Jumat, 16 Oktober 2009

Ada apa dengan Valeska?



Putri mungil ini Valeska namanya, putri pertamaku. Sekarang sudah berumur 1 tahun 8 bulan. Setiap hari dia ku tinggal dirumah bersama neneknya (mamaku) karena aku dan suami bekerja.

Valeska tumbuh sehat, jarang sakit. Paling cuma flu dan batuk. Bawa ke dokter, 3 hari sembuh. Lebaran kemarin adalah sakit terlama yang dialaminya; 1 minggu.
Yang menghawatirkan diriku adalah, sampai sekarang dia belum bisa bicara sepatah kata pun. Hanya bisa berceloteh tak jelas kayak gini:...teket..teket..teket...jekha..jeka...

Tapi kalau aku bilang:
" Ayo sayang, kita hitung jarinya dulu...," dia langsung sodorkan kakinya. Lalu aku mulai menghitung sambil memegang jari dia satu persatu:
"Satu..."
Dia tertawa.
"Dua.."
Dia kegelian, makin terkekeh kekeh, sampai hitungan kelima tawanya berderai...

Aku risau, tentu saja! Tak usah ditanya lagi.
Setiap saat ku ajak dia bicara, begitu juga dengan papa dan neneknya. Dan dia mengerti, tapi tetap tak bisa bicara, walaupun hanya sekedar "mama"

Tetangga sebelah rumah punya anak yang lahir ketika Valeska berumur 6 bulan. Sekarang sudah bisa panggil "mama" dan "papa". Kalau diajak ngobrol juga bisa, walau kata-katanya belum jelas... Diajak perang mulut juga oke, hehehe...tentu saja dia pake bahasa yang hanya di mengerti oleh dia seorang... Tapi kalau manggil mama-papa, fasih banget, udah!

Aku ngiri. Sumpah! Kenapa anakku belum bisa ngomong? Belum bisa manggil "mama"? Apa dia nggak tau, aku pengen banget denger dia manggil "mama.." sambil mengulurkan tangan minta digendong...

Satu lagi yang membuat hatiku risau tak tertahan, Valeska tak mau "berbaur" dengan anak-anak sebayanya. Jika sore hari ngumpul di depan rumah sama anak-anak tetangga, dia malah asyik sendiri. Berlari kesana-kesini, sibuk sendiri dan tak mau diam.

Aku sering bertanya-tanya: Apa anakku autis? Aku sungguh berharap, tidak.



Oh, Sayang...
Ada apa dengan kamu, Nak..?

Kamis, 01 Oktober 2009

Ranah Minangku menangis

Nggak tau mo ngomong apa....
Tenggorokan rasanya sakit manahan ledakan tangis...
Tuhan, berilah kami kekuatan menghadapi cobaan ini...













Foto-foto diatas dicopas dari sini:
~ detikfoto
~ auliahazza.belajar-islam.com
~ bintangsatria.wordpress
~ buatankami.blogspot
~ ivanatm.wordpress
~ kabarindonesia
~ pojokjambi-dunialain

Selasa, 29 September 2009

Valeska



Selama liburan kemarin, hari-hariku dipenuhi dengan acara gendong-menggendong Valeska. Tiap detik pokonya.. "tak gendong kemana-mana," deh..
Iyah, masak lebaran pake acara demam segala, Say.... Ibunya nggak bisa ngapa-ngapain, nggak bisa kemana-mana.

Sebenarnya aku juga sih yang salah. Gimana nggak salah coba, udah tau anaknya demam masak masih dipaksain keliling ke rumah sodara and tetangga.

Jumat sebelum lebaran, aku tuh masih masuk kerja full (aneh gila kantorku ini). Pulang kerja dia masih berdiri menyambutku di depan pintu seperti hari-hari biasa.

Mamaku langsung lapor:
"Tadi siang badannya panas...."
Kuraba dahinya, emang panas.
" Ini udah turun, tadi lebih panas," mama menambahkan laporannya.

Besoknya (sehari sebelum lebaran) panas badannya udah turun karena dikasih Mama obat turun panas, (ya iyalah, masa dikasih obat turun berok, gela lo!)

Aku happy.
"Besok kita lebaran ke rumah Mbah ya, Sayang... Jangan sakit lagi ya..." bujukku.
(emang bisa penyakit di bujuk???)

Esoknya, pagi-pagi buta (terlalu hiperbolic) habis sholat Subuh, Valeska ku mandikan, ku dandani dan ku pakein baju baru nan cantik (kan lebaran...)
Udah kelar gitu, aku mandi dan ikutan dandan (iyalah...masak kalah ma anaknya, kan nggak lucu anaknya pake baju cantik maknya lusuh, ntar dikirain pembokat..)

Selesai sholat Ied di mesjid dekat rumah dan disambung sungkeman plus nangis-nangisan sama Mama, kami berangkat ke rumah Mbah-nya Valeska alias Ibu-Papanya alias mertuaku (ribet banget sih..)

Sehabis sungkem ma mertua, kami keliling ke rumah tetangga disana. Sore baru pulang.
Mungkin karena kecapekan, malamnya Valeska kembali panas. Dikasih obat turun panas, paginya kembali adem. Nah, goblognya aku, sore hari di lebaran kedua itu, aku ajak lagi dia keliling ke rumah-rumah tetangga. Aku pikir kan, ah deket-deket sini ajah... Padahal mama udah wanti-wanti:

"Habis dari rumah Pak RT, langsung pulang, ya. Antar dia pulang dulu kalau kalian masih mau kemana-kemana," teriak mama.
"Iya.." jawabku.

Nah... malamnya, jadi deh tuh. Badannya bukannya panas lagi tapi panaaaaass...banget. Aku ketakutan, takut dia step atau apa. Buru-buru kami ke dokter sehabis sholat Isya.

Mulai malam itu hingga hari-hari selanjutnya, aku ronda gantian sama misua. Anaknya nggak mau di tidurin di kasur, maunya digendong aja, udah gitu yang nggendong nggak boleh duduk, harus berdiri. Nggak peduli lagi ada tamu pun, aku terpaksa berdiri aja sambil nggendong (nggak sopan amat sih...). Kalau coba-coba duduk, dia menangis njerit-njerit (untung tamu-tamu pada ngerti). Jadilah pinggang rasa nak patah, bahu pegel, betis bengkak dan tumit rasa nak pecah.

Itulah hadiah lebaranku tahun ini. Jangan tanya capeknya.
Untung (lagi) sehari sebelum masuk kerja, Valeska udah baikan dan yang penting udah mau tidur dikasur. Kalau nggak, terpaksa kontrak gendong di perpanjang. Kan nggak tega kalau mamaku harus nggendong dia seharian sampai misua dan aku pulang kantor....

Kamis, 10 September 2009

Dengarkan curhatku (Bukan lagu)

Aku bilang, aku mencintai-MU, aku akan mengikuti apapun yang ENGKAU mau. Tapi aku tidak bisa menahan diri, saat menjumpai-MU dan saat bicara pada-MU, aku selalu mikirin yang lain...
Tidak! Itu bukan mauku...
Tapi ada yang merayuku untuk tidak mengindahkan-MU, dan buruknya, aku sering terpedaya oleh rayuannya... Dan sedihnya, ENGKAU selalu memaafkan aku dan memperlakukan aku dengan baik dan tetap memberikan apapun yang aku butuhkan....

Bagaimana ini....??

Aku bilang, dihatiku hanya ada KAMU, tapi setiap ENGKAU meminta waktuku 5 menit saja untuk setiap pertemuan, hatiku malah sibuk berkata-kata sendiri, membayangkan yang lain, memikirkan yang lain.
Sebenarnya itu juga bukan mauku.... Dia yang selalu datang menggodaku... Dan aku selalu terpedaya. Betapa lemahnya aku...

ENGKAU membenciku karena itu.........???

Ternyata tidak, ENGKAU selalu punya maaf untukku dan selalu menerimaku setiap aku datang lagi dan lagi pada-MU.

Sekarang, lihatlah aku, hidupku penuh kekecewaan. Mungkin ENGKAU ingin menguji kesabaranku dengan ini ataukah ENGKAU telah pergi dan meninggalkan aku...???

ENGKAU tau, awal tahun ini aku dipromosikan oleh bosku untuk jabatan yang lebih tinggi. Tapi kulihat angka di slip gaji pada bulan berikutnya hanya selisih sedikit saja dari bulan sebelumnya. Aku sangat kecewa. Biasanya kalau promosi itu naik gaji bisa mencapai 800 ribu-an.

Bosku kemudian menjanjikan akan ada adjustment lagi pertengahan tahun ini. Tapi lagi-lagi aku kecewa, selisihnya lebih sedikit lagi dari selisih bulan kemarin yang ditunjukkan slip gaji bulan ini yang sangat ku benci...

Uuhhhh.... ENGKAU lihatkah...???
Aku manangis.... Aku tidak pernah menangis sebelumnya. Berapapun aku terima, aku syukuri. Tapi kali ini aku betul-betul kecewa. Sangat kecewa. ENGAKU kan tau, aku butuh dana untuk membawa mama yang sakit berobat ke dokter yang lebih baik, aku butuh dana untuk membiayai kuliah keponakanku yang ditinggal kawin oleh ayahnya, aku butuh dana untuk tabungan masa depan anakku yang masih bayi, biar nanti dia bisa sekolah yang lebih tinggi dari aku dan punya hidup yang jauuuuhhhh... lebih baik dari ibunya ini...

ENGAKU tau, aku malah tak sempat memikirkan diriku sendiri.
Setiap gajian aku hanya memikirkan, apa gajiku bulan ini cukup untuk mereka... Lihatlah tubuhku, sudah kurus kering kerontang dihajar cobaan demi cobaan...

Setiap kali berangkat kerja, aku takut membayangkan mama tergeletak sakit dirumah, merintih sendiri, kemudian ENGKAU memanggilnya karena sayang-MU padanya, sementara dirumah hanya ada mama dan bayi berumur 17 bulan...
Dan setiap kali melihat mama tersenyum menyambutku pulang, aku bersyukur bahwa mama ternyata masih ada disini bersamaku, masih sanggup melakukan aktivitas biasa, masih cukup kuat walau kadang sambil menahan sakit di perutnya.
Dan setiap kali pula, aku berdoa semoga gajian bulan depan bisa membawa mama berobat hingga sembuh..........

Dan karena itu aku kecewa.
Sangat kecewa. Sangat sangat sedih....

Aku yakin ENGKAU tidak membenciku, ENGKAU tidak meninggalkan aku, ENGKAU selalu menyayangiku meskipun di setiap shalatku aku kadang tidak fokus padamu, tidak fokus pada shalatku hingga aku kadang lupa, ini sudah rakaat ke berapa? Iblis itu selalu menampakkan berbagai masalah hidup didepan mataku setiap kali aku sedang beribadah pada-MU. Aku mohon, jauhkanlah aku daripadanya.

TUHAN, Apakah ENGKAU mendengar doa-doa ku? Aku percaya ENGAKU mendengarnya, dan ENGAKU akan memberi yang terbaik untukku. APakah yang terbaik itu adalah mengabulkan semua permintaanku atau tidak, hanya ENGKAU lah yang tau.

Hanya saja, jika inilah yang terbaik bagiku ya TUHAN, berilah aku kekuatan menghadapi segala kesulitan ini, beri aku kesabaran yang luas seluas samudra, beri aku hati yang tentram...

Jumat, 07 Agustus 2009

Dari Jacko hingga Mbah Surip

Aku ini orang paling sok sibuk didunia.
Nggak sempat masak lah... nggak sempat nyucilah... nggak sempat nyetrika lah... nggak sempat update blog lah... Tapi selalu ada waktu untuk tidur. Palagi kalo libur kerja. Niatnya pas libur mau ngenet seharian, posting di blog, blogwalking, ber-FB ria, ee... yang ada malah malas-malasan diatas kasur di depan tipi ditemani kacang garing buatan emakku. Mandi pagi jam 12 siang, nggak mandi juga nyantai aja. Paling misua duduknya jauh-jauh-an kayak yang musuhan.

Dulu orang pada sibuk nge-blog aku tertarik ikutan blog-blogan. Gayaaa...gitu, bikin blog ampe dua. Yang ada, blog satunya jadi "amat sangat terbengkalai" dan atunya lagi "cukup terbengakalai".

Kalo blog yang ni, ini masuk kategory "cukup terbengkalai" Kadang-kadang di update kadang dianggurin ampe lumutan. Nah, yang atunya, jangankan mau update postingan, dilirik aja dah nggak pernah. Padahal aku dulu janji hanya 2 bulan aja me-non-aktifkannya. Yang ada udah hampir 4 bulan di cuekin...hiks..hiks... kasihan..

Waktu Jacko "lewat", aku dah buat planning tuh, mau nulis tentang dia diblog. Baru nulis beberapa baris, malas mo ngelanjutin. Mati gaya. Udah, disimpan aja di draft folder dolo, besok-besok dilanjutin. Eh, akhirnya kelupaan posting karena sibuk dengan kerjaan. Sekarang mau di postingpun dah tak ada guna. Orang dah lupa ma kematian Jacko, habis Mbah Surip keburu nyalip sih.... Sekarang orang pada sibuk nyanyiin "Tak gendong kemana-mana.." nggantiin "You are not alone..."-nya Jacko.

Bukan itu aja dosaku didunia per-blogan, sodara-sodara.
Alkisah ada seorang dara centil yang memberiku 2 award. Ntah setan dari mana yang berhasil membujuk dia untuk memberi award itu kepada diriku ini. Ampe sekarang blon diposting tuh. Masih tidur lelap di draft folder, nggak enak mau mbangunin. Ntar malah rewel...hihihi.. Maaf ya Yo...

Aku tak bermaksud apa-apa sih nulis beginian, bukan mau mbujuk Yoan supaya memaafkan daku sebelum bulan puasa, mumpung server di kantor lagi ngambek, aku bisa deh curhat begini disini (moga aja Yoan mengerti..hihihihi..). Habis bingung mo ngapain, tadi udah buka FB, nggak ada yang menarik, trus buka detik.com, trus jadi keinget kalo gw punya blog... Jadilah daku disini, menulis tak beraturan begini, nggak tau ujung pangkalnya. Yang penting nulis aja...

(Ditulis sambil menahan gemetar karena AC-nya dingin banget niy....hhhrrrr..)

Selasa, 23 Juni 2009

I love you, Mom...

Base on true story:
Selasa, 12 May 2009

(just for share, buat ngingatin yang masih punya mama, karena kita nggak tau sampai kapan beliau masih akan bersama kita. So, jangan sakiti hatinya...)

Listrik mati lagi.
Senja mulai temaram, aku duduk didepan rumah nungguin mama dari beli lilin di warung tetangga sebelah. Azan magrib mulai menggema bersahut-sahutan. Mama tak kunjung kembali.

Ketika azan magrib berhenti menggema, kulihat mama berjalan bergegas dari arah warung.
“Kok lama, Ma?” tanyaku.
“Mama mampir ke rumah Ibu Siti yang didekat warung.”
“O….”aku kedalam, menyalakan lilin.
“Ibuknya Bu Siti meninggal,”kata mama tanpa diminta.
“Ha? Kemarin masih jalan-jalan,”bantahku.
“Emang habis jalan-jalan nggak bisa meninggal. Bisa aja kan, anytime-anywhere orang meninggal?” mama meradang. Hihihi…
Aku nyengir. Tul juga!
“Meninggal kena apa Ma? Maksudnya, beliau kan nggak sakit gitu lo, Ma”
“Perahu yang ditumpanginya tenggelam dilaut, dihantam badai jam 2 malam kemarin.”
Aku kaget.
“Emang mau kemana si Mbah?”
“Mau pulang ke Jambi berdua sama Mbah Kakung, nggak ada yang nganterin, nggak dikasih sangu. Kasihan betuuulll…..si Mbah,” Mama berkaca-kaca.
“Kok naik perahu sih, Ma? Nekad banget….” Aku jadi ikutan sedih.
“Lah, yang murah Cuma perahu. Mau naik kapal nggak ada uang, naik pesawat apalagi. Makanya si Mbah naik perahu sayur yang mau ke Sumatera sana. Penumpangnya Cuma 17 orang. Yang meninggal 2 orang, si Mbah sama satu anak kecil. Mbak Kakung selamat karena pegangan sama kayu pecahan kapal. Si Mbah lepas dari pegangannya,” Mama bercerita sambil melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian beliau shalat magrib. Aku menyusul.

Pada kenal Ibu Siti, nggak? Bukan Ibu Siti Nurhalizah yang terkenal itu, bukan pula Siti yang penyanyi dangdut.

Nih, dengerin…
Ibu Siti itu tetanggaku, berasal dari Jambi. Disini tinggal bersama dua anak gadisnya dan satu anak lelaki. April lalu, salah satu anak gadisnya itu menikah. So, diajaklah saudara-sanak-famili mereka untuk datang kesini meramaikan acara. Termasuklah kedua orang tua Ibu Siti. Kami disini memanggil beliau Mbah.

Setelah acara pernikahan selesai, si Mbah pengen pulang ke kampungnya di Jambi sana. Tapi Ibu Siti dan anak-anaknya tidak pernah mengijinkan, bahkan si Mbah dimarahi setiap hari (gw heran, kok doyan ya, marahin Mbah-mbah…). Pernah si Mbah nangis-nangis minta pulang. Dia bilang udah kangeeennn… banget.
Ibu Siti malah bilang:
“Jangan kayak anak kecil gitulah Bu, pake nangis segala. Udahlah!” di bentak gitu deh..
Pernah juga ibu yang punya warung jadi saksi mata ngeliat si Mbah nangis sendirian dikamar belakang sambil makan nasi tanpa lauk, sementara Ibu Siti pergi ke warung nasi beli lauk ayam dan makan sendiri, nggak nawarin Ibu-nya. Tragis banget ya?

Untungnya si Mbah punya suami penyayang yang selalu mendampinginya walaupun beliau tetap tak mampu melawan Ibu Siti yang notabene adalah anaknya sendiri. Mbah Kakung ini suka ngajak istrinya jalan-jalan sekitar komplek sambil gandengan tangan dengan mesra.

Hingga, hari Minggu kemarin, sehabis jalan-jalan pagi si Mbah bilang ke Ibu Siti dan anak-anaknya bahwa dia ingin sekali pulang ke Jambi.
“Pulang aja kalau Ibu punya uang,”jawab Ibu Siti.
“Iya, Mbah, nanti kalau sudah gajian saya akan kirim uang untuk Mbah dikampung,”timpal si Eneng anaknya Ibu Siti.

Karena kepengen banget pulang, si Mbah berdua suami tercinta nekad pulang dengan uang pas-pasan. Cuma cukup untuk ongkos di jalan doang.
Bersama 13 orang dewasa, dua orang anak-anak beserta awak kapal mereka menumpang kapal kayu kecil untuk menyeberang dari pulau Batam ke Sumatera sana. Ongkosnya lebih murah walaupun resiko lebih besar. Tapi si Mbah nekad, karena mungkin kangen pulang atau mungkin nggak betah tinggal dengan anaknya disini.

Kapal kayu itu berangkat tengah malam dari Batam. Baru berjalan sekitar 2 jam, kapal dihantam gelombang. Air mulai masuk ke dalam kapal. Mbah Kakung memeluk erat istrinya. Si Mbah terus-terusan menciumi pipi suaminya.

Pada hantaman ketiga, mereka terlempar terpisah. (Penumpang yang sudah sepuh hanya mereka berdua, aku nggak tau apa kapal tersebut punya pelampung dan mereka nggak kebagian? ) Mbah Kakung sempat disodori sepotong kayu oleh seorang penumpang:
“Mbah, pegang kayu ini, Mbah ya… Jangan dilepas ya, Mbah..”

Mbah Kakung terapung-apung ditengah laut dimalam gulita, beliau diselamatkan oleh sebuah kapal ferry jam 10 keesokan harinya. Mayat istrinya ketemu jam 2 siang dihari yang sama.

Tadi malam kami mendengar Ibu Siti menangis meraung-raung, menangisi kepergian Ibunya yang tragiskah? Atau menangisi dirinya yang malang yang tak sempat meminta maaf pada Ibu yang melahirkannya dan telah dia lukai hatinya berkali-kali?

Subhanallah, aku berharap tidak pernah melukai hati mamaku, mungkin aku tidak bisa membuatnya bahagia, tidak bisa memberi mama uang karena gajiku pas-pasan, tidak bisa membalas segala hal yang telah beliau lakukan untukku, tapi aku sungguh berharap, jangan sampai mama menangis karena perkataan dan perbuatanku. Jangan sampai beliau pergi tanpa aku sempat minta maaf padanya.

I love you, Mama….

(ditulis dengan terburu-buru, di terbitkan dengan lebih terburu-buru, kerena gw lagi kelaparaaaannnn...banget, sementara aroma nasgor begitu menggoda hati. So, kalo ada kata yang salah, jangan disimpan didalam hati, biarin aja tetap mejeng di layar komputer. God bless you, readers...)