Tampilkan postingan dengan label kerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerjaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Pengen Jadi Satpam

Temanku pernah bertanya sambil melirik tajam kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjaku:

"Akunting itu kerjanya cuma input2 data aja, kan?"
Aku terdiam beberapa jenak, berfikir, lalu menjawab: "iya.."
"Enak ya kayaknya kerjanya.."
Aku terdiam lagi, berfikir, menimbang; enak nggak ya kerjaanku inih? Lalu kujawab:"mungkin.."

Rabu, 28 Maret 2012

Sendiri Alone

Sendiri, di rumah yang udah bersih dan rapi jali, baca novel sambil dengerin musik, makan cemilan paporit. Duh, itu ueannnake tiada tara.

Sendiri, di pantai yang sepi, menyaksikan jejak matahari yang berlalu pergi, meninggalkan garis merah di tepi langit. Duh, itu syahdu tak terkira.

Sendiri, di tengah malam sunyi, menunduk di atas sajadah nan suci, mengadu dan bersimpuh di hadapan Illahi Rabbi. Duh, itu nikmat sekali...

Senin, 09 Mei 2011

Itu Aurat-ku

Masih seputaran telpon, Sodara-sodara. Di postingan 'Nyasar' kemarin, seorang sobat blogger yaitu Mba Nchie komen begini:
"..............Aku juga sering dapet yang gitu Mba,sebel banget,apalagi kalo kita gi repot,nerima telp yang ga penting hhmm penegn nonjok hehhe..*emosi nih*.. "

Nah, yang begini ini nih, sering banget aku alami.

Selasa, 22 Februari 2011

Malu bertanya belilah kompas

Harusnya hari ini gw bertugas melengkapi Net Book Value-nya data fixed asset yang mo dikirim ke tanah jiran sono. Tapi mengingat dan menimbang bahwa blog-ku udah sering terlantar gara-gara kerja (yang gw anggap nggak lebih penting dari blog), maka dengan ini gw memutuskan bahwa pekerjaan tak penting itu harus gw singkirkan dulu dengan semena-mena. Apa boleh buat, tai kambing bulat-bulat.

Jadi begitulah. Sebenarnya gw nggak tau mo nulis apa. :D Tapi IbuDini meminta gw mengerjakan PR ini: menuliskan sebuah kalimat inspirasi. Permintaan yang sulit ditolak, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak *jiahhh*. Jadi gw ingin berbagi tentang nasehat 'berlagak bodoh' -nya mak gw yang gw catat dengan tinta emas dihati gw dan gw amalkan dengan sebaik-baiknya.

Rabu, 16 Juni 2010

Tawaran dari Pak Kumis

Beberapa hari yang lalu Pak Kumis nanyain apa gw mau ditarik ke kantor pusat di Singapore. Gw tertegun melongo. Nggak nyangka, kaget and surprise banget. Jujur, gw nggak pernah mimpi sampai sejauh itu. Gw nggak pernah mimpi kerja di LN. Walaupun LN-nya deket-deket aja. Dari Bintan hanya sekitar 45 menit ke S’pore. Tapi tetap aja itu bukan Negara gw dan gw nggak nyaman, gitu loh (kampungan amat nggak sih).

Saat itu, gw hanya ketawa, ngerasa Pak Kumis mungkin hanya bercanda. Tapi tadi pagi dia menanyakan hal yang sama kembali. Dan gw kembali tertawa.

“Why?” dia bertanya terheran,” kamu tak ingin grow up? Kamu ingin disini-sini saja sepanjang hidup kamu? Come on… “

“That’s not possible, Pak”

“Why?” kali ini dia memandangku.

Aku cengengesan,” Bapak hanya bercanda, kan?”

“No la…. Untuk apa saya bercanda. Kayak kecakepan aja kamu saya becandain. Kalau kamu mau tak apa, saya akan bicara dengan Finance Manager di sana. Kecuali jika kamu hanya ingin jadi orang ‘kecil’ dan tinggal di sini sepanjang hayat kamu dan membuang kesempatan ini.”

“I’m not confident,” hhhaa...akhirnya terucap jua…

“Why?”

(Alamaakkk…wai wai lagi.. Itu aja kosa kata yang dia punya kali ya?)

Ya iyalah, gw nggak confident, secara sekolah gw juga nggak tinggi-tinggi amat, nggak lebih tinggi dari Ucok Baba, dan rasa percaya diri gw emang kelewat rendah, hanya sedengkulnya Ucok Baba. Gimana gw mau pergi-pergi..? Ke luar negeri pulak! Kalau sekedar jalan-jalan sih nggak masalah, ini kerja di sana, bergaul dengan orang sana, bicara bahasa mereka, tinggal di sana, jauh dari keluarga gw tercinta. Apa gw mampu, gituh?

Kemudian Pak Kumis ceramah, tentang gw yang udah punya cukup banyak pengalaman di bidang gw, tentang umur gw yang masih muda dan punya banyak kesempatan untuk berkembang, tentang gw yang nikah dengan sesama karyawan di perusahaan dia yang sebenanarnya haram hukumnya menurut policy perusahaan. Maka dari itu dia ingin memindahkan gw dari sini.

“Kamu tau, orang finance itu memegang banyak hal yang bersifat rahasia sebuah perusahan, sebenarnya mereka tidak boleh menikah dengan sesama karyawan di tempat kerja yang sama, karena dikhawatirkan akan membocorkan rahasia perusahaan (perasaan, gw nggak pernah ngomongin masalah kerjaan ma suami gw di rumah, cos kita udah terlalu sibuk dengan 'kerjaan' lain :D ). Salah satu mesti keluar dan di sini kamu adalah pengecualian. Kamu dapat perlakuan istimewa, ha? Tapi konsekwensinya kamu tidak boleh mengetahui sesuatu yang sangat-sangat confidential, artinya kamu nggak bisa ke jabatan yang lebih tinggi. Nah, kalau kamu mampu, jadinya kamu yang rugi.”


Aku manggut-manggut.

“Tapi di sana kan, perusahaan ini juga Pak. Di sana induknya di sini anaknya. Artinya, saya tetap satu perusahaan dong, dengan suami saya meski beda negaranya. Emang boleh kayak gituh? Atau mungkin saya berhenti kerja aja kali, Pak,” jurus oon mode on.

“Kalau berhenti kerja kamu mau kemana? Ada planning yang lebih baik? Atau kamu ingin jadi ibu saja, duduk di rumah, menjaga bayi dan memasak? I don’t think so. Kalau kamu sudah terbiasa bekerja akan sulit bagi kamu menjadi ibu rumah tangga sejati. Lagian kalau kamu di sana, suami kamu tetap di sini, itu nggak masalah saya rasa.”

Begitukah? Saya merasa sebaliknya, Pak. Akan banyak masalah jika gw jauh dari suami gw. Kalau dia tersesat jadi Ariel, gimana?Kalo dia bikin video suparno dengan cewek lain, gimana? Siapa yang susah, gw atau bapak?
Jadi, gw pikirin dululah Pak, sembari berfikir, gw akan belajar dan berlatih lebih keras agar ilmu kanuragan yang gw miliki lebih digjaya sebelum gw turun gunung. Ciaat…!



“Dewi, mulai bulan depan kamu akan saya beri more responsibility, more important job. Kamu belajar yang keras, ha? “

Aku menatapnya, menunggu kata-kata seperti; more benefit atau more money atau more fulus.
Semenit.
Dua menit.
Tiga menit.

Kayaknya nggak bakalan ada, deh. Pak Kumis berjibaku melototin dokument yang gw sodorin beberapa menit yang lalu, kemudian dia tandatangan dibarengi bibir manyun-manyun mengikuti arah goresan penanya. Trus disodorin ke gw.

"Any more?"
Ada, Pak. More job it's mean more fulus, right?





Kamis, 25 Maret 2010

Sex interview


Sabtu kemarin, aku kedatangan seorang temen. Dia ibu muda berusia sekitar 30 tahunan berputri satu. Dia bekerja di sebuah perusahaan milik Jepang di sebuah kawasan industri di Batam sebagai Finance staff.
Dia membawa cerita mengerikan tentang bos nya.

" Dew, aku mau minta pendapatmu," katanya pelan. Wajahnya serius dan sedikit ketakutan.
"Tentang apa? Serius amat lu!"
"Sstt..! Pelanin suara lo.."
"Oh..iya.. Paan sih.." aku ikutan berbisik.

Dan dia mulai bercerita.

"Bosku yang orang Jepang itu..."
Aku mendengarkan dengan seksama.
"Dia ngomong begini..." dia berhenti, seperti ragu-ragu. Ada genangan air di pelupuk matanya. Aku yang tadinya cengar-cengir langsung mengerucutkan bibir dan mengerutkan kening.

Bosnya orang Jepang, mungkin Pres-Dir atau Finance Manager, aku tak ingat. Yang jelas, si temanku ini, sebut aja namanya Della, setiap bulan mesti minta tanda tangan si Jepang untuk segala macam payment yang dia buat.

Si Jepang lumayan dekat dengan para staf nya. Diluar jam kerja dia kadang ngajak dinner bareng semua staff yang umumnya cewek. Tapi tidak berduaan, setidaknya dengan Della tidak pernah. Perubahan terjadi ketika akhirnya Della menikah dan hamil.

Si Bos mulai aneh.

Saat itu Della hamil tujuh bulan. Dia memasuki ruangan Si Jepang sambil membawa setumpuk cheque untuk ditanda tangan.

Dia menatap perut Della yang membuncit.

"That's big.." dia menunjuk perut Della.
Della tersenyum
"Iyalah, Bos. Ada bayi didalam."
"Are you ok?"
"Yes, no problem so far."
"Bagaimana kehidupanmu setelah menikah?"
Della sedikit heran dengan pertanyaan itu, tapi dia bilang:
"Baik-baik aja. Kenapa Bos?"
"Are you happy?"
"Of course."
Jeda sejenak.
"kapan kita dinner lagi?"
"Sekarang saya nggak bisa ikut lagi, Pak. Saya sudah menikah dan lagi hamil."

Bulan berikutnya, si Bos curcol tentang kehidupannya.

"Saya tak ada teman lagi untuk diajak dinner. Tak ada yang mau nemenin saya. Saya selalu dikantor hingga larut malam. Mungkin sudah saatnya saya pulang kampung," katanya pada Della.
Della hanya tersenyum, tak tau mau jawab apa. Emang pada dasarnya temanku ini kalem, sedikit pendiam dan banyak segannya.
"You know, Della.. I'm stuck!" katanya sambil nyengir.

Della mulai was-was, ini pembicaraan sudah mengarah ke jurang maut. Dari cara dia bicara, Della paham banget apa maksudnya.

"Anda kan bisa pulang ke S'pore setiap akhir pekan," Della mengajukan usul serampangan, secara si Jepang kan punya bini di S'pore.
"It's not enough, you know... One time a week?" dia geleng2 kepala.

Della kehilangan kata-kata, dia coba mengalihkan pembicaraan ke soal pekerjaan. Tapi hanya sesaat saja, si Jepang gatel mulai lagi.

"How about your sex live?"

What???

Pertanyaan macam apa ini? Della mulai merasa jengah,jengkel,jenuh. Sayangnya Della berusaha menutupi ketidaksukaannya atas pertanyaan si Jepang. Harusnya ditunjukin aja kalau memang tak suka. Bilang aja blak-blakan:
"Saya tak suka pembicaraan ini, Sir. Bisa kita bicara tentang pekerjaan saja, please?"

Tapi itulah Della, dia sulit mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

Lain waktu:

"I think, mungkin kamu bisa bantu saya, Della"
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
"Kamu sekarang hamil, bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu."

Della mengkeret. Jijik menatap si Jepang. Nggak sopan banget nanya2 tentang hal itu. Dan Della paham arah pembicaraan ini kemana.

Dasar tak tahu malu, si Jepang melanjutkan:

"I mean, your sex live"
Berusaha tenang, Della menjawab: "No problem"
"Saya dengar kamu kemarin pendarahan?"
"Iya, Pak."
"So, tidak apa-apa berhubungan sex?"
"Saya tidak melakukannya," Della gemetaran.
"Bagaimana dengan suami kamu, dia kan pasti butuh itu?" si Jepang tersenyum mengerikan.
"Dia tahu kehamilan saya tidak memungkinkan untuk itu, jadi dia tidak mau mengganggu saya untuk kepentingan sexnya."
"Good. Dia suami yang baik. But I'm sure, kamu bisa memakai cara lain untuk membantunya," si Jepang makin menjadi," seperti waktu kalian pacaran dulu, ehem...you can use your hand...or.....something like that."
"I did not do that! Sya tidak pernah melakukannya. Tidak mau dan tidak suka."
Jadi, dia minta tolong untuk itu? Megang2? Yang benar aja!

Keluar dari ruangan si Jepang, Della menangis di musholla milik perusahaan. Dia merasa terhina tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Kenapa harus aku?

Hal itu terus berlanjut hingga Della melahirkan dan kembali masuk kerja.
"Kamu sudah kembali bekerja"
"Iya, Pak"
"Apa segalanya baik-baik saja?"
"Ya.."
"Semua normal?"
Della diam.
"Your sex live? Normal? Seperti sebelumnya?"
Della tersenyum masam.
"Every day? Three times a week?"
"Anytime, anywhere.." Della menjawab asal.
Si Jepang tertawa.
"Saya pernah bilang sama kamu that I'm stuck. Dan sekarang masih stuck. Saya minta kamu untuk bantu saya. Orang yang sudah menikah pasti mengerti dan tau caranya."
"Silahkan cari orang yang bisa bantu Anda, Pak."
"Saya sudah coba. Saya pernah jumpa seseorang, masih muda. Cantik dan fresh. But no education. Tidak asyik di ajak ngobrol. Kaku. Saya lelah menghadapinya. Saya tidak bisa sama dia. Saya selalu ingat kamu. Kamu punya senyum yang manis, Kamu cantik, kamu enak diajak ngobrol. Kamu orangnya tenang, Kamu.... you know, bersikap seperti seorang lady. Tak ada disini yang seperti kamu. Saya perlu seseorang yang seperti kamu. Saya suka perhatikan kamu dari dulu....."
"Tidak perlu education," Della memotong sambil menahan gemetar, "Anda hanya butuh tangannya, kan? Banyak yang berbisnis itu disini, Pak"
"Noooo.....you don't understand. Beda rasanya, you know..."
"Jika mereka dalam bisnis itu, anda akan di service dengan bagus," Della memberanikan diri bicara.
"Justru itu, kalau saya cari seseorang seperti itu, saya tidak akan respect sama dia, karena saya membayar untuk service yang dia beri. Lain halnya kalau..ehem..you know..if you do that with someone you love, you respect each other...it's much different. Saya bicara tentang feeling...you know.."

Si Jepang terlihat gusar.
Della kesel.

"Kamu kan pernah melakukannya dengan suami kamu, kamu tau dong tekniknya. Kalau saya melakukannya dengan seseorang yang belum menikah, it's dangerous for me. Dan kalau terjadi apa-apa (maksudnya hamil?-pen), saya akan dituntut. Kalau dia bersuami, tak ada orang yang tau."
Oh, jadi itu alasannya? Dasar gila!

"Hanya pegang saja. Tidak susah" katanya lagi.
"Saya tidak mau, saya tidak suka" Della menjawab, setengah putus asa. Capek.
"Dengan suami kamu?"
"Tidak pernah." (aku yakin ini bohong-pen)
"Why?"
"Tidak suka"(bohong lagi, I'm sure-pen)
"Tolonglah saya, please"
"Tidak, Pak. Maaf, I can't!" (kenapa harus minta maaf coba? - pen)
"Yes, you can" si Jepang ngotot.

*****

Aku menarik nafas mendengar cerita Della. Stahu aku, Della cewek kalem. Nggak centil apalagi genit. Nggak pernah berpakaian sexi apalagi rok mini. Kok si Jepang ngebet banget ya?
"Tolonglah aku, Dew. Apa yang harus kulakukan?"
"Pindah kerja?"
"Aku udah lamar sana-sini. Blom dapet juga. Aku pengen resign, tapi kamu tau lah.. Aku banyak tanggungan. Masih ada adikku yang kuliah dan harus kubantu. Aku tak bisa kalau nggak kerja," Della mengeluh.
"Suamimu tau?"
"Nggak, Dew. Aku nggak berani kasih tau dia. Nanti dia ngamuk, nyari si Jepang trus di mutilasi. Ih..!"
"Iya, ya... Ntar kita perang lagi ma Jepang..."
"Ah, kau ini.."
"Jepang nggak henti-hentinya menjajah kita ya..."
"Dewiiiii...!! Aku serius nih.. Aku harus gimana?"
"Eh, bilang aja terus terang. Gini nih: Pang, sejujurnya gw nggak suka lo ngomong gitu ma gw, Pang. Gw bukan pe***ur. Gw punya suami. Gw nggak kan pernah ngelakuin yang lo minta. Udah."

Gimana pendapat Anda, Readers? Della harus gimana? Ada ide?


Note: Temanku menceritakan dalam bhs Inggris campur bahasa Indonesia. Karena si Jepang ngomong pake English, Della menirukan ucapan asli si Jepang dan aku menterjemahkan sebagian secara bebas-sebebas-bebasnya, tapi tidak melenceng dari maksud dan tujuannya. Sumpe!

Senin, 15 Maret 2010

HARPITNAS

Hari ini hari HARPITNAS, HARi kejePIT NASional. Iyalah, kemarin Minggu, libur.trus hari ini masuk, eh, besok tanggal merah. Libur lagi. Kan sebenarnya nanggung banget masuk kerja hari ini. Nanggung liburnya. Nanggung bangun siangnya.

Hari ini, bangun pagi aja udah penuh perjuangan. Kalau tetangga depan nggak nyetel tape keras-keras dan melantunkan lagu Batak yang menjerit-jerit ampe serak gituh, mungkin aku blom bangun tuh.. Udah lagunya jejeritan, speakernya pecah lagi. Bunyinya persis kayak kaleng rombeng dilempar dari lantai 3 ruko Koko Ah Seng di seberang jalan.

Aku menggerutu dalam hati. Harusnya kita di liburin ajah kayak pegawai negeri atau anak sekolah. Itu Maunya aku sih… Tapi karena disini diriku bukan di posisi sebagai pembuat keputusan, ya udah.. Kita pasrah aja deh, disuruh tetap masuk kerja hari ini, walaupun dengan hati menjerit bagai ken**t kejepit.

Nyampe di kantor, seperti sudah bisa diprediksi (halah..) banyak manusia yang gak masuk kerja. Kena flu lah, pilek lah, mencret lah… Adaaaa…aja alas an ke Hoka-Hoka Bento..eehh…ngawur… alas an nggak masuk kerja, maksute.

Si Accountant Sableng, juga ikutan nggak masuk tuh. Jum’at kemarin dia bilang gini:

“ Aku nggak masuk yah, Senin. Kalo ada yang mau di sign kasih aku hari ini,” titahnya dengan wajah amat-tak-sedap-dipandang-mata.

Emang sih, dalam keadaan bagaimanapun jua, wajahnya slalu tak sedap dipandang mata. Tapi mendengar niat tulusnya untuk nggak masuk kerja Senin ini, aku menyambutnya dengan penuh suka cita. Rasanya semriwing hati ini.

“Emang lo mau kemana,” tanyaku basa-basi. Biar nggak nampak banget senangnya.
“Aku mau sakit,”
“Eh, emang sakit bisa di planning?”
“Bisalah. Buat aku apa yang tak bisa,” dia berkata dengan wajah dongok khasnya dia.
“Baguslah,” jawabku sambil memberikan setumpuk document untuk dia cek sebelum di approve sama Bos Besar.

“Banyak banget nih… Gila lo ya…”semburnya.
“Ya, segini ini.”
“Aaaghhrrr… Ini urgent, ya? Aku masuk aja deh, Rabu. Urgent nggak, urgent nggak, urgent nggak?” seperti biasa, dia suka bertanya dan tak suka dijawab.

Coba deh, kalau dia mau pertanyaanya dijawab, pasti dia nggak memuntahkan pertanyaan yang sama berulang-ulang dan nggak ngasih kesempatan kita buat ngejawab. Kayak senapan mesin ajah!

Seperti biasa, aku meradang.
“Apa sih! Bising, tau nggak! Nih, yang urgent,” aku memilah-milah beberapa document dan nyerahin ke dia,”Lo nggak usah masuk Rabu depan. Libur ajah. Ini nggak urgent banget kok!” aku balas bentak sambil mengambil kembali beberapa document yang nggak urgent.

Daripada dia masuk Rabu depan, dan mataku lelah mlototin jerawat nya yang gede-gede, bagus dia cek sebagian dokumen dulu aja. Trus, biar dia puas-puasin dulu libur dirumah, dan aku juga senang kerja tanpa dia. Biz suka ngerecokin aja tuh orang. Judulnya aja “ATASAN” yang ada tukang ngerecokin, tukang nyusahin.

So, disinilah aku sekarang. Seorang diri disini. Senang rasanya bisa kerja dengan damai tanpa pelotot-pelototan dan bentak-bentakan sama si Sableng. Biarpun hari ini hari kejepit, tapi aku nggak ngerasa terjepit banget. Malah rada senang karena nggak ada dia.

Dan sore ini aku makin happy, coz besok libur lageeeeeee,…..!!!
Horee…!!

Senin, 21 Desember 2009

Maaf, aku selingkuh...


Maaf, aku selingkuh...Hingga jarang mengunjungimu kini...
Aku menyukai dia, tapi aku juga masih sayang padamu..
Tentu saja, kau adalah cinta pertamaku..

Maafkan aku, meski aku jarang menjumpaimu lagi,
bukan berarti aku sudah melupakanmu,
Sesekali aku masih kesini, memandangmu yang semakin hari semakin sepi...
Kadang aku hanya datang untuk bertandang,
melihat kalau ada tamu yang datang...

Tapi kau tetap saja sepi,
Bagaimana orang mau berkunjung kalau aku sebagai pemilikmu aja jarang datang..

Blog-ku, aku mau mengakui persilngkuhanku..
Aku berselingkuh dengan blog di WP, namun sekarang dia sudah kutinggalkan...
Sekarang, dia terbengkalai tak berpenghuni...
Terlantar...
Karena aku tertarik (lagi) dengan FB....
Disana aku enjoy...
Banyak teman yang kudapatkan,
dan yang paling penting, aku nggak perlu mikir panjang untuk mosting disana..
hehehe... dan nggak perlu panjang-panjang kalo mosting.
kalau padamu, aku butuh seharian ngelamun, baru dapat ide postingan..
kadang ngelamunnya udah over limit, tapi ide belum kudapatkan jua...

Di FB, aku tinggal nulis beberapa patah kata yang detik itu nongol di benakku yang rada-rada beku ini...
Dan asyiknya selalu ditanggapi teman-temanku yang kehilangan akal sehatnya akan bermutu atau tidaknya sebuah postingan...
Kayak kemarin, aku cuma nulis: "blank............."
Eh, pada ninggalin komen tuh disana,
Atau aku tulis gini: "libur tlah tiba, hoye..hoye..hoye..!"
mereka komen juga... hihihi.. heran ya, apa mereka nggak punya kerjaan lain selain ngomenin hal-hal yang nggak penting gitu..?
Tapi aku senang, very happy....
Ada yang nanggapin, ada yang care akan daku...
Kalau disini, aku sering di cuekin.... :(
ya karena itu tadi, yang di posting nggak pernah penting, hehehe...

yang medihin hati, aku pernah mampir di beberapa blog, mbaca, ninggalin komen...
eh, jangankan berkunjung balik, mbalas komen aja nggak..
Sekali dua kali sih, nggak papa...
Kalau udah berkali-kali digituin kan aku jadi ilfil juga....
Trus, malu juga nggak dianggap gitu...
kalo di FB, aku jarang di cuekin...

Makanya blog, aku jarang datang, Kadang aku cuma mampir kesini, karena pengen nge-klik link blog yang asyi-asyik kayak blognya Mbak Tuti, Omiyan, Bendol, Yoan, Mbak Yoez dll yang ada di daftar "Nice Blog"
Seringnya aku cuman mbaca tanpa komen, biz aku selalu buru-buru karena ada selingkuhan lain sedang manungguku: yaitu kerjaan yang numpuk di kantor.
Andai aku punya lebih banyak waktu...

Pernah aku punya planning, bakal bikin postingan di rumah, selepas jam kerja.. Toh, ada komputer juga dirumah, walaupun komputer itu dah sepuh, tapi dia masih mampu menampung data yang ku jejalkan dengan paksa ke "otak" nya...
Tapi aku nggak tega ninggalin Valeska.
Masak udah seharian di tinggal kerja, masih harus di tinggal ngeblog juga..??

hhhh... blog, maafkanlah aku...
terlalu banyak perselingkuhan yang kulakukan di belakangmu....
Tapi bukan berarti aku nggak sayang lagi padamu...
Kau tetap cinta pertamaku...
Lain waktu aku akan lebih memperhatikanmu,
Jangan sedih, ya.. tunggu aku..!

lop u boreber........
mmuuaahh...

Note: aku sudah menahan diri untuk tidak membuat account baru di Twitter...hihihi...
Takut dirimu jadi terlonte-lonte, eh terlunta-lunta gitchu... Maab...!





Gambar diambil dari sini

Jumat, 11 Desember 2009

Antara nyamuk, aku dan Tri


Ket.gambar: Aku dan Tri

Jam 5, Pagi-pagi,
Alarm berbunyi…
Aku bangun, shalat Subuh, biz tu tidur lagi…
Stengah tujuh, bangun lagi…
Aku sikat gigi, mandi, sarapan pagi, sikat gigi lagi…

Aku keluar rumah,
Udara Cerah…
Aku starter motorku yang indah..
Satria berwarna merah…

Pamit sama Mama dan Valeska,
Aku ngebut di jalan raya…
Sepuluh menit setelahnya,
Aku sampai juga…

Kantorku yang indah, tak megah namun ramah…
Aku masuki dengan gagah,
Walau gajiku murah meriah,
Disinilah cintaku tercurah..

Jam 8 pagi,
HP ku berbunyi…
SMS dari Tri, anggota seperjuanganku disini…
“Mbak, aku mc 2 hari; esok dan hari ini…”
Alamak, matilah aku kini…

Kutatap meja penuh kertas,
Aku duduk dengan lemas,
Aku pilah-pilah kerjaan dengan cemas,
Mana yang urgent, mana yang harus masuk peti kemas………
Aku bekerja bergegas-gegas,
Tak hirau telpon yg berdering keras-keras,
Tapi email tetap ku balas,
Akhirnya aku lelah dan lemas

Siang hari,
Dengan lelah, aku beringsut ke kantin sebelah,
Kuisi perut yang begah…

Ku coba sms Tri, ada apa dengan dia…
Dia balas dengan pantas, “ Aku sakit chikungunya..”
Ahhhhh…. Aku terperangah…

“Kok, iso sih Tri?”
“Meneketehe… Lah, Mbak bulan lalu kok iso kena malaria..?
“Ye, meneketehe juge…”
“Mangkenye…”

Akhirnya aku pasrah, bulan lalu Tri juga lelah,
Mengerjakan perkerjaanku dan pekerjaannya sekaligus,
Karena aku terperangkap dirumah sakit; Malaria...


Sekarang giliranku pula,
Mengerjakan pekerjaannya dan pekerjaanku sekaligus,
Karena sekarang giliran Tri terperangkap di rumah sakit; Chikungunya…



Sorenya,
Walau tulang rasa mau patah,
Aku kebut Satria merah, aku pulang kerumah..
Aku sungguh lelah, kepalaku rasanya mau pecah…

Hanya satu, penyebab semua ini terjadi:
NYAMUK!

Kok iso yo….???


Gambar nyamuk diambil dari sini dan sini

Jumat, 12 Juni 2009

Good bye, Bos

Nggak ada yang aneh lagi disini.
Semua yang aneh ud pada pergi. Temanku yang gak bisa komputer udah resign bulan lalu. Dia malah milih jadi sopir di hotel, padahal dia S1. Huh, ternyata walaupun udah jauh, dia masih aneh aja....

Bos ku yang digigitin kepinding juga udah resign. Sehabis dihajar kepinding itu, dia masuk cuman dua hari. Besoknya dia nelpon bilang masih sakit nggak bisa masuk.
"Tolong Mbak Dewi handle dulu yah..."
Baiklah, Pak. Demi anda daku rela jadi tumbal auditor.

Seminggu kemudian, tak ada lgi telphone, tak ada sms. Bapak itu hilang terbawa kepinding..eh, terbawa angin.
Dimanakah dia? Nggak ada yang tau.

Hingga pada suatu hari si Big Boss muncul diruanganku yang dingin membeku ini.
"Dewi, is everything ok?"
"Yes, Bos!" halah... kalo sama bos mah semua juga ok.
"Do you know, I want to employ someone for accompany you here," sambil matanya jelalatan memandangi seantero ruangan.
"Young man and handsome," dia tersenyum mentel.
"For my assistant?" wah... gw naik pangkat nih...
"No, your superior," sialan. Kirain...
"How about Pak S, Bos?"
Dia menggeleng,"don't wait for him,"eh, sapa juga yang nunggu die...

Aku memandang kulit muka pucat si bos yang agak keriputan, aku hendak bertanya: Apa Pak S tewas dihabisi kepinding? Ah... sungguh malang nasibnya.
"If you can handle everything, so dia tak usyah datang lagi..." mak! enak betul dia ngomong. I can handle everything without money? no way! Bayarannya dulu dong. Bayarannya cukup lu juga bisa gw handle. Halakh...! Opo iki.
"Dia resign, ya Bos?"
"I hope so. Dia kelja suka-suka, macam dia lebih bos dali saya. Saya datang pagi dia belum datang. Tak bisa ini macam, I employ him, bukan dia employ saya," tuh, ngomong udah gado-gado tuh. Gw malah jadi bingung.
"Ya udah deh, bos.. Terserah bos ajah...!"
"Macam sekalang, ha.. Yu manyak kelja, dia pelgi..."
"Yo-i!"
"Tak bagus ini macam,"
"Tul!"
Trus, dia ngeloyor keluar. Hah..! lega deh, gw. Udah bhs Inggris gw belepotan, bhs Indo dia juga belepotan. Bah! yang penting oh yes, oh no aja deh... Soal ngarti pa kagak, nanti aja dipikirin.

Yah, begitulah. Seminggu kemudian datanglah lelaki muda nan "handsome" itu. Handsome dari hongkong! Gw liat dari sudut pandang manapun jua, nggak ada bagian handsome itu didirinya. Wajahnya? Jangan ditanya deh! Ntar dibilang menghina ciptaan Tuhan. Sikapnya juga arogan, ngomong ama gw kayak ngomong ma pembokat. Gw judesin deh tuh orang. Gw sumpahin dia dihajar kepinding lebih parah dari Pak S.

Ketika di handsome lagi ke toilet, my big bos datang senyum-senyum. Dasar bos gendheng.
"Ya, Bos?"
"Do you like him?"
"Absolutely, no!"
"Why?"
Gw tersenyum pahit. Asem. Dia juga tersenyum penuh kemenangan, merasa berhasil menipu gw. Ketika mau buka pintu, gw teriakin.
"Bos!"
Dia berbalik
"You lie to me,"
"About?"
Eh, blon lagi dijawab si handsome masuk. Gw mingkem deh. Si bos mendekati meja gw, masih penasaran.
"About what?"
Gw mendelik, nggak mudeng banget siy jadi orang?
"Him" gw berbisik.
Si bos ketawa ditahan, cuma kedengaran suara ngos-ngosan kayak orang asma.
Dasar!

Jumat, 08 Mei 2009

Bos aneh- ku

Hari ini ada audit (lagi).
Gila nih perusahaan. Februari kemarin audit 2008. Sekarang audit lagi untuk 2009. Baru juga jalan 4 bulan, Bo' udah di audit. Sampe-sampe gw nggak sempat melongok blog gw sendiri, apalagi bikin posting. Ke kantor pos aja nggak sempat.. (idih, apa hubungannya???)

Seperti biasa, kalau lagi "hilang kewajiban" untuk shalat Subuh, dapat dipastikan gw bangun kesiangan. Nggak siang-siang banget sih, jam 6-an gitu. Tapi tetap aja keduluan matahari...hehehe...

Begitu bangun bukannya langsung mandi. Ngaca dolo, Bo'. Siapa suruh ada kaca nangkring di dekat pintu kamar mandi. (Ngomong-ngomong sapa yang narok tu kaca ya?) Udah puas ngaca, baru mandi. Sambil nyanyi-nyanyi. Lagu nggak karuan malah kayaknya kampungan... (pinjam lagunya Jamrud)

Abis mandi so pasti dandan ya, bo' ya... Namanya juga prempewi alias cewek alias perempuan. Lagi asyik-asyik nemplokin bedak ke pipi, tiba-tiba benda tipis mungil di meja kamar melantunkan lagu berbahasa kampungnya Esmeralda yang aku nggak ngerti artinya tapi asoy geboy goyangannya.

Telpon dari bos gw nyang aneh.

GW : Halo.... (sambil ngoles lipstik dibibir, mumpung lagi monyong)
Bos : Halo, Mbak Dewi udah bangun...?
Gw : Ya udahlah, Pak. Masa jam segini blom bangun? Ini dah mau berangkat kerja. Kenapa, Pak? Ada yang bisa dibanting?

Bos : Hehehe.... Nggak nih, saya agak kurang enak badan.(Emang pernah lu sehat kalo ada audit? Prasaan setiap ada audit lo nggak enak badan mulu, trus gw deh jadi umpan peluru...)
Gw : (menahan kesel) Mang sakit apa, Pak? Sakit mulu nih.. Kebanyakan 'kale, Pak.
Bos : Hehehe... Nggak...! saya nih kurang darah... Darah saya habis di hisap kepinding.
Gw : ............. (bengong) Maksute Pak? Bapak miara kepinding and kasih makan pake darah Bapak?
Bos : Ya nggak lah. Nggak saya piara tapi datang sendiri. Ada ratusan kepinding di kasur dormitory (mess - Red). Bahkan disarung untuk saya sholat pun ada. Gimana jadinya tuh, Mbak Dewi.
Gw : Ih, Bapak jorek ya...?
Bos : Bukan. Saya pindah kesana udah ada kepindingnya gitu kok. Habis darah saya Mbak Dewi. Saya duduk aja berkunang-kunang, pusing. Apalagi kerja.
Gw : (mencibir, untung dia nggak liat) Diisap ampe abis ya Pak, darahnya.. (mencibir lagi)
Bos : Iya, kayaknya...
Gw : Kepinding sekarang emang kayak gitu, Pak. Lain sama kepinding jaman saya dulu. Ngalah-ngalahin vampir. (Mencibir lagi) Ya udah, Bapak istirahat deh... Biar saya yang kerja. Ntar gaji Bapak transfer ke saya ya.
Bos : Hehehe... n@gm#ngn%^&*g&o(0oe$n%g (ngomong nggak jelas)
Gw : (Menjulurkan lidah ke hand phone)
Bos : Oke Mbak Dewi, ntar kalau ada apa-apa telpon saya aja.
Gw : Ya deh... Don't worry Pak.

Btw, ada yang nggak tau kepinding? Itu tuh, kutu busuk yang suka hidup di kasur yang jorok.
Ada yang nggak tau kutu busuk? Tanya bos gw tuh. Miara kutu busuk kok ampe ratusan.

Minggu, 28 Desember 2008

There's no holiday dimare...

Kantor sepi.

Hanya ada aku dan beberapa teman yang bermuka kusut duduk terpuruk didepan komputer masing-masing. Boring, lapar, capek, lemas, kesal, marah nggak tau mau diungkapkan pada siapa.

Mulai tanggal 25 Desember kemarin, saat teman-teman menikmati libur natal bersama keluarga, kami malah terpuruk diruangan berkaca ini. Hingga hari ini, Minggu 28 Desember, masih saja kami disini. Dihari-hari normal biasanya kami libur pada Sabtu dan Minggu. Tapi bulan ini tidak. Tidak ada libur sampai semua data yang diminta selesai, dalam artian 99,99% akurat dan terpercaya (kayak Liputan 6 aja..hehe..)

"Saya minta tulung, finance team halus masuk dali tanggal 25 sampai tangal 1 Januali nanti. Selesaikan semua data sebelum kita go live..," kata bos-ku dengan bahasa Indonesianya yang cadel dan terpatah-patah.

Begitulah, akhirnya disinilah kami hari ini dengan muka kusam, jidat berminyak, pipi mengkilap dan ketiak bau angus. Meninggalkan keluarga dirumah dengan hati pedih..hiks...hiks... (ck.ck..ck...hiperbolis skali...)

Yang paling kasihan itu Pak Widodo, dari hari Kamis kemarin baru 1 malam dia tidur dirumah, selebihnya tidur di kantor. Saya masih mending, hari Kamis datang siang dan pulang sebelum malam..hihihi..., hari Sabtu saya bolos dengan alasan ada syukuran dirumah keluarga ipar, hari ini datang siang setelah bolak-balik ditelpon dan ditanyai ini itu. Daripada capek ngangkat telpon dan dirumah tetap nggak bisa istirahat karena diganggu terus oleh deringan telpon, akhirnya saya putuskan untuk datang kekantor.

Nyampe dikantor langsung bantu-bantu teman misahin file-file. Soalnya untuk bagian saya, sebenarnya udah nggak ada masalah, karena kemarin data yang diminta udah dikirim via email. Paling tinggal ngecek dikitlah jikalau ada yang perlu direvisi. Setelah merasa semua oke, langsung deh buka blog. Ngecek komentar, blogwalking, setelah itu bikin postingan nggak penting ini.

Sekarang, udah jam 9 lewat. Perut udah mulai nyanyi, kepala mulai berdenyut, mata berkunang-kunang (apakah itu pertanda cacingan? Tentu tidak...) Diatas meja ada 2 nasi bungkus (untukku dan Diah), sebungkus kacang garing Dua Kelinci dan sebungkus biskuit Khong Guan. Mungkin ada baiknya saya cicipi dulu satu persatu, sapa tau ada perubahan rasa dan aroma..xixixixi....(bilang aja mo makan, rakus!)

Sambil mengunyah kacang goreng yang garing itu, kulirik Diah yang sedang berkutat dengan kertas besar ukuran A3 ditangannya. Mulutnya manyun saking seriusnya..hihihi. Saya rasa dia sedang kelaparan, tapi jangankan mau makan nasi, makan kacang goreng aja dia nggak sempat. Tadi dia pesan nasi Padang plus kerupuk sama Pak Supri, tapi yang di beliin cuman nasinya doang, kerupuknya tinggal di pabrik kerupuk..hehehe.. Kasian anak itu...

Sejujurnya saya lapar banget, karena tadi siang makan cuman dikit, tapi saya nggak tega mau makan duluan. Sejujurnya lagi bisa saja saya berlalu dan meninggalkan kantor yang sudah bau menyan ini, pulang kerumah, nonton tipi sambil makan nasi Padang ini, kemudian tidur sambil memeluk Valeska-ku. Tapi saya nggak tega ninggalin Diah sendirian sebagai atu-atunya cewek disini. Terlebih lagi, tadi kan dia berangkat kantor nebeng daku, kalau ditinggal ntar dia pulang ma sapa coba? Kalau dia diculik tukang ojek trus dijadiin istri simpanan kan nggak lucu...

Ah... akhirnya Diah menyerah juga. Ngajak pulang. Sakit perut katanya. Okelah, dengan rasa bahagia tak terkira saya tersenyum sumringah menatap wajahnya.

"Ayok Mbak Dew, kita pulang.. Diah udah nggak kuat lagi..."

Hmmm, baiklah.
Postingan nggak berguna ini sekian dulu, saya mau pulang, makan, dan tidur sambil memeluk Valeska dan (tentu) kami berdua dipeluk papa Valeska... Pasti nyenyak tuh tidurnya ampe pagi. Besok mungkin akan ada hal tak berguna lagi bakal diposting dimari...

Bye... :)