
Putri mungil ini Valeska namanya, putri pertamaku. Sekarang sudah berumur 1 tahun 8 bulan. Setiap hari dia ku tinggal dirumah bersama neneknya (mamaku) karena aku dan suami bekerja.
Valeska tumbuh sehat, jarang sakit. Paling cuma flu dan batuk. Bawa ke dokter, 3 hari sembuh. Lebaran kemarin adalah sakit terlama yang dialaminya; 1 minggu.
Yang menghawatirkan diriku adalah, sampai sekarang dia belum bisa bicara sepatah kata pun. Hanya bisa berceloteh tak jelas kayak gini:...teket..teket..teket...jekha..jeka...
Tapi kalau aku bilang:
" Ayo sayang, kita hitung jarinya dulu...," dia langsung sodorkan kakinya. Lalu aku mulai menghitung sambil memegang jari dia satu persatu:
"Satu..."
Dia tertawa.
"Dua.."
Dia kegelian, makin terkekeh kekeh, sampai hitungan kelima tawanya berderai...
Aku risau, tentu saja! Tak usah ditanya lagi.
Setiap saat ku ajak dia bicara, begitu juga dengan papa dan neneknya. Dan dia mengerti, tapi tetap tak bisa bicara, walaupun hanya sekedar "mama"
Tetangga sebelah rumah punya anak yang lahir ketika Valeska berumur 6 bulan. Sekarang sudah bisa panggil "mama" dan "papa". Kalau diajak ngobrol juga bisa, walau kata-katanya belum jelas... Diajak perang mulut juga oke, hehehe...tentu saja dia pake bahasa yang hanya di mengerti oleh dia seorang... Tapi kalau manggil mama-papa, fasih banget, udah!
Aku ngiri. Sumpah! Kenapa anakku belum bisa ngomong? Belum bisa manggil "mama"? Apa dia nggak tau, aku pengen banget denger dia manggil "mama.." sambil mengulurkan tangan minta digendong...
Satu lagi yang membuat hatiku risau tak tertahan, Valeska tak mau "berbaur" dengan anak-anak sebayanya. Jika sore hari ngumpul di depan rumah sama anak-anak tetangga, dia malah asyik sendiri. Berlari kesana-kesini, sibuk sendiri dan tak mau diam.
Aku sering bertanya-tanya: Apa anakku autis? Aku sungguh berharap, tidak.

Oh, Sayang...
Ada apa dengan kamu, Nak..?









