Rabu, 26 November 2008

Pa, aku pulang...(2)


Pulang ke kampung seperti kembali ke masa lalu bagiku. Banyak kenangan indah, pahit dan manis berkeliaran dalam ingatan.
Ketika melewati rumah masa kecilku (sebuah ruko yang sekarang tidak lagi ditempati keluargaku), aku melihat seolah papa ada disana, menatapku lewat jendela di lantai 2 dengan rambutnya yang selalu tersisir rapi, tersenyum padaku. Dihalaman rumah yang luas aku melihat diriku dimasa kecil sedang bermain sepeda bersama adik lelakiku, dan mama duduk dikursi panjang didepan toko menatapi kami. Oh, Tuhan.... betapa semua keindahan itu sungguh cepat berlalu.

Bukittinggi tidak banyak berubah, seperti anak gadis remaja yang berdandan cantik, tapi tidak mandi. Begitulah pendapatku tentang kota yang selalu ku rindui ini.
Kenapa? Karena kebersihan sepertinya kurang dijaga oleh penduduknya, hingga kesannya kota yang cantik, tapi jorok. Sampah ada dimana-mana... (biar begitu, dia tetap kucintai...sepenuh hati)

Tak banyak tempat wisata yang kusinggahi bersama suami, mungkin disebabkan pengaruh perubahan cuaca, aku dilanda demam pilek selama dikampung (bukan demam panggung...)
Kami hanya jalan-jalan diseputar kota, melihat keindahan Ngarai Sianok di Panorama, duduk-duduk ditaman Sabai Nan Aluih ditengah kota dibawah Jam Gadang, ke Musium Rumah Gadang di Kebun Binatang tembus ke Benteng Ford De Kock melewati Jembatan Limpapeh dan mencoba keliling kota naik bendi (delman). Kemudian ku ajak suami melihat istana presiden dijaman Pemerintahan Darurat RI dulu (sekitar tahun 1948-1949). Sekarang dinamai Istana Bung Hatta.

Hmmmhh, sebenarnya aku ingin mengajak suami (secara dia baru pertama kali ke Bukittinggi) dan keluarga yang lain ke tempat-tempat wisata yang banyak bertaburan di Sumatera Barat. Rencananya kami akan ke Danau Singkarak, Danau Kembar, Danau Maninjau, Arau dan lain-lain... Banyak banget deh, pokok nya. Tapi batal karena aku sakit dan si bayi juga pilek.
Jadilah kami berwisata ke tempat-tempat yang dekat aja.

Kurang puas sih, pulang kampung kali ini. Mungkin Insya Allah, tahun depan kami akan pulang lagi dengan rencana yang lebih matang dan kesehatan yang lebih terjaga.

Semoga.

Senin, 17 November 2008

Pa, aku pulang...(1)


Pulang kampung yang terlambat.
Semua orang berduyun-duyun pulang kampung untuk merayakan lebaran bersama family. Tapi karena kerjaan dikantor bejibun, ya sutralah..... terpaksa aku, suami, mamaku dan bayiku pulang kampung ketika lebaran telah usai. Biar begitu, rasanya senang masih bisa pulang kampung.

"Pulang ke kotamu
ada setangkup haru dalam rindu..."

Lagu Kla Project itu terngiang di kupingku ketika turun dari Mandala di Bandara International Minangkabau. Senang, haru, happy, sedih...... Kok sedih sih? Ya iyalah... inilah kepulanganku yang pertama kali sejak Papa meninggal, yang pertama kali juga sejak aku menikah dan punya anak. Empat tahun yang lalu aku pulang kampung masih sendirian dan papa masih ada.......

Sekitar pukul 1.30 siang (aku lupa ngeliat jam, pukul berapa persisnya) kami keluar dari bandara dengan menggunakan bus, karena mobil dari agen travel yang kami sewa untuk membawa kami ke Bukittinggi tidak boleh menjemput penumpang kedalam area bandara (kalo ngantar sih, boleh...)

Nyampe di kantor travel, kami sholat zuhur, makan siang, bikin susu dan ganti pempers bayiku dan make up ulang biar segeeer...lagi. Trus kami istirahat karena mobil yang kami sewa berangkat ke Bukittinggi jam 3 sore.

Akhirnya jam 3.30 si mobil baru nongol, (biasalah Indonesia, selalu telat setengah jam...) Selama perjalanan suamiku yang baru pertama kali ke Padang asyik tolah-toleh kiri kanan. Senang banget kayaknya dia. Ketika kutunjukin air terjun Lembah Anai, dia kayaknya amazing banget. Aku juga ikutan senang karena membuat suamiku senang. Kalo bayiku sih, anteng aja dipangkuan papa-nya.

Kami sampai di Bukittinggi sekitar jam 5.30 (persisnya mggak tau karena sekali lagi aku lupa liat jam...hehehe). Si mobil keliling-keliling dulu ngantar penumpang ke rumah masing-masing. Rumahku? Belum.... belum.... Jangan dikira kami sudah sampai dirumah. Rumahku masih jauh, nun dikaki gunung Merapi sana. Karena turun di kantor travel, kamilah penumpang terakhir yang turun dari mobil. So, kami harus cari taxi karena jam-jam segini nggak ada lagi angkutan umum kedesaku. Tapi itu nanti. Itu perkara yang penting, tapi ada yang jauh lebih penting. Yaitu makan. Kami sungguh kelaparan.

Jam 6.15 (kali ini aku ingat untuk liat jam....) taxi datang dan kami berangkat sambil mengantongi nasi bungkus....hehehe. Soalnya nggak sempat makan, takut kemalaman nyampe dikaki gunung.

Tak banyak yang berubah dikiri kanan jalan menuju desaku yang indah. Hanya ada tambahan satu pom bensin baru yang lebih besar, beberapa bangunan dan rumah penduduk. Lebih dekat ke desaku jalanan mulai mengecil dan banyak lobang. Si sopir taxi sempat ketakutan untuk melanjutkan perjalanan. Kami diminta turun didaerah yang nggak banyak rumah dikeremangan senja bergerimis dan membawa bayi plus 3 koper besar dan 1 ransel besar perlengkapan bayi dipungung suamiku. Ih, gila aja tuh sopir taxi. Untung ada penduduk yang datang (karena ngeliat taxi berhenti tengah jalan desa sangat menarik perhatian) dan bilang ke sisopir taxi bahwa jalan didepan udah nggak ada lobangnya lagi alias aman untuk dilalui taxi, barulah dia berani dengan catatan ada tambahan ongkos untuk keberaniannya itu. Apa boleh buat....

Dari kejauhan, dengan bantuan sorotan lampu taxi, aku melihat para penyambut tamu berjejer dipinggir jalan didepan gang masuk kerumahku...hehehe. Para penyambut tamu itu adalah 3 orang kakak perempuanku dan 2 orang keponakan perempuanku yang cantik-cantik dan sedang beranjak remaja.

Aku masuk kerumah sambil berucap dalam hati, "Pa, aku pulang dengan menantu dan cucumu..."
Sedih.


Bersambung

Jumat, 07 November 2008

Seumur Hidup Jadi Tongkat Bagi Ibunda


Terima kasih untuk sahabat yang telah mengirimkan artikel ini ke email saya.....




Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan
memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya
yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena
serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang
mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita
yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu
orang sambil menggendong satu lagi.......

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li
Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh
dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu,
meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian
menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu
membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah
tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari
rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu
pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas
yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda
mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya
sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga.
Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi
pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang
ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga,
banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan
putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang
ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional
tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu
Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana.
Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan
teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan
melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak
pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul
tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang
ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun
dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga
telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia,
karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)





===================================================================

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia [850]. (Qs.17:23)

[850]. Mengucapkan kata 'ah' kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama
apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar
daripada itu.