Kamis, 23 Desember 2010

Gelora Cinta Bung Karno dan Inggit-Bag.II

Lanjutan dari postingan sebelumnya Temans, tentang kisah cinta idolaku ini.
Cekidout!

Rumah keluarga Inggit sangat sederhana. Oleh karena itu beliau pernah ingin mencarikan rumah kost yang lebih baik untuk BK tinggali, namun BK menolak untuk pindah (mungkin karena udah kesengsem dengan Inggit, ya?)

Ibu Inggit mencari nafkah dengan menjahit kutang, menjual jamu dan bedak sari pohachi yang dulu sangat terkenal di Bandung. Konon bedak ini bisa bikin kulit muka kinclong (panteslah mojang Bandung terkenal caem-caem, yak..?) Disela-sela kesibukannya, Ibu Inggit masih sempat memasak untuk BK. BK sangat suka sayur lodeh buatan Inggit (meski setelah menikahi Ibu Hartini, BK bilang sayur lodeh Ibu Hartini tiada duanya... *emang tukang rayu ulung ini mah*...)

Sementara itu Haji Sanusi jarang berada dirumah, beliau sering baru pulang kerumah pada tengah malam buta. Jadi BK sering berada dirumah berdua dengan Inggit. Bayangkan aja Guys, waktu itu belom ada tipi dan internet atawa henpon. Jadi bila suntuk, mereka membunuh malam dengan ngobrol berdua, sharing tentang berbagai hal. Ya iyalah, toh hanya ada mereka disana. BK senang bicara (dan enak diajak bicara) dan Inggit senang mendengarkan. Klop dah. Maka seiring dengan situasi yang mendukung, mulailah benih-benih cinta tumbuh dihati keduanya (cie…cie…)

Sebenarnya, pada awalnya BK merasa nggak enak dengan perasaan asing yang mulai mengerogoti lorong-lorong hatinya. Beliau takut dituduh merusak rumah tangga orang. Walau sebenarnya rumah tangga mereka masing-masing sudah rusak sebelum mereka berdua bertemu dan jatuh bangun cinta.

Karenanya beliau pernah menjemput Oetari untuk menginap di Bandung untuk menjaga agar situasi tetap terkendali (namun perlu dicatet: BK dan Oetari tetap tidur dikamar terpisah, Bo’!) Tapi berhubung beliau makin hari makin jatuh cinta dengan Inggit dan makin hari makin menyadari lebarnya jurang pemisah antar beliau dan Oetari, akhirnya diambilah keputusan untuk mengantar Oetari pulang ke Jakarta ke rumah orang tuanya alias cerai. Pakde Tjokropun dapat menerima keadaan itu dan memahami perasaan Soekarno terhadap putrinya.
 
Maka, kembalilah BK ke Bandung, kepada cintanya.

“Aku kembali ke Bandung..........dan kepada cintaku yang sesungguhnya. Setelah kami bersama-sama selama satu tahun, pada suatu malam aku berkata pelahan : "Aku mencintaimu."
"Akupun begitu", keluar cepat dari mulut Inggit.

"Aku ingin mengawinimu," kubisikkan.

"Akupun ingin menjadi isterimu," dia balas berbisik.

Begitulah, menyadari situasi yang tak kan memihak padanya, Haji Sanusi mau bekerja sama. Dalam tempo singkat Inggit pun bebas.

Singkat cerita, pergilah BK melamar Inggit pada orang tuanya. Lamaran Bung Karno terhadap Inggit, tidak serta-merta diterima. Atas lamaran Bung Karno, ayahanda Inggit menjawab, “Wahai orang muda, kau adalah keturunan bangsawan, dan dirimu adalah seorang terpelajar. Di sini dan di mana-mana ada banyak gadis hartawan dan terpelajar yang siap untuk menjadi pasanganmu….”

Diam Sukarno.

“… Kami adalah keluarga miskin, anakku Inggit sudah janda; lagi pula tidak terpelajar, tidak sepadan untuk menjadi istrimu. Dan terus terang, saya khawatir, sebagaimana yang lazim terjadi, perjodohan yang demikian tidak akan panjang….”

Takzim Sukarno mendengarkan.

“…karena ada saja yang membuat kau malu. Ada saja yang akan membikin anakku sakit hati.”

Waktu bergulir… menguasai ruang dan waktu. Hanya diam dan sunyi untuk sementara waktu. Bung Karno harus segera menanggapi kata-kata calon mertuanya. Ia pun menarik napas panjang sebelum mengeluarkan tanggapan….

“Bapak, semua itu sudah saya ketahui lebih dulu, dan saya tambahkan bahwa saya pun sudah tahu bahwa Inggit lebih tua lima tahun dari saya….” (Lihat bagaimana Sukarno mengecil-ngecilkan bilangan selisih usianya dengan Inggit, demi lebih meyakinkan calon mertuanya)… “Apakah niat saya kurang suci, walau sudah saya tahu keadaan semua itu, kemudian saya pikirkan dan akhirnya melamar dengan sadar?”

Ayah Inggit diam, mendengarkan si muda bicara.

“Bapak, karena itu saya datang melamar dengan harapan Bapak mempertimbangkannya.”

Ayah Inggit menatap tajam ke arah mata Sukarno ketika bicara. Dari sana ia menangkap ketulusan niat Sukarno. Dari sorot matanya Sukarno memancarkan keseriusannya. Maka… luluhlah hati calon mertua, dan akhirnya lamaran pun diterima.

Sementara kepada bapak-ibunya, Sukarno pun sudah menyampaikan niatnya melamar Inggit. Dan Soekeni, ayahanda Bung Karno dalam surat jawabannya menuliskan, “Ayah dan ibumu tidak merasa keberatan. Urusan itu terserah pada dirimu sendiri. Kami cuma mengharapkan, pengalamanmu yang sudah-sudah akan menjadi pelajaran bagimu.” (khas style orang tua tempo doeloe amat yak?..:) )

Inggit dan Bung Karno pun kawin ditahun 1923.

DIA MEMBERIKU KECINTAAN, KEHANGATAN, TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI. DIA MEMBERIKAN SEGALA APA YANG KUPERLUKAN YANG TIDAK DAPAT KUPEROLEH SEMENJAK AKU MENINGGALKAN RUMAH IBU.

Note: Dikisahkan, Bung Karno tidak dekat dengan Ibunda beliau. BK lebih dekat pada pengasuhnya yang bernama Sarinah. BK sangat menghormati dan menyayangi Sarinah hingga pusat perbelanjaan pertama yang dibangun di Jakarta diberi nama Sarinah.

Inggit mendampingi pahit pedih perjuangan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Segala harta dikorbankan untuk membantu perjuangan BK. Inggit rela mendampingi Soekarno di pengungsian dari Ende sampai Bengkulu  . Inggit menjadi tempat bersandar saat BK frustasi di pengungsian, Inggit tempat mengadu atas segala kesedihan. Inggit menjadi teman, istri dan Ibu bagi BK. Inggit dipilih Tuhan untuk mendampingi BK disaat sulit karena dialah wanita perkasa, tahan cobaan, tahan cercaan bahkan pelecehan yang dilakukan tentara Belanda padanya. Inggit bagi Bung Karno adalah seumpama Khadijah bagi Muhammad SAW. Hanya bedanya Muhammad SAW setia pada Khadijah hingga maut menjemput Khadijah terlebih dahulu.

Dan Inggit tidak seberuntung itu. Sungguh, dia tidak seberuntung itu, Temans.




*menetes airmataku*
still to be continue, Guys...
kali ini gw mo ngangon kambing dulu...
tunggu ye....
Jangan lupa dengan handukmu, berikutnya akan lebih pedih...




Sumber: masih dari yang kemarin juga....
Gambar

12 komentar:

  1. Saya mulai merasakan gelayut haru kesedihan mulai mengalir dari kisah cinta itu. Ah, kembali saya mesti harus sabar lagi untuk menunggu kelanjutan ceritanya. :D

    BalasHapus
  2. @ Joko Sutarto:
    hahaha.. Kesabaran Anda sedang diuji, Mas. Jangan lupa, orang sabar disyang Tuhan :D

    BalasHapus
  3. @ Fanny:
    ternyata cinta mereka yang menggebu-gebu diawalnya nggak seabadi yang kita kira...

    BalasHapus
  4. @ Ra-kun yang sendiRian:
    hehehe..namamu antik deh... :)

    Yah, sisi lain Bung Karno, sang pencinta wanita.

    BalasHapus
  5. hebat...!!! pencinta wanita adalah kategori yg musti di salutin sama para laki2 di luar sana :( [saiia maksdnya] :(

    BalasHapus
  6. Wadoh... Udah seru-serunya, habis lagi ceritanya....

    Nunggu lagi nieh.

    My last blog Steamboat Rumah Makan Torani

    BalasHapus
  7. @ genial:
    nggak hanya lelaki, saya yang wanita aja salut!

    @ blog keluarga:
    hehehe, iya. Ntar kalo nulis panjan-panjang pada bosan, Mbak. Trus nggak mau balik lagi kemari. Sedih deh..
    :)

    BalasHapus
  8. Itulah kenapa gw berkata TIDAK kepada poligami. Duh cucian Bu Inggit, udah cantik, setia, eh BK malah mencari rumput yang lebih hijau :-(

    Ditunggu Mba lanjutannya. Seruuuuuu!!!

    *mulai jemur anduk, takut pas tar diperluin masih basah*

    BalasHapus
  9. @ Susan:
    Sama, meski agama memperbolehkan, aku juga nggak sanggup di poligami. No, no, no! Mending menjanda macam Ibu Inggit.

    BalasHapus
  10. Layaknya Arjuna, sebuah lidah yang tak hanya getarkan hati rakyat namun hati wanita turut terbuai ....
    Dan tak hanya hebat dalam perjuangan, untuk cinta ia pun mampu berbagi

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...