Senin, 14 Maret 2016

Sepetak Perut Yang Terbelah



Hidup tidak selalu indah. Ditengah-tengah kebahagiaan, kesedihan bisa mendadak menyelinap dan menusuk hatimu dalam-dalam... Mendadak dan tiba-tiba. Tapi yang harus kau percayai adalah, Allah itu adil banget.. Dia memberikan masalah beserta solusinya. Memberikan ujian beserta kertas jawabannya.

Aku berkerja di bagian finance. Akhir bulan dan awal bulan adalah waktu tersibuk bagi seorang finance. Bisakah dikau membayangkan kegalauanku? Suami masuk RS tanggal 1, disaat aku harus tutup buku dan menyiapkan segala macam laporan. Tapi direkturku berkata: “take your time... dont worry about the job. Currently, for you, job is number 2, your family is number 1. Do your job when you have time, come to office if you can. If can not, then no need to come. As long as there is an internet connection, you can work anywhere, right...? And if you need help.., or anything, just call me.” 

Begitu juga dengan atasanku yang di S’pore, juga boss nya papa Vales. Mereka semua support dan mengerti. Aku salut dan menghormati mereka. Aku mendoakan kebaikan untuk mereka meskipun mereka tidak seagama, tidak sebangsa ataupun setanah air. Karena aku percaya, mereka perpanjangan tangan Tuhan yang menolong dan menopang aku. Lewat mereka Tuhan memberikan beberapa solusi untukku. 

Jadi...Dokter bilang ini adalah tumor dan harus diangkat. Keluarga Papa Vales datang dari Tg Pinang dan syukurnya adiknya bersedia menemani papa vales di RS, jadi aku bisa sedikit membagi lebih banyak perhatian pada Vales dan pekerjaanku.

Tanggal 10 September, lagi-lagi aku duduk di depan sebuah pintu berwarna coklat bertuliskan Ruang Operasi. Saat itu lagi-lagi jam 9 pagi. 

Beberapa jam duduk di situ dan menghabiskan entah berapa gelas air mineral, seorang perawat laki-laki memangilku.

“Apakah Ibu kuat? Dokter ingin Ibu melihat apa yang akan diangkat dari perut bapak. Ibu kuat?”

Ada keinginan yang kuat untuk melihat separuh jiwaku yang terkapar di meja operasi. Yang akan dibelah perutnya, yang akan dipotong ususnya. Aku harus melihatnya, jika sesuatu yang tidak aku inginkan harus terjadi, aku tak mau menyesal. Jadi.. Bismillah...

“Ya, saya bisa (tapi saya mungkin saja akan pingsan)...” 

Aku dibawa masuk ke sebuah lorong, meninggalkan sepatu dan barang-barang yang kubawa dari luar. Di sebuah kamar, aku diminta mengganti pakaian dengan pakaian seperti yang mereka kenakkan. Lengkap dengan masker dan tutup kepala.

Kakiku dingin memasuki ruang operasi. Sebuah meja kecil berisi peralatan terletak diatas sebuah meja (lagi) yang lebih besar yang ditumpangi tubuh suamiku. Sekujur tubuhnya tertutup selimut hijau. Aku tidak tau bagian mana kaki dan dimana kepala. Yang kulihat hanya sepetak perut yang telah terbelah, di bawah sorot lampu besar dan dikelilingi orang-orang bermasker dan berbaju hijau..

Itukah perut suamiku? Tempat aku sering menyandarkan kepala saat berbaring menonton tivi? Ya Allah...tetaplah di sisiku untuk memberiku kekuatan ganda..

Seseorang memegangi kedua bahuku dari belakang, mengarahkan langkahku agar tidak menyenggol aneka kabel dan peralatan dan atau menahanku agar tidak terlalu maju mendekati meja.

“Ibu.. “ seseorang berkaca mata memanggilku, wajahnya tertutup masker, dari suaranya aku tau dialah dokter bedah yang merawat suamiku, yang membelah perutnya...

“...ya, dok..” semua orang menghentikan kesibukannya dan beralih menatapku. Seorang perawat di sisi lain tempat tidur memegang sesuatu seperti sendok semen. Sebagian dari sendok itu berada di luar dan sebagian lain berada di dalam perut suamiku untuk menahannya agar tetap terbuka.

“Ibu kuat ya.. “ aku mengangguk, “ saya mau tunjukkan pada Ibu apa yang akan kami angkat, supaya Ibu tau mengapa harus diangkat..bla..bla...” aku tidak mendengar dengan jelas, aku masih mencari kepala suamiku... Sisi terdekat dariku atau yang jauh..?

“Tumornya yang ini, ini yang paling besar..” dokter memasukkan tangannya ke dalam perut yang terbelah dan ketika dia menariknya keluar, ditangannya tergenggam usus suamiku yang bengkak, seolah ada bola pingpong di dalam. 

Dokter itu memasukkan tangannya lagi, mengeluarkan lagi, masuk lagi, merogoh ke atas, kebawah, kesamping, keluar lagi... Setiap dia menarik tangannya keluar, tangan tersebut menggenggam bagian usus sambil terus menjelaskan..

“....trus yang ini... nah disini nggak ada... di sini ada lagi tapi lebih kecil, trus ini....kecil juga..”

Dia berhenti, memandangku yang bagai anak tersesat di tengah gurun pasir.

“Jadi tumornya banyak, Bu.. bla..bla..bla... “ aku ingin keluar, menjumpai suamiku di luar dan dia tengah sehat-sehat saja. Tetap bermain basket dengan kerennya, angkat beban dengan machonya, jogging dengan gagahnya.....tapi..dia di sini.. di atas meja operasi, dikelilingi makhluk hijau bermasker..dan.. dimana kepalanya..dimana wajah suamiku...??

Aku mencari-cari dengan mataku. Dan mataku tertumbuk pada lengannya yang terentang dan diikat di sisi kiri dan kanan meja ketika dokter bergerak agak menjauh dari meja operasi. Oh, jadi di sana kepalanya. Di sebelah kiri dokter, tertutup sebuah tirai pendek yang merentang diatas dadanya..........



11 komentar:

  1. Salam kenal mama vales,
    Moga cepat sembuh misua nya,Syafakallah,
    Laa ba'sa thogurun insyaAllah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, Mbak.. :)
      Amiin.. Insya Allah..

      Hapus
  2. kisah nyatamu, Mbak? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Eksak.. SEbagian dari lakon hidup yang harus kujalani.. :)

      Hapus
  3. Semoga lekas diberi kesembukan bagi suaminya mama vales.. sabar dan selalu berhusnudzon sama Allah

    BalasHapus
  4. mbak dewi hebat sekali
    kok bisa kuat melihat melihat semua itu...

    semoga mbak dewi masih diberi kekuatan ekstra
    karena perjuangan masih panjaaaaanggg.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah... Amiiinnnn
      Dipaksa kuat-kuatin, Jeng... :)

      Hapus
  5. ternyata mampu melihatnya ...insya Allah makin dikuatkan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinn.. Insya Allah, Mbak...
      Nggak ada jalan lain, udah mentok jadi harus kuat

      Hapus
  6. Mbak Dewi...kenapa baru ketahuan skrg yach? setelah tumornya besar dan banyak....ya Allah mudah2an cpt diberikan kesembuhan yachh

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...