
Sabtu kemarin, aku kedatangan seorang temen. Dia ibu muda berusia sekitar 30 tahunan berputri satu. Dia bekerja di sebuah perusahaan milik Jepang di sebuah kawasan industri di Batam sebagai
Finance staff.
Dia membawa cerita mengerikan tentang bos nya.
" Dew, aku mau minta pendapatmu," katanya pelan. Wajahnya serius dan sedikit ketakutan.
"Tentang apa? Serius amat lu!"
"Sstt..! Pelanin suara lo.."
"Oh..iya.. Paan sih.." aku ikutan berbisik.
Dan dia mulai bercerita.
"Bosku yang orang Jepang itu..."
Aku mendengarkan dengan seksama.
"Dia ngomong begini..." dia berhenti, seperti ragu-ragu. Ada genangan air di pelupuk matanya. Aku yang tadinya cengar-cengir langsung mengerucutkan bibir dan mengerutkan kening.
Bosnya orang Jepang, mungkin
Pres-Dir atau
Finance Manager, aku tak ingat. Yang jelas, si temanku ini, sebut aja namanya Della, setiap bulan mesti minta tanda tangan si Jepang untuk segala macam payment yang dia buat.
Si Jepang lumayan dekat dengan para staf nya. Diluar jam kerja dia kadang ngajak dinner bareng semua staff yang umumnya cewek. Tapi tidak berduaan, setidaknya dengan Della tidak pernah. Perubahan terjadi ketika akhirnya Della menikah dan hamil.
Si Bos mulai aneh.
Saat itu Della hamil tujuh bulan. Dia memasuki ruangan Si Jepang sambil membawa setumpuk
cheque untuk ditanda tangan.
Dia menatap perut Della yang membuncit.
"
That's big.." dia menunjuk perut Della.
Della tersenyum
"Iyalah, Bos. Ada bayi didalam."
"
Are you ok?"
"
Yes, no problem so far."
"Bagaimana kehidupanmu setelah menikah?"
Della sedikit heran dengan pertanyaan itu, tapi dia bilang:
"Baik-baik aja. Kenapa Bos?"
"
Are you happy?"
"
Of course."
Jeda sejenak.
"kapan kita
dinner lagi?"
"Sekarang saya nggak bisa ikut lagi, Pak. Saya sudah menikah dan lagi hamil."
Bulan berikutnya, si Bos curcol tentang kehidupannya.
"Saya tak ada teman lagi untuk diajak dinner. Tak ada yang mau nemenin saya. Saya selalu dikantor hingga larut malam. Mungkin sudah saatnya saya pulang kampung," katanya pada Della.
Della hanya tersenyum, tak tau mau jawab apa. Emang pada dasarnya temanku ini kalem, sedikit pendiam dan banyak segannya.
"
You know, Della..
I'm stuck!" katanya sambil nyengir.
Della mulai was-was, ini pembicaraan sudah mengarah ke jurang maut. Dari cara dia bicara, Della paham banget apa maksudnya.
"Anda kan bisa pulang ke S'pore setiap akhir pekan," Della mengajukan usul serampangan, secara si Jepang kan punya bini di S'pore.
"
It's not enough, you know...
One time a week?" dia geleng2 kepala.
Della kehilangan kata-kata, dia coba mengalihkan pembicaraan ke soal pekerjaan. Tapi hanya sesaat saja, si Jepang gatel mulai lagi.
"
How about your sex live?"
What???
Pertanyaan macam apa ini? Della mulai merasa jengah,jengkel,jenuh. Sayangnya Della berusaha menutupi ketidaksukaannya atas pertanyaan si Jepang. Harusnya ditunjukin aja kalau memang tak suka. Bilang aja blak-blakan:
"Saya tak suka pembicaraan ini, Sir. Bisa kita bicara tentang pekerjaan saja, please?"
Tapi itulah Della, dia sulit mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
Lain waktu:
"
I think, mungkin kamu bisa bantu saya, Della"
"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"
"Kamu sekarang hamil, bagaimana hubungan kamu dengan suami kamu."
Della mengkeret. Jijik menatap si Jepang. Nggak sopan banget nanya2 tentang hal itu. Dan Della paham arah pembicaraan ini kemana.
Dasar tak tahu malu, si Jepang melanjutkan:
"
I mean, your sex live"
Berusaha tenang, Della menjawab: "
No problem"
"Saya dengar kamu kemarin pendarahan?"
"Iya, Pak."
"
So, tidak apa-apa berhubungan sex?"
"Saya tidak melakukannya," Della gemetaran.
"Bagaimana dengan suami kamu, dia kan pasti butuh itu?" si Jepang tersenyum mengerikan.
"Dia tahu kehamilan saya tidak memungkinkan untuk itu, jadi dia tidak mau mengganggu saya untuk kepentingan sexnya."
"
Good. Dia suami yang baik.
But I'm sure, kamu bisa memakai cara lain untuk membantunya," si Jepang makin menjadi," seperti waktu kalian pacaran dulu, ehem...
you can use your hand...or.....something like that."
"
I did not do that! Sya tidak pernah melakukannya. Tidak mau dan tidak suka."
Jadi, dia minta tolong untuk itu? Megang2? Yang benar aja!
Keluar dari ruangan si Jepang, Della menangis di musholla milik perusahaan. Dia merasa terhina tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Kenapa harus aku?
Hal itu terus berlanjut hingga Della melahirkan dan kembali masuk kerja.
"Kamu sudah kembali bekerja"
"Iya, Pak"
"Apa segalanya baik-baik saja?"
"Ya.."
"Semua normal?"
Della diam.
"
Your sex live? Normal? Seperti sebelumnya?"
Della tersenyum masam.
"
Every day? Three times a week?"
"
Anytime, anywhere.." Della menjawab asal.
Si Jepang tertawa.
"Saya pernah bilang sama kamu
that I'm stuck. Dan sekarang masih
stuck. Saya minta kamu untuk bantu saya. Orang yang sudah menikah pasti mengerti dan tau caranya."
"Silahkan cari orang yang bisa bantu Anda, Pak."
"Saya sudah coba. Saya pernah jumpa seseorang, masih muda. Cantik dan
fresh.
But no education. Tidak asyik di ajak ngobrol. Kaku. Saya lelah menghadapinya. Saya tidak bisa sama dia. Saya selalu ingat kamu. Kamu punya senyum yang manis, Kamu cantik, kamu enak diajak ngobrol. Kamu orangnya tenang, Kamu.... you know, bersikap seperti seorang
lady. Tak ada disini yang seperti kamu. Saya perlu seseorang yang seperti kamu. Saya suka perhatikan kamu dari dulu....."
"Tidak perlu education," Della memotong sambil menahan gemetar, "Anda hanya butuh tangannya, kan? Banyak yang berbisnis itu disini, Pak"
"
Noooo.....you don't understand. Beda rasanya,
you know..."
"Jika mereka dalam bisnis itu, anda akan di
service dengan bagus," Della memberanikan diri bicara.
"Justru itu, kalau saya cari seseorang seperti itu, saya tidak akan
respect sama dia, karena saya membayar untuk service yang dia beri. Lain halnya kalau..ehem..
you know..
if you do that with someone you love, you respect each other...it's much different. Saya bicara tentang
feeling...you know.."
Si Jepang terlihat gusar.
Della kesel.
"Kamu kan pernah melakukannya dengan suami kamu, kamu tau dong tekniknya. Kalau saya melakukannya dengan seseorang yang belum menikah,
it's dangerous for me. Dan kalau terjadi apa-apa
(maksudnya hamil?-pen), saya akan dituntut. Kalau dia bersuami, tak ada orang yang tau."
Oh, jadi itu alasannya? Dasar gila!
"Hanya pegang saja. Tidak susah" katanya lagi.
"Saya tidak mau, saya tidak suka" Della menjawab, setengah putus asa. Capek.
"Dengan suami kamu?"
"Tidak pernah." (
aku yakin ini bohong-pen)
"Why?"
"Tidak suka"(
bohong lagi, I'm sure-pen)
"Tolonglah saya, please"
"Tidak, Pak. Maaf, I can't!"
(kenapa harus minta maaf coba? - pen)
"Yes, you can" si Jepang ngotot.
*****
Aku menarik nafas mendengar cerita Della. Stahu aku, Della cewek kalem. Nggak centil apalagi genit. Nggak pernah berpakaian sexi apalagi rok mini. Kok si Jepang ngebet banget ya?
"Tolonglah aku, Dew. Apa yang harus kulakukan?"
"Pindah kerja?"
"Aku udah lamar sana-sini. Blom dapet juga. Aku pengen resign, tapi kamu tau lah.. Aku banyak tanggungan. Masih ada adikku yang kuliah dan harus kubantu. Aku tak bisa kalau nggak kerja," Della mengeluh.
"Suamimu tau?"
"Nggak, Dew. Aku nggak berani kasih tau dia. Nanti dia ngamuk, nyari si Jepang trus di mutilasi. Ih..!"
"Iya, ya... Ntar kita perang lagi ma Jepang..."
"Ah, kau ini.."
"Jepang nggak henti-hentinya menjajah kita ya..."
"Dewiiiii...!! Aku serius nih.. Aku harus gimana?"
"Eh, bilang aja terus terang. Gini nih:
Pang, sejujurnya gw nggak suka lo ngomong gitu ma gw, Pang. Gw bukan pe***ur. Gw punya suami. Gw nggak kan pernah ngelakuin yang lo minta. Udah."
Gimana pendapat Anda, Readers? Della harus gimana? Ada ide?
Note: Temanku menceritakan dalam bhs Inggris campur bahasa Indonesia. Karena si Jepang ngomong pake English, Della menirukan ucapan asli si Jepang dan aku menterjemahkan sebagian secara bebas-sebebas-bebasnya, tapi tidak melenceng dari maksud dan tujuannya. Sumpe!