berdoa seperti itu..

Tapi Dia tidak mengijinkanmu tinggal lebih lama.. Dia ingin kamu tinggal bersamaNya. Beristirahat dari kesibukan dunia. Aku mencoba untuk mengikhlaskanmu. Ketimbang melihatmu terbaring sakit sepanjang hari, lebih baik kamu disana. Di tempat yang Insya Allah lebih tenang dan damai.

Aku berharap kelak kita akan bertemu lagi. Disebuah tempat yang lebih indah. Dengan cinta yang lebih abadi. Karena aku masih belum puas hidup bersamamu. 

Sayang, maukah kau menungguku di pintu sorga? Semoga Allah membukakan jalan untuk kita kesana. Aku berdoa dan berusaha memperbaiki diri agar lebih pantas. Ku mohon tunggulah aku. Biar kuselesaikan tugasku dulu. Membesarkan anak kita dengan baik agar kelak dia jadi orang yang disayang Allah. Agar kita bisa bersama lagi. Semoga!

Udah dulu ya, Sayang..

Datanglah lagi dalam mimpiku malam nanti. Dengan wajah tampanmu yang selalu penuh senyum itu.

I love you forever..

17 komentar:

  1. Aamiin, semoga kelak bersamaan masuk kedalam surga...

    BalasHapus
  2. Aamiin...mba dewi kuat, pasti bisa membesarkan vales walaupun sendirian. semoga vales jadi anak yg sholehah...Aamiin...

    BalasHapus
  3. Insyaallah mba dewi selalu diberi kekuatan dan kemudahan membesarkan valeska aamiin

    BalasHapus
  4. Hiks...aku bisa ngerasain suasananya.
    Peluk Mama Vales..

    Insyaallah dikuatkan ya, Allah ngasih yang terbaik buat Papa Vales.
    Dan akan menghadirkan yang terbaik buat Mamanya Vales jga.

    Semangat !


    BalasHapus
  5. Ya Allah..Kak..terharu dan sangat sedih, ikut merasakan apa yang kakak rasakan...semoga Kakak dan Valeska diberi kekuatan lebih dan kebahagian lebih, serta buat Mas Bambang semoga selalu berada disisi Allah.Swt.

    Selalu kuat dan sabar ya kak...karna Valeska sangat2 butuh kakak.

    BalasHapus
  6. Terharu bacanya mbak aku sampai berkaca-kaca. Banyak kenangan indah bersama ya. Isnya Alalh Mbak Dewi & Vales kuat. Suami sudah emndapatkan tempat yang terbaik disana. Peluk Mbak Dewi

    BalasHapus
  7. Mbak Deeeew, aku nangis bacanya. Yang kuat ya mbak, peluk jg untuk Vales, Insyaalloh kalian bertiga akan dipertemukan lg di surgaNya kelak. Aamiin

    BalasHapus
  8. Nangis aku bacanya mba, hiksss.. jd ikut merasakan seandainya aku yg tulis surat itu, mungkin aku gak akan setegar mba Dewi. Yg kuat ya mba, peluk valeska juga, insya Allah dikumpulkan lg dlm suasana yg indah di syurga-Nya Allah, Aamiin #bighug

    BalasHapus
  9. panjatkan doa wie,kalau dia dateng d mimpimu,,

    BalasHapus
  10. Peluk Tante Dewi...
    Peluk Kakak Vales...

    BalasHapus
  11. mendoakan yang terbaik buat dirimu dan Vales ya..
    semoga kalian semakin tabah dan kuat

    BalasHapus
  12. Jeng dewi maaf yach ak baru tau kbr ini skrg.....turut berduka cita yach....smoga arwah papa vales diterima disisiNYA...dilapangkan kuburnya....diampuni dosa-dosanya....dan kelak bisa berkumpul lg....aamiin YRA....

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...