Selasa, 20 April 2010

Rindu

Aku terbangun ditengah mendung. Pagi ini tenang sekali. Tetangga depan rumah tak mengumandangkan nyanyian serak-serak berisik dari DVD-nya, nenek samping rumah nggak teriak-teriak nyuruh cucunya mandi, menantu si nenek nggak teriak-teriak manggil suaminya sarapan. Ooh…pagi yang damai. Sepi dan tenang. I love it!

Aku berbaring diam ditempat tidur dengan mata melek setengah merem. Menatap langit-langit kamar yang buram, ingatanku melayang ke desaku yang tentram. Aku kangen pada

1. Rumah masa kecilku.

Rumah itu berlantai dua bercat putih, sudah tua tapi masih berdiri perkasa. Dibangun sebelum Papaku tercinta lahir kedunia. Orang tuaku buka warung dilantai satu, menjual beraneka rupa barang. Dari obat-obatan, aneka snack, aneka keperluan rumah tangga, kaset (CD/DVD belom ada masa itu), rokok hingga alat-alat pertanian seperti pupuk dan racun tanaman, tentu saja di dua ruangan yang berbeda :) . Papaku waktu itu masih ngantor, mama yang jaga warung kami.

Dilantai dua adalah tempat kami bersaudara bermain petak umpet (karena lumayan luas), bercengkrama, berantem dan beristirahat.

Dihalamannya yang luas, kami suka main badminton atau bersepeda dengan anak-anak tetangga. Seringkali kami di teriaki mama kalau main sepeda dan pura-pura nyasar keluar pagar. Maklum, didepan rumah kami adalah jalan raya Bukittinggi – Batusangkar.

2. Desaku.

Tidak terlalu sepi, juga tidak terlalu ramai. Dengan cuacanya yang sejuk, pemandangan yang indah, penduduk yang ramah-tamah…tentram rasanya disana.
Pagi hari adalah saat keramaian memuncak didepan rumahku. Terutama di hari Senin dan Kamis. Anak2 sekolah menunggu bis didepan rumah, para petani yang mau menjual hasil kebun juga menumpuk dihalaman rumah kami. Saat aku kecil dulu, didepan rumah adalah halte tak resmi angkutan umum ke Baso, kota kecamatan yang berjarak sekitar +-15 km dari desaku, kesanalah para petani menjual hasil kebun mereka dari dusun-dusun dikaki gunung merapi sana.
Jam 10 pagi adalah saat yang sepi. Sepi yang kusukai. Saat semua orang pergi ke berbagai tempat untuk beraktivitas. Rasanya tentram…sekali.

3. Papa.

Adalah pria pertama yang kucintai didunia. Diantara semua yang pernah ada dalam hidupku, beliaulah yang paling kurindukan.
Papaku ganteng, berkacamata, berhidung mancung dan berkumis tipis. Papa suka menggesekkan kumisnya kalau mencium pipiku. Papa suka memencet hidungku, mengacak-acak rambutku. Dan beliau punya panggilan kusus untukku: Cundun, Mundu..dan banyak lagi yang sudah kulupa. Aku tak tau apa artinya, yang kutau kalau beliau memanggilku dengan panggilan ‘khusus’, itu artinya belau sedang senang hati.
Papa orang yang berwibawa tinggi, jarang mengajak kami bercanda, beliau orang yang sangat serius, terkadang temperamental. Ketika kecil aku cukup dekat dengan beliau, ketika remaja aku berdiri menantang berbagai aturan yang beliau buat. Ketika menjelang dewasa, aku pernah membuat beliau meneteskan air mata karena kulukai hatinya dengan kata-kataku.
Tapi, ketika aku bersedih karena gagal menikah dengan orang yang kucintai disaat pernikahanku tinggal menghitung hari, Papalah yang meneduhkan aku, membisikkan kata-kata yang menenangkan seluruh gejolak dijiwaku. Papalah yang menyuntikkan berton-ton kekuatan padaku untuk menerima kenyataan terpahit itu. Saat itulah kusadari, papa tak pernah kehabisan cinta untukku betapapun sering aku melukai hatinya. Beliau memaafkan aku sebelum aku mengucap maaf padanya.

Sekarang, Papa sudah tiada. Aku tidak menyaksikan kepergiannya, ketika sampai didesa aku hanya menjumpai tumpukan tanah diatas jasadnya. Betapapun aku merindukannya, beliau takkan pernah kujumpai lagi.
Begitu Papa meninggal, rumah masa kecilku yang perkasa itu langsung berganti pemilik. Adik perempuan Papa satu-satunya mengusir keluargaku dari sana. Ya sudahlah…
Toh Papa sudah membuatkan kami rumah sederhana didusun nenekku sebelum beliau meninggal. Dan desaku yang sudah 14 tahun kutinggalkan…..aku akan selalu merindukanmu. Bila ada rejeki kelak, aku akan mengunjungimu, menyusuri jalan raya Bukittinggi – Batusangkar sambil melirik rumahku yang penuh kenangan….

17 komentar:

  1. duuuuh... betapa saya bisa ikut merasakan kerinduan yg mbak dewi rasakan.
    Salam kenal ya mbak, selamat hari Kartini

    BalasHapus
  2. Ijin saya follow, follow me back yo Mbak.

    BalasHapus
  3. >Kang Sugeng:
    Salam kenal Kang... Thank's udah sudi mampir. Silahkan dicicipi hidangan seadanya. :)

    Iya nih, Kang.. Kangen banget pulkam. Tapi apa yang pernah saya miliki dulu tak kan bisa saya dapatkan lagi. Walau kangen setengah mati, tapi mesti ikhlas. Ikhlaskan rumah, ikhaskan kepergian Ayah... hiks.. Jadi melo gini..
    :(

    Langsung ke TKP Kang, untuk follow2 an...

    BalasHapus
  4. @DewiFatma alhamdulillah.. akhirnya berhasil bikin replyan comment... Thank's Bro!!

    BalasHapus
  5. Jadi kepingin pulkam juga...udah 3 bulan gak berkunjung...
    Rindu semua kak Wi....hikhikhik

    BalasHapus
  6. @Marsya Putri Adhini
    Ah..kampungnya Mulyani mah deket.. Sekali shaaap! sampai deh...
    Ayo Mul, kita pulkam bareng... :)

    BalasHapus
  7. duh di ending ceritanya saya agak sedih juga neh mbak... ehm, moga selalu sabar ea...

    BalasHapus
  8. salute dengan postingannya Mbak....
    moga sudah terobati rindunya... he

    BalasHapus
  9. "dan lalu, sekitar ku tak mungkin lagi kini, bicara tentang rasa, bawa aku pulang rindu segeraaa .." (float - pulang)

    tetap semangatttt !!! :D

    BalasHapus
  10. @achen Emang sedih, Chen. Tapi sabar mah, kudu... :)

    BalasHapus
  11. @buwel Yah, dengan nulis postingan ini sedikit terobatilah.. :)

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...