Rabu, 24 Juni 2009

I love you, Mom...

Base on true story:
Selasa, 12 May 2009

(just for share, buat ngingatin yang masih punya mama, karena kita nggak tau sampai kapan beliau masih akan bersama kita. So, jangan sakiti hatinya...)

Listrik mati lagi.
Senja mulai temaram, aku duduk didepan rumah nungguin mama dari beli lilin di warung tetangga sebelah. Azan magrib mulai menggema bersahut-sahutan. Mama tak kunjung kembali.

Ketika azan magrib berhenti menggema, kulihat mama berjalan bergegas dari arah warung.
“Kok lama, Ma?” tanyaku.
“Mama mampir ke rumah Ibu Siti yang didekat warung.”
“O….”aku kedalam, menyalakan lilin.
“Ibuknya Bu Siti meninggal,”kata mama tanpa diminta.
“Ha? Kemarin masih jalan-jalan,”bantahku.
“Emang habis jalan-jalan nggak bisa meninggal. Bisa aja kan, anytime-anywhere orang meninggal?” mama meradang. Hihihi…
Aku nyengir. Tul juga!
“Meninggal kena apa Ma? Maksudnya, beliau kan nggak sakit gitu lo, Ma”
“Perahu yang ditumpanginya tenggelam dilaut, dihantam badai jam 2 malam kemarin.”
Aku kaget.
“Emang mau kemana si Mbah?”
“Mau pulang ke Jambi berdua sama Mbah Kakung, nggak ada yang nganterin, nggak dikasih sangu. Kasihan betuuulll…..si Mbah,” Mama berkaca-kaca.
“Kok naik perahu sih, Ma? Nekad banget….” Aku jadi ikutan sedih.
“Lah, yang murah Cuma perahu. Mau naik kapal nggak ada uang, naik pesawat apalagi. Makanya si Mbah naik perahu sayur yang mau ke Sumatera sana. Penumpangnya Cuma 17 orang. Yang meninggal 2 orang, si Mbah sama satu anak kecil. Mbak Kakung selamat karena pegangan sama kayu pecahan kapal. Si Mbah lepas dari pegangannya,” Mama bercerita sambil melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian beliau shalat magrib. Aku menyusul.

Pada kenal Ibu Siti, nggak? Bukan Ibu Siti Nurhalizah yang terkenal itu, bukan pula Siti yang penyanyi dangdut.

Nih, dengerin…
Ibu Siti itu tetanggaku, berasal dari Jambi. Disini tinggal bersama dua anak gadisnya dan satu anak lelaki. April lalu, salah satu anak gadisnya itu menikah. So, diajaklah saudara-sanak-famili mereka untuk datang kesini meramaikan acara. Termasuklah kedua orang tua Ibu Siti. Kami disini memanggil beliau Mbah.

Setelah acara pernikahan selesai, si Mbah pengen pulang ke kampungnya di Jambi sana. Tapi Ibu Siti dan anak-anaknya tidak pernah mengijinkan, bahkan si Mbah dimarahi setiap hari (gw heran, kok doyan ya, marahin Mbah-mbah…). Pernah si Mbah nangis-nangis minta pulang. Dia bilang udah kangeeennn… banget.
Ibu Siti malah bilang:
“Jangan kayak anak kecil gitulah Bu, pake nangis segala. Udahlah!” di bentak gitu deh..
Pernah juga ibu yang punya warung jadi saksi mata ngeliat si Mbah nangis sendirian dikamar belakang sambil makan nasi tanpa lauk, sementara Ibu Siti pergi ke warung nasi beli lauk ayam dan makan sendiri, nggak nawarin Ibu-nya. Tragis banget ya?

Untungnya si Mbah punya suami penyayang yang selalu mendampinginya walaupun beliau tetap tak mampu melawan Ibu Siti yang notabene adalah anaknya sendiri. Mbah Kakung ini suka ngajak istrinya jalan-jalan sekitar komplek sambil gandengan tangan dengan mesra.

Hingga, hari Minggu kemarin, sehabis jalan-jalan pagi si Mbah bilang ke Ibu Siti dan anak-anaknya bahwa dia ingin sekali pulang ke Jambi.
“Pulang aja kalau Ibu punya uang,”jawab Ibu Siti.
“Iya, Mbah, nanti kalau sudah gajian saya akan kirim uang untuk Mbah dikampung,”timpal si Eneng anaknya Ibu Siti.

Karena kepengen banget pulang, si Mbah berdua suami tercinta nekad pulang dengan uang pas-pasan. Cuma cukup untuk ongkos di jalan doang.
Bersama 13 orang dewasa, dua orang anak-anak beserta awak kapal mereka menumpang kapal kayu kecil untuk menyeberang dari pulau Batam ke Sumatera sana. Ongkosnya lebih murah walaupun resiko lebih besar. Tapi si Mbah nekad, karena mungkin kangen pulang atau mungkin nggak betah tinggal dengan anaknya disini.

Kapal kayu itu berangkat tengah malam dari Batam. Baru berjalan sekitar 2 jam, kapal dihantam gelombang. Air mulai masuk ke dalam kapal. Mbah Kakung memeluk erat istrinya. Si Mbah terus-terusan menciumi pipi suaminya.

Pada hantaman ketiga, mereka terlempar terpisah. (Penumpang yang sudah sepuh hanya mereka berdua, aku nggak tau apa kapal tersebut punya pelampung dan mereka nggak kebagian? ) Mbah Kakung sempat disodori sepotong kayu oleh seorang penumpang:
“Mbah, pegang kayu ini, Mbah ya… Jangan dilepas ya, Mbah..”

Mbah Kakung terapung-apung ditengah laut dimalam gulita, beliau diselamatkan oleh sebuah kapal ferry jam 10 keesokan harinya. Mayat istrinya ketemu jam 2 siang dihari yang sama.

Tadi malam kami mendengar Ibu Siti menangis meraung-raung, menangisi kepergian Ibunya yang tragiskah? Atau menangisi dirinya yang malang yang tak sempat meminta maaf pada Ibu yang melahirkannya dan telah dia lukai hatinya berkali-kali?

Subhanallah, aku berharap tidak pernah melukai hati mamaku, mungkin aku tidak bisa membuatnya bahagia, tidak bisa memberi mama uang karena gajiku pas-pasan, tidak bisa membalas segala hal yang telah beliau lakukan untukku, tapi aku sungguh berharap, jangan sampai mama menangis karena perkataan dan perbuatanku. Jangan sampai beliau pergi tanpa aku sempat minta maaf padanya.

I love you, Mama….

(ditulis dengan terburu-buru, di terbitkan dengan lebih terburu-buru, kerena gw lagi kelaparaaaannnn...banget, sementara aroma nasgor begitu menggoda hati. So, kalo ada kata yang salah, jangan disimpan didalam hati, biarin aja tetap mejeng di layar komputer. God bless you, readers...)

Jumat, 12 Juni 2009

Good bye, Bos

Nggak ada yang aneh lagi disini.
Semua yang aneh ud pada pergi. Temanku yang gak bisa komputer udah resign bulan lalu. Dia malah milih jadi sopir di hotel, padahal dia S1. Huh, ternyata walaupun udah jauh, dia masih aneh aja....

Bos ku yang digigitin kepinding juga udah resign. Sehabis dihajar kepinding itu, dia masuk cuman dua hari. Besoknya dia nelpon bilang masih sakit nggak bisa masuk.
"Tolong Mbak Dewi handle dulu yah..."
Baiklah, Pak. Demi anda daku rela jadi tumbal auditor.

Seminggu kemudian, tak ada lgi telphone, tak ada sms. Bapak itu hilang terbawa kepinding..eh, terbawa angin.
Dimanakah dia? Nggak ada yang tau.

Hingga pada suatu hari si Big Boss muncul diruanganku yang dingin membeku ini.
"Dewi, is everything ok?"
"Yes, Bos!" halah... kalo sama bos mah semua juga ok.
"Do you know, I want to employ someone for accompany you here," sambil matanya jelalatan memandangi seantero ruangan.
"Young man and handsome," dia tersenyum mentel.
"For my assistant?" wah... gw naik pangkat nih...
"No, your superior," sialan. Kirain...
"How about Pak S, Bos?"
Dia menggeleng,"don't wait for him,"eh, sapa juga yang nunggu die...

Aku memandang kulit muka pucat si bos yang agak keriputan, aku hendak bertanya: Apa Pak S tewas dihabisi kepinding? Ah... sungguh malang nasibnya.
"If you can handle everything, so dia tak usyah datang lagi..." mak! enak betul dia ngomong. I can handle everything without money? no way! Bayarannya dulu dong. Bayarannya cukup lu juga bisa gw handle. Halakh...! Opo iki.
"Dia resign, ya Bos?"
"I hope so. Dia kelja suka-suka, macam dia lebih bos dali saya. Saya datang pagi dia belum datang. Tak bisa ini macam, I employ him, bukan dia employ saya," tuh, ngomong udah gado-gado tuh. Gw malah jadi bingung.
"Ya udah deh, bos.. Terserah bos ajah...!"
"Macam sekalang, ha.. Yu manyak kelja, dia pelgi..."
"Yo-i!"
"Tak bagus ini macam,"
"Tul!"
Trus, dia ngeloyor keluar. Hah..! lega deh, gw. Udah bhs Inggris gw belepotan, bhs Indo dia juga belepotan. Bah! yang penting oh yes, oh no aja deh... Soal ngarti pa kagak, nanti aja dipikirin.

Yah, begitulah. Seminggu kemudian datanglah lelaki muda nan "handsome" itu. Handsome dari hongkong! Gw liat dari sudut pandang manapun jua, nggak ada bagian handsome itu didirinya. Wajahnya? Jangan ditanya deh! Ntar dibilang menghina ciptaan Tuhan. Sikapnya juga arogan, ngomong ama gw kayak ngomong ma pembokat. Gw judesin deh tuh orang. Gw sumpahin dia dihajar kepinding lebih parah dari Pak S.

Ketika di handsome lagi ke toilet, my big bos datang senyum-senyum. Dasar bos gendheng.
"Ya, Bos?"
"Do you like him?"
"Absolutely, no!"
"Why?"
Gw tersenyum pahit. Asem. Dia juga tersenyum penuh kemenangan, merasa berhasil menipu gw. Ketika mau buka pintu, gw teriakin.
"Bos!"
Dia berbalik
"You lie to me,"
"About?"
Eh, blon lagi dijawab si handsome masuk. Gw mingkem deh. Si bos mendekati meja gw, masih penasaran.
"About what?"
Gw mendelik, nggak mudeng banget siy jadi orang?
"Him" gw berbisik.
Si bos ketawa ditahan, cuma kedengaran suara ngos-ngosan kayak orang asma.
Dasar!