Tampilkan postingan dengan label Valeska. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Valeska. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2016

Perang Hati

“Ibu tidak perlu jemput Valeska, biar ikut pulang sama saya saja. Ibu jaga bapak saja di RS. Yang sabar ya, Bu...”  Seketika, sejumput sedih dan sekeping lega diaduk dalam mangkok yang sama; di hatiku..
...sebelumnya... 

Sejak akhir tahun 2014, sebanyak 3-4 hari dalam sebulan Papa Vales dapat dipastikan mengalami diare dan muntah2 serta perut yang terasa begah alias penuh banget kayak orang kekenyangan. Padahal makannya sedikit. Setiap kali cek ke dokter langganan selalu dibilang sakit maag. 

Akhirnya, kami pergi ke dokter lain, dan beliau mencium ketidakberesan.

“Saya kasih bapak obat untuk 5 hari, kalau nggak ada perubahan saya kasih rujukan ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut,” titahnya.

Selasa, 05 Februari 2013

November Rain, Desember Kelabu dan Januari Biru

Sejak bulan November itu, hujan hobi banget turun ke bumi. Sejak bulan November, mama terkapar sakit dan tak pernah tersenyum. Sejak bulan November Valeska ditempa jadi anak sabar dan tabah, coz tiap hari harus ikut ke kantor, kadangkala kena hujan atau panas, kena angin kena debu, tidur siang di atas kursi atau di samping filing cabinet, atau kadang tak tidur siang sama sekali, lalu pulang kerja terkantuk-kantuk diatas motor, tak jarang sampai tertidur dengan kepala sering berkorban perasaan gegara kejeduk stang. Mama Vales mesti siapkan seat belt berupa sebuah kain jarik untuk mengikat tubuh Valeska biar nggak terlalu ndolosor jikalau mendadak tertidur tanpa terencana dan tak terlalu keras jikalau terpaksa terantuk stang menjulurkan lidah

Selasa, 16 Oktober 2012

Anakku Bukan Urusanmu

*Ini edisi curhat, lewatkan! Nggak penting blas!*

Kadang aku berharap punya mama yang agak rada judes, bukan diem-diem kayak mamaku ini. Sering jika aku pulang kerja mama mengadu tentang tetangga yang seringkali bicara nggak ngenakin tentang Valeska (ada  satu tetangga yang super reseh, untung hanya satu berpikir). 

"Mama disindir, katanya Valeska dipenjara, dikurung di rumah."
"Trus mama jawab apa?"
"Nggak jawab apa-apa. Ngapain dijawab. Masak mama harus jelasin panjang lebar, bahwa Vales itu nggak mau keluar karena asyik main komputer atau kalau keluar ntar dia lari jauh-jauh hingga mama nggak sanggup ngejar. Males ah, ngomong panjang-panjang," kata mama santai, tapi mukanya keliatan kesel juga.

Selasa, 18 September 2012

Mengurai Rindu

Sebenarnya, aku lagi malas ngapdate blog. Tapi rasa bersalah membawaku kemari. Kasihan banget blognya dicuekin begini. Jadi meskipun tengah asyik melahap novel Trilogi Accros The Nightiangle Floor, ku bela-belain kemari meski otakku lagi kosong ide.

Nggak heran kan? Otakku emang keseringan kosong daripada isi..hihihi...mengerlingkan mata

Selasa, 11 September 2012

Menuai Sepi

Valeska-ku menangis histeris, air mata dan ingus mengalir membasahi wajah imutnya. Tangannya menggapai-gapai hendak meraih tangan papa. Sesekali kedua tangannya diangkat ke udara sambil terus menginthil papa, berharap digendong seperti biasa. Tapi papa tetap sibuk dengan tas dan travel bag-nya, mengangkati barang-barang bawaannya ke dalam mobil. Tak sekalipun papa menoleh ke Valeska yang semakin sedih.

Sabtu, 10 Desember 2011

Big Thanks, Temans

Malam minggu yang cerah, Temans.... Bulan di langit bulat penuh dengan warna yang indah. Hatikupun ikutan cerah. Berkat dukungan, doa dan sundulan semangat dari para Sahabat blogger di postinganku ini, alhamdulillah...hatiku serasa lebih tenang. Rabu kemarin, ketika menuliskan postingan itu di kantor, aku menangis. Susah payah menyusut air mata agar nggak ada yang tau betapa aku ini sangat cengeng sebenarnya.

Rabu, 07 Desember 2011

Valeska dan Terapi

Pagi ini, begitu membuka mata, dia memelukku erat sekali. Tak biasanya dia bangun sepagi ini. Kuciumi rambutnya yang wangi. Lalu aku bertanya, kenapa dia bangun? Apakah dia di ganggu mimpi buruk lagi? Dia diam saja. Sambil tetap melingkarkan tangannya di leherku, lalu kepalanya rebah dibahuku.

Kami berpelukan dalam diam, lama. Lalu tiba-tiba dia menangis, pelukannya dileherku makin kuat, membuat leherku sakit dan aku susah bernafas. Aku berusaha melonggarkan tangannya, tapi dia malah merangkulku semakin kuat.

Senin, 30 Mei 2011

Kunonya Rusia ditengah Jawa dan Minang


Valeska in action
Namanya: VALESKA SHAFURA, jangan disangka nggak ada artinya. Jangan disangka sok-sok keren pake nama antik begitu. Memang dijaman dahulu kala, ketika nenek-nenek masih pada perawan, ada sebuah lagu berjudul 'Apalah Arti Sebuah Nama', tapi judul lagu itu sudah pasti bukan bermaksud menyindir nama anakku. Karena pada waktu lagu itu diciptakan, jangankan anakku, aku aja belum sempurna kejadiannya (kayaknya ini terlalu lebay, jangan diambil hati ya? coz, lebay is my style lah)

Senin, 11 April 2011

Antara Valeska, notebook dan blog

Sudah hampir 2 minggu aku tenggelam dalam lautan Microsoft Axapta, karam dalam jurnal demi jurnal, report demi report, rekonsiliasi, revaluasi beserta adek-adeknya dan para sepupu yang selalu bikin mataku berkunang-kunang, jidat berkerut hingga alis dan bulu hidung ikut-ikutan rontok karena bosan dan putus asa.

Sesekali disela-sela jam istirahat sambil mengendorkan syaraf-syaraf yang menegang, kusempatkan melongok internet, mengintip blog yang belum apdet, menatap nama teman-teman yang singgah meninggalkan jejek tanpa sempat kusapa. Kemudian balik lagi ke Axapta. Jadi hari ini, aku ingin nge-blog sekejap, sekedar melepas rindu sambil berbagi cerita. :D

Maka, dengarkan ceritaku, Temans

Kamis, 26 Agustus 2010

Untuk Valeska

Sering aku merasa bersalah pada anakku, karena meninggalkannya setiap hari. Tidak pernah menemaninya bermain di halaman rumah, jarang menyuapinya makan, hanya sesekali memandikannya. Dan setiap kali aku menatapnya, dia terlihat sudah tumbuh besar dan tinggi tanpa aku sempat menikmati pertumbuhannya, tiba-tiba sekarang dia sudah hampir sepinggulku.

Setiap malam, sebelum beranjak tidur, kupandangi wajahnya, salinan wajahku dan papanya terpatri disitu. Sering aku harus menelan haru yang tiba-tiba menyesaki tenggorokan saat membelai anak-anak rambut di keningnya, memandangi bulu matanya yang lentik dan panjang, betapa sempurnanya dia diciptakan Tuhan untukku, yah, untukku....

Harusnya, aku selalu ada disisinya, menemaninya bertumbuh dan berkembang. Tapi di lain pihak, aku harus bekerja agar semua kebutuhannya tercukupi, agar dia tidak kekurangan, agar aku sanggup membiayai sekolahnya setinggi mungkin.. itu harapanku. Konsekwensinya, dia harus kutinggalkan. Setiap hari. Seringkali dia belum bangun saat aku harus berangkat kerja.... Seringkali pula, aku kelelahan sepulang kerja hingga tak sempat bermain lagi bersamanya. Dan aku merasa bersalah karenanya.

Anakku, maafkan Mama. Apapun yang Mama lakukan sekarang adalah untukmu. Mama harap kamu tidak marah pada Mama dan masih mau mendoakan mama kelak jika mama sudah berada di alam barzah. Karena hanya doa anak yang shalehlah yang bisa menyelamatkan orang tuanya dari azab kubur....

Untuk Valeska, putriku tercinta...
Dengan cinta sebesar dunia...

Selasa, 29 September 2009

Valeska



Selama liburan kemarin, hari-hariku dipenuhi dengan acara gendong-menggendong Valeska. Tiap detik pokonya.. "tak gendong kemana-mana," deh..
Iyah, masak lebaran pake acara demam segala, Say.... Ibunya nggak bisa ngapa-ngapain, nggak bisa kemana-mana.

Sebenarnya aku juga sih yang salah. Gimana nggak salah coba, udah tau anaknya demam masak masih dipaksain keliling ke rumah sodara and tetangga.

Jumat sebelum lebaran, aku tuh masih masuk kerja full (aneh gila kantorku ini). Pulang kerja dia masih berdiri menyambutku di depan pintu seperti hari-hari biasa.

Mamaku langsung lapor:
"Tadi siang badannya panas...."
Kuraba dahinya, emang panas.
" Ini udah turun, tadi lebih panas," mama menambahkan laporannya.

Besoknya (sehari sebelum lebaran) panas badannya udah turun karena dikasih Mama obat turun panas, (ya iyalah, masa dikasih obat turun berok, gela lo!)

Aku happy.
"Besok kita lebaran ke rumah Mbah ya, Sayang... Jangan sakit lagi ya..." bujukku.
(emang bisa penyakit di bujuk???)

Esoknya, pagi-pagi buta (terlalu hiperbolic) habis sholat Subuh, Valeska ku mandikan, ku dandani dan ku pakein baju baru nan cantik (kan lebaran...)
Udah kelar gitu, aku mandi dan ikutan dandan (iyalah...masak kalah ma anaknya, kan nggak lucu anaknya pake baju cantik maknya lusuh, ntar dikirain pembokat..)

Selesai sholat Ied di mesjid dekat rumah dan disambung sungkeman plus nangis-nangisan sama Mama, kami berangkat ke rumah Mbah-nya Valeska alias Ibu-Papanya alias mertuaku (ribet banget sih..)

Sehabis sungkem ma mertua, kami keliling ke rumah tetangga disana. Sore baru pulang.
Mungkin karena kecapekan, malamnya Valeska kembali panas. Dikasih obat turun panas, paginya kembali adem. Nah, goblognya aku, sore hari di lebaran kedua itu, aku ajak lagi dia keliling ke rumah-rumah tetangga. Aku pikir kan, ah deket-deket sini ajah... Padahal mama udah wanti-wanti:

"Habis dari rumah Pak RT, langsung pulang, ya. Antar dia pulang dulu kalau kalian masih mau kemana-kemana," teriak mama.
"Iya.." jawabku.

Nah... malamnya, jadi deh tuh. Badannya bukannya panas lagi tapi panaaaaass...banget. Aku ketakutan, takut dia step atau apa. Buru-buru kami ke dokter sehabis sholat Isya.

Mulai malam itu hingga hari-hari selanjutnya, aku ronda gantian sama misua. Anaknya nggak mau di tidurin di kasur, maunya digendong aja, udah gitu yang nggendong nggak boleh duduk, harus berdiri. Nggak peduli lagi ada tamu pun, aku terpaksa berdiri aja sambil nggendong (nggak sopan amat sih...). Kalau coba-coba duduk, dia menangis njerit-njerit (untung tamu-tamu pada ngerti). Jadilah pinggang rasa nak patah, bahu pegel, betis bengkak dan tumit rasa nak pecah.

Itulah hadiah lebaranku tahun ini. Jangan tanya capeknya.
Untung (lagi) sehari sebelum masuk kerja, Valeska udah baikan dan yang penting udah mau tidur dikasur. Kalau nggak, terpaksa kontrak gendong di perpanjang. Kan nggak tega kalau mamaku harus nggendong dia seharian sampai misua dan aku pulang kantor....