Tampilkan postingan dengan label anakku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anakku. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

Tahun Tercengeng

Aku berhenti di depan sebuah mesjid, menyusut air mata lalu mengambil handphone dari dalam tas.

"Vales nangis..." kataku terbata-bata sesaat setelah mendengar suara "halo" dari ujung telpon.
"Nggak ada kawan-kawannya... dia sendirian...dia kelihatan bingung... dia menatap mama pergi dari balik pagar teralis sambil nangis..." aku terbata-bata bercerita sambil menahan air mata.

Selasa, 16 Oktober 2012

Anakku Bukan Urusanmu

*Ini edisi curhat, lewatkan! Nggak penting blas!*

Kadang aku berharap punya mama yang agak rada judes, bukan diem-diem kayak mamaku ini. Sering jika aku pulang kerja mama mengadu tentang tetangga yang seringkali bicara nggak ngenakin tentang Valeska (ada  satu tetangga yang super reseh, untung hanya satu berpikir)

"Mama disindir, katanya Valeska dipenjara, dikurung di rumah."
"Trus mama jawab apa?"
"Nggak jawab apa-apa. Ngapain dijawab. Masak mama harus jelasin panjang lebar, bahwa Vales itu nggak mau keluar karena asyik main komputer atau kalau keluar ntar dia lari jauh-jauh hingga mama nggak sanggup ngejar. Males ah, ngomong panjang-panjang," kata mama santai, tapi mukanya keliatan kesel juga.

Rabu, 07 Desember 2011

Valeska dan Terapi

Pagi ini, begitu membuka mata, dia memelukku erat sekali. Tak biasanya dia bangun sepagi ini. Kuciumi rambutnya yang wangi. Lalu aku bertanya, kenapa dia bangun? Apakah dia di ganggu mimpi buruk lagi? Dia diam saja. Sambil tetap melingkarkan tangannya di leherku, lalu kepalanya rebah dibahuku.

Kami berpelukan dalam diam, lama. Lalu tiba-tiba dia menangis, pelukannya dileherku makin kuat, membuat leherku sakit dan aku susah bernafas. Aku berusaha melonggarkan tangannya, tapi dia malah merangkulku semakin kuat.

Selasa, 12 Juli 2011

Tentang si Sexi dan Valeska

Hai, Sobat blogger. Pengumuman; Ane masih odip alias idup. Badan sehat dan seger, laporan keuangan ok, asisten baru pengganti si sexi kemarin udah dapet. Yah, beginilah hidup Sodara-sodara. Dengan sangat terpaksa si sexi telah ku eliminasi dengan tega. Coz, selama daku sakit, dia juga ikutan mangkir kerja. Entah karena apa. Ketika aku udah kembali kerja, dia masih aja lom masuk. Diah pun mengadu dengan muka cemberut ditambah bibir manyun panjang 10 centi hampir menyentuh monitor kompi.

Senin, 30 Mei 2011

Kunonya Rusia ditengah Jawa dan Minang


Valeska in action
Namanya: VALESKA SHAFURA, jangan disangka nggak ada artinya. Jangan disangka sok-sok keren pake nama antik begitu. Memang dijaman dahulu kala, ketika nenek-nenek masih pada perawan, ada sebuah lagu berjudul 'Apalah Arti Sebuah Nama', tapi judul lagu itu sudah pasti bukan bermaksud menyindir nama anakku. Karena pada waktu lagu itu diciptakan, jangankan anakku, aku aja belum sempurna kejadiannya (kayaknya ini terlalu lebay, jangan diambil hati ya? coz, lebay is my style lah)

Senin, 11 April 2011

Antara Valeska, notebook dan blog

Sudah hampir 2 minggu aku tenggelam dalam lautan Microsoft Axapta, karam dalam jurnal demi jurnal, report demi report, rekonsiliasi, revaluasi beserta adek-adeknya dan para sepupu yang selalu bikin mataku berkunang-kunang, jidat berkerut hingga alis dan bulu hidung ikut-ikutan rontok karena bosan dan putus asa.

Sesekali disela-sela jam istirahat sambil mengendorkan syaraf-syaraf yang menegang, kusempatkan melongok internet, mengintip blog yang belum apdet, menatap nama teman-teman yang singgah meninggalkan jejek tanpa sempat kusapa. Kemudian balik lagi ke Axapta. Jadi hari ini, aku ingin nge-blog sekejap, sekedar melepas rindu sambil berbagi cerita. :D

Maka, dengarkan ceritaku, Temans

Sabtu, 17 Oktober 2009

Ada apa dengan Valeska?



Putri mungil ini Valeska namanya, putri pertamaku. Sekarang sudah berumur 1 tahun 8 bulan. Setiap hari dia ku tinggal dirumah bersama neneknya (mamaku) karena aku dan suami bekerja.

Valeska tumbuh sehat, jarang sakit. Paling cuma flu dan batuk. Bawa ke dokter, 3 hari sembuh. Lebaran kemarin adalah sakit terlama yang dialaminya; 1 minggu.
Yang menghawatirkan diriku adalah, sampai sekarang dia belum bisa bicara sepatah kata pun. Hanya bisa berceloteh tak jelas kayak gini:...teket..teket..teket...jekha..jeka...

Tapi kalau aku bilang:
" Ayo sayang, kita hitung jarinya dulu...," dia langsung sodorkan kakinya. Lalu aku mulai menghitung sambil memegang jari dia satu persatu:
"Satu..."
Dia tertawa.
"Dua.."
Dia kegelian, makin terkekeh kekeh, sampai hitungan kelima tawanya berderai...

Aku risau, tentu saja! Tak usah ditanya lagi.
Setiap saat ku ajak dia bicara, begitu juga dengan papa dan neneknya. Dan dia mengerti, tapi tetap tak bisa bicara, walaupun hanya sekedar "mama"

Tetangga sebelah rumah punya anak yang lahir ketika Valeska berumur 6 bulan. Sekarang sudah bisa panggil "mama" dan "papa". Kalau diajak ngobrol juga bisa, walau kata-katanya belum jelas... Diajak perang mulut juga oke, hehehe...tentu saja dia pake bahasa yang hanya di mengerti oleh dia seorang... Tapi kalau manggil mama-papa, fasih banget, udah!

Aku ngiri. Sumpah! Kenapa anakku belum bisa ngomong? Belum bisa manggil "mama"? Apa dia nggak tau, aku pengen banget denger dia manggil "mama.." sambil mengulurkan tangan minta digendong...

Satu lagi yang membuat hatiku risau tak tertahan, Valeska tak mau "berbaur" dengan anak-anak sebayanya. Jika sore hari ngumpul di depan rumah sama anak-anak tetangga, dia malah asyik sendiri. Berlari kesana-kesini, sibuk sendiri dan tak mau diam.

Aku sering bertanya-tanya: Apa anakku autis? Aku sungguh berharap, tidak.



Oh, Sayang...
Ada apa dengan kamu, Nak..?

Selasa, 29 September 2009

Valeska



Selama liburan kemarin, hari-hariku dipenuhi dengan acara gendong-menggendong Valeska. Tiap detik pokonya.. "tak gendong kemana-mana," deh..
Iyah, masak lebaran pake acara demam segala, Say.... Ibunya nggak bisa ngapa-ngapain, nggak bisa kemana-mana.

Sebenarnya aku juga sih yang salah. Gimana nggak salah coba, udah tau anaknya demam masak masih dipaksain keliling ke rumah sodara and tetangga.

Jumat sebelum lebaran, aku tuh masih masuk kerja full (aneh gila kantorku ini). Pulang kerja dia masih berdiri menyambutku di depan pintu seperti hari-hari biasa.

Mamaku langsung lapor:
"Tadi siang badannya panas...."
Kuraba dahinya, emang panas.
" Ini udah turun, tadi lebih panas," mama menambahkan laporannya.

Besoknya (sehari sebelum lebaran) panas badannya udah turun karena dikasih Mama obat turun panas, (ya iyalah, masa dikasih obat turun berok, gela lo!)

Aku happy.
"Besok kita lebaran ke rumah Mbah ya, Sayang... Jangan sakit lagi ya..." bujukku.
(emang bisa penyakit di bujuk???)

Esoknya, pagi-pagi buta (terlalu hiperbolic) habis sholat Subuh, Valeska ku mandikan, ku dandani dan ku pakein baju baru nan cantik (kan lebaran...)
Udah kelar gitu, aku mandi dan ikutan dandan (iyalah...masak kalah ma anaknya, kan nggak lucu anaknya pake baju cantik maknya lusuh, ntar dikirain pembokat..)

Selesai sholat Ied di mesjid dekat rumah dan disambung sungkeman plus nangis-nangisan sama Mama, kami berangkat ke rumah Mbah-nya Valeska alias Ibu-Papanya alias mertuaku (ribet banget sih..)

Sehabis sungkem ma mertua, kami keliling ke rumah tetangga disana. Sore baru pulang.
Mungkin karena kecapekan, malamnya Valeska kembali panas. Dikasih obat turun panas, paginya kembali adem. Nah, goblognya aku, sore hari di lebaran kedua itu, aku ajak lagi dia keliling ke rumah-rumah tetangga. Aku pikir kan, ah deket-deket sini ajah... Padahal mama udah wanti-wanti:

"Habis dari rumah Pak RT, langsung pulang, ya. Antar dia pulang dulu kalau kalian masih mau kemana-kemana," teriak mama.
"Iya.." jawabku.

Nah... malamnya, jadi deh tuh. Badannya bukannya panas lagi tapi panaaaaass...banget. Aku ketakutan, takut dia step atau apa. Buru-buru kami ke dokter sehabis sholat Isya.

Mulai malam itu hingga hari-hari selanjutnya, aku ronda gantian sama misua. Anaknya nggak mau di tidurin di kasur, maunya digendong aja, udah gitu yang nggendong nggak boleh duduk, harus berdiri. Nggak peduli lagi ada tamu pun, aku terpaksa berdiri aja sambil nggendong (nggak sopan amat sih...). Kalau coba-coba duduk, dia menangis njerit-njerit (untung tamu-tamu pada ngerti). Jadilah pinggang rasa nak patah, bahu pegel, betis bengkak dan tumit rasa nak pecah.

Itulah hadiah lebaranku tahun ini. Jangan tanya capeknya.
Untung (lagi) sehari sebelum masuk kerja, Valeska udah baikan dan yang penting udah mau tidur dikasur. Kalau nggak, terpaksa kontrak gendong di perpanjang. Kan nggak tega kalau mamaku harus nggendong dia seharian sampai misua dan aku pulang kantor....

Rabu, 21 Januari 2009

Pempers dan bayi


Inilah enaknya punya blog, bisa menggosipin siapa aja; orang yang masih idup atawa orang yang udah meninggal pun bisa digosipin. Dari jaman nabi ampe kejadian 10 tahun kedepan (kalau Anda tau )pun boleh digosipin, nggak penting benar pa kagak nyang penting blog nya update..hihihihi…

Jadi pada kali ini beta ingin bergosip tentang beta punya tetangga (halakh!)
Nyang ini beneran nih….

Alkisah, tetangganyaku punya bayi berumur lebih kurang 2 bulanan.
Dari umur beberapa hari gitu udah dipakein pempers, itu loh.. popok anti bocor yang kalau si bayi beser atawa eek nggak ngotorin pakaiannya dan nggak berleleran kemana-mana, nggak ngotorin karpet dan nggak bikin aroma rumah sama dengan aroma wc umum (hebat yah, yang puny ide bikin pempers :) )

Harga pempers tuh macam-macam, untuk bayi yang masih dibawah 6 bulan size S biasanya yang harganya dibawah Rp.1,000 ada tuh. Yah, tergantung sapa yang beli juga sih. Kalau yang beli orang kaya, artis, pengusaha de e lel ya nggak maulah beli yang seharga murahan gitu. Pasti nyari yang mahal tapi bagus…

Btw eniwei baswei, rata-rata si bayi perlukan ganti pempers 7 kali sehari bahkan lebih (pengalaman aku nih… :)), tergantung dari jumlah “pengeluaran” dia juga. Nah, kalo tetanggaku lain lagi, ganti pempers bayi hanya sewaktu dia mandi aja. 2 kali sehari! Kecuali kalo sibayi eek, karena nggak tahan aromanya barulah diganti. Kalau Cuma pipis doang bakal dibiarin aja sampai melimpah ruah (berlebihan omongannya…)

Tahukah Anda, dua-duanya bisa menimbulkan penyakit. Loh?

Penyakit Pertama:
Jika bayi anda ganti pempers minimal 7 kali sehari dikali 30 hari sebulan dengan patokan harga pempers Rp.1,000, maka anda perlu dana Rp.210,000 per bulan hanya untuk pempers. Nggak besar ya? Ih, buat aku besar banget tuh! Uang 200 ribu untuk nampung kotoran trus dibuang ke tong sampah…. Besaran mana dengan sedekah anda sebulan? (halah..) Disinilah letak penyakitnya. Penyakit untuk dompet Anda, tentu saja. Tapi kalo pendapatan Anda diatas rata-rata, uang segitu nggak ada artinya kali ya? So, yang pertama ini bisa jadi penyakit bagi sebagian orang lah.

Penyakit Kedua:
Nah, jika anda ingin mengurangi penyakit yang pertama tadi, berarti anda harus berhemat, seperti tetangga saya ntuh. Gantilah pempers bayi anda 2 kali saja sehari. Hasilnya? Dompet Anda lumayan sembuh dari peyakit, karena Anda “hanya” butuh Rp.60,000 sebulan untuk dibuang ke tong sampah. Tapi…. Bayi andalah yang jadi sakit. Karena kelamaan ganti pempers kulitnya jadi bintik-bintik kemerahan, gatal-gatal (ditempat yang semestinya nggak boleh gatal), jamuran, keputihan… de el el. Karena kuman amat senang dengan tempat yang lembab (itu yang kubaca disebuah majalah...) Jikalau anda malas ganti pempers bayi anda, maka kuman akan berterima kasih pada Anda karena mereka bisa berkembang biak dengan leluasa disana tanpa perlu ikut program KB.

So, gimana sih, solusinya? Mau ikut trik aku?
Gini nih,
~ Bayi yang belum bisa merangkak atau merayap nggak perlulah dikasih pempers. Toh, dia nggak bisa kemana-mana. Kalo pipispun pasti disitu-situ juga. Jadi dialas pakai kain aja cukuplah. Nggak papa kan, nyuci agak banyak, sekalian olahraga.. :)
~ Kalau dia udah bisa merayap dan merangkak, nggak apa-apa di pakein pempers biar nggak repot ngepel lantai tiap saat dan juga rumah nggak bau pesing deh.
~ Kalau si bayi udah bisa ngomong, ajarin dia untuk ngomong “pipis, Ma…” supaya anda bisa nganterin dia ke toilet.
~ Sering-sering periksa pempers si bayi karena dia belum bisa meriksa sendiri, kalo udah lembab dan berhawa lumayan anget, segera ganti.
~ Jangan di pakein pempers yang terlalu ketat, Sodara-sodara… Kasihan yang kejepit disana. Panas, lembab dan bau ntar…
~ Kalo bisa sih, make pempers nya pas mau pergi-pergi aja, dirumah sebisa mungkin nggak usah pake lah.. Selain hemat untuk Anda juga sehat untuk si bayi.
~ Kalau anda ngerasa tips ini basi, Anda nggak perlu nerusin mbaca postingan ini. (eh, nganggung ye..udah mau abis ini…)
~ Kalo Anda ngerasa ini nggak penting banget, ya…. Udahlah… Tinggalin aja komen manis dibawah ini… :)