Selasa, 14 Agustus 2012

Ketika Dia Pergi

Semalam, sepulang dari taraweh, kami langsung berangkat ke rumah tetangga yang puteranya telah lebih dulu dipanggil Sang Pemilik sebelum sempat menikmati lebaran pertama dalam hidupnya. Ya, umurnya baru sekitar 1 bulanan. Lahirnya sehat dan gemuk. Tapi begitu sampai didunia fana, berat tubuhnya terus berkurang. Setiap minum susu selalu dimuntahkan. Dan akhirnya, setelah keluar-masuk rumah sakit, sang bayi akhirnya kembali ke haribaan Sang Pencipta.


Sejujurnya, perasaanku tidak begitu nyaman ketika harus melayat ke rumah orang yang baru meninggal. Bukan apa-apa. Aku hanya nggak tahan dengan suasana dukanya. Suasana seperti itu selalu membuat perutku bergejolak, kepalaku pusing dan aku selalu tak tau harus ngapain di sana. Tapi sebagai sesama manusia dan sebagai tetangga, kita wajib datang kan? Itu juga diharuskan dalam agamaku.

“Tidaklah seorang mukmin menta’ziyahi saudaranya karena musibah yang menimpanya melainkan Allah ‘azza wa jalla memberinya pakaian kemuliaan pada hari kiamat.” 
(HR. Ibnu Majah dengan sanad jayyid,Ensiklopedi Muslim, hal. 391).

Gambar dari sini

Semalam, aku hanya duduk disamping ibu dari si anak yang baru meninggal. Tidak tau harus bicara apa. Aku bersalaman, tersenyum tipis sambil sedikit menepuk-nepuk punggung tangannya, berucap: "yang sabar ya, Jeng..." lalu duduk setenang mungkin. 

Walau terlihat sangat berduka, untungnya dia sudah tidak lagi menangis. Kalo aku datang ke tempat orang yang bertangis-tangisan, bisa dipastikan aku akan ikut bergabung menyumbang tangis. Dan untungnya lagi, nenek dari yang meninggal sangat aktif mengajak aku ngobrol. Hal itu sedikit mengurangi ke grogianku.

Meratapi orang meninggal emang nggak boleh, tapi menangis sedikit nggak apa (ini menurut pemikiran aku setelah melihat kondisi mama setelah ditinggal papa). Karena tangis akan menyembuhkan luka dalam jiwa. Air mata adalah “emotional first-aid” alias pertolongan pertama bagi luka emosional, itu kata seorang Doktor bernama Joyce Brothers. So, jangan menahan tangis ketika kamu pengen menangis. Nanti akan berakibat fatal seperti yg dialami mamaku. 


Mama memang tidak mengeluarkan tangis ketika ditinggal almarhum papaku. Sama sekali tidak ada. Tangisnya 'ditelan' dan dibenamkan dalam-dalam karena takut 'menyakiti' papaku dan demi terlihat tegar di depan anak-anaknya. 

Akibatnya, berat badan mama langsung berkurang drastis sepeninggal papa, wajahnya pucat, selalu gemetaran, tak bertenanga untuk melakukan apapun bahkan hanya untuk sekedar menyuap nasi hingga daya tahan tubuhnyapun ikut memburuk. Mamaku trauma berat, shock berat dan sangat terpukul. Ini tak akan terjadi jika saja mama mau 'meledakkan' beban di hatinya dalam bentuk tangisan. Menangis cukup ampuh untuk menyembuhkan luka psikis, itu kata orang pintar yang kubaca.


Menangis tidak apa-apa. Menangislah sekedarnya ketika kamu tak mampu lagi menahannya. Jangan sok kuat memaksa diri melawan kedukaan. Tapi janganlah meratapi yang sudah pergi dengan berlebih-lebihan, karena  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:    

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju dan menyeru dengan seruan jahiliah.” 
(HR. Muttafaq ‘alaih) 

“Perempuan yang meratap dan tidak bertaubat sebelum matinya maka pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan mengenakan jubah dari ter dan dibungkus baju dari kudis.” 
(HR. Muslim, Ash Shahihah 734, Al Wajiz, hal. 162). 


Sahabat Abu Musa mengatakan,“Sesungguhnya aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari shaaliqah, haaliqah dan syaaqqah.” 
(Muttafaq ‘alaih). 

Shaaliqah adalah perempuan yang menangis dengan keras-keras.
Haaliqah adalah perempuan yang mencukur rambutnya ketika tertimpa musibah.
Syaaqqah adalah wanita yang menyobek-nyobek pakaiannya karena tidak terima dengan ketetapan takdir dari Allah (lihat Al Wajiz, hal. 162, Taisirul ‘Allaam, I/319).

Berserahlah pada Allah atas segala duka dan suka, menangislah sekedarnya saja, cari orang untuk bersandar berbagi duka, pergi berlibur jika perlu, setelah itu jalanilah hidupmu kembali seperti biasa. 


Selamat menunggu detik-detik berbuka puasa :)
Sumber hadist


50 komentar:

  1. Innalilahi, turut berduka ya mbak. terima kasih sudah diingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama Jeng, pengingat buatku juga......

      Hapus
  2. semoga ananda yang pergi terlebih dulu akan jadi pembuka pintu sorga bagi ayah dan bunda, aamiin..

    #makasi Wi sudah mengingatkan pentingnya makna takziah.. bundo harus memperbaiki diri di sisi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinnn...

      Sama-sama, Bund.. Selama ini aku juga malas ta'ziah, tapi semalam mama merengut gitu karena aku enggan pergi. Akhirnya kucari-cari hadist tentang ini deh...
      Mari perbaiki diri sama-sama, Bund.. :)

      Hapus
  3. Wi, terima kasih ya..., lain dari biasanya..
    aku juga dulu waktu papa pergi nahan nangis, akhirnya ambruk dua hari kemudian

    dan seperti kamu juga, nggak bisa datang sendirian ke tempat kedukaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. sama-sama Mba, terima kasih kembali.

      Nggak tau nih, Mbak.. Suasana hati kok jadi lain sepulang dari ta'ziah semalam.. Kata mama, meninggal itu nggak harus tua, bayipun bisa. Makanya sering2 ta'ziah ke rumah orang yang sedang berduka agar ingat besok bisa jadi giliran kita...

      Hapus
  4. suasana duka memang membuat perasaan jadi tak nyaman
    hiks , gak bisa mbayangin rasa kehilangan yang begitu mendalam yg dialami ibu itu :(
    semoga mereka diberikekuatan dan kesabaran ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener, Jeng.. Itu yang bikin aku nggk sanggup pergi melayat. Suasana hati nggak sedap selama disitu. Muraaaammm aja bawaannya.

      Sedih banget dia, sejak anaknya lahir dia nangis terus. Udah dirawat sejak msh dalam kandungan, eh, begitu keluar kok langsung pergi lagi...

      Amiinn.. SEmoga!

      Hapus
  5. ia mbak menangis karena kehilangan orang yang disanyangi adalah wajar, yang tidak boleh adalah meratapi dengan berlebihan seperti diuraikan diatas

    BalasHapus
  6. ikutan bersedih mbak dew, innalillahi wainnalilahi rojiun semoga bayi itu menjadi malaikat kecil yang menjaga ibunya :D

    Yaa allah ikutan sedih anak bayi masih satu bulan yaa, masih lucu2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun..

      Iya, amiin.. Itu juga yang dibilangin mamaku semalam :)
      Sedih liatnya Niar, selama sebulan dalam kehidupannya boleh dibilang nggak ada apapun yang masuk ke perutnya. Badannya keciiiiiiillll banget dan kulitnya berkerut :(

      Tuhan tau, inilah yang terbaik untuknya... :)

      Hapus
  7. kan ga harus didalam tho..?
    aku aja kalo ngelayat cuman masuk bentar salaman dengan keluarga doang lalu nongkrong di luar
    ga tahan liat yang mewek mewek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, tu dia. Kmrn pada didalam semua. Udah sepi sih aku kesananya, di luar udah gak da orang :)

      Hapus
  8. setiap manusia yang hidup pasti kaan pergi ke tempat asalmya ya meninggal dunia..
    setuju mbak,,menangis adalah hal yang penting agar emosi kita tidk terpendam namun dalam batas wajar

    BalasHapus
  9. Takjub aku sm mamamu mba, bisa 'menahan' air mata sedemikian rupa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi badannya jadi rusak, Rin. Bedanya jauh banget ketika papa masih ada dengan setelah papa tiada. Lebih rentan penyakit dan lebih 'rapuh' sekarang :(

      Hapus
  10. tapi kalau laki-laki kan memang susah nangis.
    kenapa gambarnya itu... =_=a

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena lambat laun kita akan kembali kesitu..hihihi..

      Kenapa Rian? Takut ya? *aku jugaaaaaaaaaaaaaaa...*

      Hapus
  11. innalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

    mamanya Mbak hebat ya. tegar sekali. salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurasa mama itu tegar di luar tapi rapuh di dalam.. :)

      Sekarang agak lumayan kuat dan sehat
      *setelah 6 thn papa tiada*

      Hapus
  12. inallilahi wainnailaihi raajiun ,

    BalasHapus
  13. Saya pernah berada di posisi yang Mama Mbak Dewi alami. Hampir sama, saat itu juga tiada air mata, bahkan ketika jenazah almarhum dimasukan ke liang lahat, sayalah yang turun, membuka kain kafannya sendiri. Kalau ditanya bagaimana bisa, saya juga tidak tahu, tapi yang jelas beberapa jam sebelumnya air mata ini sempat berderai juga, terutama saat sang dokter mengatakan bahwa almarhumah sudah tak tertolong lagi. Jangankan saya, rosululloh pun menangis saat putranya wafat. Bukan tidak boleh menangis, tapi yang dilarang adalah meratapi kepergian, karena dengan demikian bisa termasuk mengingkari satu kepastian bahwa setiap yang hidup pasti akan bertemu mati. Jangan tanya soal perasaan, tapi yang semestinya dilakukan adalah mengikhlaskan dan mengantarkan kepergian mayit dengan keridhoan. Dengan demikian, semoga ridho ALlah pun tercurah padanya. Amin.
    Maaf, jadi curhat begini, Mbak Dewi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Bi. Nggak mungkinlah kita nggak bersedih ketika kehilangan orang yang dicintai. Kehilangan duit seribu aja pilu banget :)

      Tapi mamaku nggak menangis sama sekali. Betul-betul tidak ada. Tapi wajahnya seperti orang yang memendam duka yang sangat berat, seperti yg sangat menderita. Kami bilang: nangis ajalah ma, kalo mau nangis. Tapi mama hanya menggeleng. Kami malah jadi cemas kalo beliau gak nangis, yg kami takut adalah mama jadi stress atau lebih parah dari itu. Dan setelah papa pergi, mama malah jatuh sakit berlarut-larut hingga kini.

      Mamaku terlalu menahan, pdhl nangis dikit kan papa.. Tapi emang sih saking terlalu sedihnya, kita malah nggak bisa nangis, Bi.. Mungkin itulah yg dirasakan mamaku.

      Betul, Bi.. Kita harus ikhlas. Emang sulit banget itu. Tapi harus. Karena mereka diambil oleh Pemiliknya. Kita cuma dipinjamin sebentar...

      Makasih udah curhat share disini, Bi. Semoga almarhumah berbahagia di rumah barunya.. Amiiinnn.

      Hapus
  14. seperti kata lirik lagune Dewa.

    "menangislah bila harus menangis"
    "karena kita semua manusiaaaaa"

    turut berbelasungkawa atas berpulangnya anak tetangga sampeyan teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata uncle anggota baladewa juga.. :)

      Aku suka lagu itu.. :)

      Makasih uncle, ntar kusampaikan pada tetanggaku.. :)

      Hapus
  15. Ikut berbela sungkawa ya Mbak ama tetangganya itu.

    Menangis gapapa mBak Dew... penting gak meratap, apalagi sampe guling2 di tanah, cakar2 meja, mecahin kaca, mbrakot aspal dan etc etc ratapan lainnya.

    Mbak Dew kalo nangis jangan jambakin rambutnya Papi Vales yaaa :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak, paling ku jambakin janggutnya doang... :P

      Hapus
  16. Secara manusiawi dan secara pribadi, memandang wajar bentuk menangis itu adanya, yang terpenting tidak berlebihan.
    Turut belasungkawa ya, salam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua yang berlebihan gak baik kan ya..

      Tengkyu..

      Hapus
  17. Turut berduka cita ya Jenk..

    Ahh hari ini kok aku banyak banget baca berita duka..
    ga bisa berkata-kata lagi..

    BalasHapus
  18. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun. Sebagai seorang ibu, kehilangan anak tentulah amat berat. Melepas anak sekolah aja berat, gimana ditinggal selama-lamanya. Betul mba dewi, nangis itu boleh kok, bahkan dalam buku yang pernah kubaca, Rasulullah SAW pun menangis ketika bayi laki-lakinya meninggal, tapi memang sewajarnya. Semoga ketika kita ditinggalkan orang-orang terdekat, kita juga diberi kekuatan untuk bersedih secukupnya ya.. Semoga kita bisa merelakan dan mendoakan bahwa yang meninggal semua amalannya diterima Allah Swt dan kelak menempati syurga-Nya. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinn..

      Apapun itu yang penting berusaha tuk ikhlas ya, Kang..

      Hapus
  19. Sama dengan yg saya rasakan Mbak
    Tiap bezuk orang sakit atau datang melayat, yg paling nggak tahan adalah suasana dukanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi pusing ngeliat banyak air mata dan wajah muram ya, Pak.

      Kebahagiaan itu menular, kesedihan juga...

      Hapus
  20. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. nggak kebayang perasaan si ibu ya, Jeng..
    Iya sama, aku juga sering ngerasa gimana gitu kalo ngelayat, nggak tega, lagian suasananya kan bikin sesak napas gitu..
    Moga si ibu diberi ketabahan, ya :)
    Oiya, aku kalau sedih ya nangis aja kok, nggak ditahan-tahan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, aku juga kalo pengen nangis ya nangis aja. Tapi volumenya sedikit ditahan biar tetangga nggak tau kalo aku lagi nangis... :)

      Hapus
  21. innalilahi wa inna ilaihi rajiun,, memang sedih ditinggalkan seseorang yg kita sayang , kunjungan balik dong mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya..

      Ehh.. kan aku sering berkunjung ke tempatmu lho, Jeng. Kadang pake akun Valeska :)
      Ntar habis sahur aku kesana lg deh..

      Hapus
  22. turut berduka cita ya mba , semoga keluarga yg ditinggalkan mendapat ketabahan :)

    BalasHapus
  23. Aduh, walaupun telat ikut berbela sungkawa ama tetangganya mbak.
    Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan ibunya mbak Dewi sekarang sehat2 aja kan?

    BalasHapus
  24. hiks hiks sedih baca nya mba dew.......aku juga ga tahan kl liat sekitar kita menangis pasti deh pengin ikutan.....
    tp bersyukur tanda hati kita masih hidup...
    salam kenal

    BalasHapus
  25. yang sabar ya mbak.. :)
    mampir juga yuk kesini ??

    BalasHapus
  26. aku juga mau ikutan komen, meskipun telat.
    iya mbak, aku tahu banget gimana rasanya....

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...