Senin, 03 Januari 2011

Gelora Cinta Bung Karno dan Inggit-Bag-III

Sambungan dari bagian kedua.

 

Inggit adalah perempuan yang lembut. Kelembutannya bagaikan oase ditengah derap perjuangan Soekarno memerdekakan negeri. Inggit menemani Soekarno berpidato ke pelosok-pelosok negeri dan menjadi penerjemah jika ada masyarakat yang tidak paham dengan pidato BK (bukan cuman mlototin BK di belakang panggung :) ) Ia pun pandai menempatkan diri menjadi tuan rumah yang baik bila rapat partai diadakan dirumah mereka. Jika keadaan sudah memanas, Inggit akan berdiri, berdehem kemudian menawarkan teh sekedar mendinginkan suasana. 

Walau Soekarno masih tetap dikirimi uang oleh orang tuanya, itu semata hanya untuk biaya kuliahnya saja di Technische Hogelschool (sekarang ITB). Untuk uang saku menghadiri rapat demi rapat pergerakan, Inggit selalu menyelipkan uang setali ke dalam saku Soekarno. Inggitlah yang mencari uang untuk biaya perjuangan yang dilakukan Soekarno. Dia lah yang selalu membari tanpa pernah meminta. Inggit juga yang bertugas sebagai penghubung, kurir dan mata-mata Soekarno dengan teman-temannya ketika Soekarno berada di penjara Banceuy. Tugas Inggit adalah membawa dokumen2 atau surat2 atau apapun yang diselipin dibawah kue-kue dan makanan yang tiap hari diantarnya untuk Soekarno, atau diselipin diperut dan diikat setagen agar tidak ketahuan penjaga.

Inggit juga mengerti dan menerima ketika Soekarno yang baru tamat kuliah dan belum berpenghasilan menolak tawaran untuk menjadi dosen di almamaternya, karena bagi Soekarno bekerja sebagai pegawai negeri sama saja dengan mengabdi pada Belanda dan menghianati bangsanya.

Bersama BK, Inggit tidak memiliki anak kandung (nampaknya dengan Haji Sanusi juga begitu). BK dan Inggit mempunyai seorang anak angkat bernama Ratna Djuami (belakangan mereka mengangkat satu anak lagi bernama Sukarti yang diganti Soekarno menjadi Kartika). Kemanapun BK dibuang oleh Belanda, Inggit dan Ratna ikut menemani, termasuk ke Bengkulu.

-----dan disinilah kehancuran itu dimulai-------

Alkisah, ketika masih di Bengkulu, seorang Ketua Muhamadiyah Bengkulu, bernama Hassan Din yang tinggal di Curup menitipkan anak tunggalnya untuk tinggal dirumah Inggit-BK di Anggut Atas, Bengkulu. Anak itu, seorang gadis remaja bernama Fatimah, berumur sekitar 17 tahun, berambut hitam panjang bagai sutera (ini kata BK tentang Fat). Bung Karno kemudian menghadiahi nama Fatmawati kepadanya. Fatma berteman baik dengan Ratna Djuami.

Tapi ternyata, tidak hanya dengan Omi (panggilan Ratna Djuami) Fatma berteman dekat. Dia juga dekat dengan Soekarno yang saat itu telah berusia 40 tahun, sedang kuat-kuatnya, sedang hot-hotnya. Usia yang matang untuk seorang pria. Sementara Inggit sudah mulai menua, mulai mengering. Usianya saat itu sekitar 53 tahun. Maka BK mulai melirik daun muda, yang sedang ranum dan harum, dan BK tak perlu pergi jauh-jauh mencarinya...........

BK dan Fatma sering terlihat berduaan, kadang mereka berboncengan sepeda di sore hari. Sebagai istri, Inggit mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres antara suaminya denga Fat. Maka pertengkaran demi pertengkaran mulai menghiasi perkawinan mereka. Pertengkaran itu terbawa hingga mereka kembali ke Jakarta. Mulai ada piring tebang dan gelas melayang pada Bung Karno (biasalah, wanita.. ehem!)

Memang, tak sulit bagi Inggit untuk mengetahui hal itu, karena sepulang dari Bengkulu, BK sering terlihat murung, melamun, bengong saking panasnya demam cinta melanda BK pada gadis cantik ranum, Fat. Selain karena jatuh cinta, BK juga mulai terusik masalah keturunan. Beliau sangat ingin memiliki anak sendiri, yang lahir dari rahim istrinya. Maka Omi dan suaminya (saat itu Omi sudah menikah dengan Asmara Hadi, mantan murid BK) berusaha membujuk dan memohon-mohon pada Inggit agar mengijinkan BK menikah lagi. 

Satu hal yang patut dipuji dari BK, bila sudah jatuh cinta beliau akan langsung mengajak menikah, bukan pacaran di hotel dan sembunyi-sembunyi dari istri (kayak pejabat kita, noh..). Dan bila akan menikah, beliau juga selalu minta ijin pada istri terdahulu. Cara yang gentle. Tapi walau dengan cara apapun, selembut apapun, meminta ijin untuk menikah lagi pada seorang istri akan tetap sangat menyakitinya. Camkan itu!

Kata BK : "Aku sangat bersyukur mengenai kehidupan kita berdua. Selama ini separo dari umurku, kau jadi tulang punggung ku dan tangan kanan ku. Tetapi aku ingin merasakan kegembiraan punya anak."
Jawab Inggit : "Dan aku tidak bisa beranak, itukah yang dimaksud ?"
"Ya," BK mengakui.
"Aku tidak bisa menerima isteri kedua. Aku minta cerai !" balas Inggit.
"Tidak mungkin Kus menceraikan kamu, Enggit. Tidak mungkin. Bukankah bisa aku mengawininya sementara kita tidak bercerai? Aku tidak ingin menceraikanmu dan menyingkirkanmu. Keinginanku supaya engkau tetap jadi isteri pertama, jadi memegang segala kehormatan yang bersangkut dengan ini dalam kebiasaan kita, sementara aku menjalankan hukum agama dan hukum sipil mengambil isteri kedua untuk melanjutkan keturunanku." kata BK.
"Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu! (Oh, dimadu? Kalau mesti dimadu, pantang!) Tidak ! Aku tidak memerlukan kasihanmu," bentak Inggit.

Inggit keukeuh menolak dimadu, maka akhirnya merekapun menyepakati perceraian. Inggit sepakat kembali ke Bandung. Hari terakhir bersama Bung Karno, Inggit menyempatkan diri ke dokter gigi. Bung Karno masih setia menemani. Bahkan ketika bertolak ke Kota Kembang, Bung Karno pun turut serta. Turut membongkar barang-barang Inggit. Setelah mengecek dan memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal, Bung Karno pun mengucapkan selamat tinggal kepadanya (dan kenapa lelaki hanya mengejar keturunan? Dan kenapa wanita yang tidak bisa memberikan keturunan harus disingkirkan? Tak taukah kalian wahai para lelaki, bahwa wanita yang begitu juga merasakan kesedihan? - jerit hatiku)

Tahun 1942, di ujung perjuangan, telah dekat gerbang kemerdekaan, Inggit melepas Soekarno berjalan menuju gerbang itu bersama Fatmawati, sementara Inggit membalikan badan, berjalan sendirian dalam kesedihan dan menjalani hidup tanpa Soekarno disisinya. Sendirian dirumah yang dihuni ribuan kenangan manis saat masih bersama, melalui malam-malam yang dingin tanpa kehangatan seorang Soekarno, merasakan kosong saat kehilangan sebagian hatinya.

*Cinta yang kuberi, sepenuh hatiku..
Entah yang kuterima, aku tak peduli..
Aku tak peduli..

Inggit meneruskan hidupnya dirumah mereka dulu, kembali meramu jamu, membuat bedak dan menjahit kutang. Tapi dia tidak pernah melupakan BK. Tidak pernah membenci BK. Senantiasa berdoa untuknya. Dan BK juga sesungguhnya tidak pernah melupakan Inggit meski beliau menikah lagi, menikah lagi, dan menikah lagi. Setelah menjadi Presiden, BK sempat beberapa kali datang berkunjung dan membuat Jl. Ciateul (sekarang Jl. Inggit Garnasih) itu disesaki oleh rakyat yang ingin melihat langsung presidennya. Bagi BK Inggit adalah srikandinya, srikandi Indonesia.

27 tahun kemudian, saat itu Inggit yang sudah berusia 82 tahun, sudah sepuh dan dalam kondisi sakit menerima berita duka pada hari Minggu, 21 Juni 1970 bahwa Enkus, mantan suami yang dicintainya sepenuh jiwa sudah mendahuluinya menghadap Yang Maha Kuasa. Ia pun tergopoh-gopoh berangkat dari Bandung menuju Jakarta, ditemani putri angkatnya, Ratna Juami. Dalam batin, ia harus memberi penghormatan kepada mantan suami yang telah ia antar dengan sukses menggapai cita-citanya, ke pintu gerbang kemerdekaan.

Setiba di Wisma Yaso, di tengah lautan massa yang berjubel, berbaris, antre hendak memberi penghormatan terakhir, Inggit –tentu saja– mendapat keistimewaan untuk segera diantar mendekat ke peti jenazah. Di dekat tubuh tak bernyawa di hadapannya, Inggit berucap, “Ngkus, (panggilan sayang Inggit pada BK) geuning Ngkus tehmiheulan, ku Inggit di doakeun…” (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Inggit doakan….). Sampai di situ, suaranya terputus, kerongkongan terasa tersumbat. Badannya yang sudah renta dan lemah, terhuyung diguncang perasaan sedih. Sontak, Ibu Wardoyo, kakak kandung Bung Karno (nama aslinya Sukarmini) memapah tubuh tua Inggit.

Inggit, melayat BK di Wisma Yaso


Begitulah cinta Inggit terhadap BK, tak pudar digilas jaman. Tak hilang meski BK tetap berpetualang dari perempuan satu ke perempuan lainnya. Dia mencintai dengan ikhlas dan tulus. Tidak pernah dia ungkit jasa-jasa yang telah dia ukir untuk BK. Andai tidak ada Inggit, mungkin BK takkan terbentuk seperti yang kita kenal sekarang ini. Tapi Tuhan telah mengatur segalanya. Inggitlah perempuan yang paling pantas mendampingi dan 'membentuk' BK. Dan BK setia padanya selama kurang lebih 20 tahun. Lihat, pada istri manakah BK setia selama itu selain pada Inggit ?

 *Lirik lagu Ebiet G.Ade

19 komentar:

  1. Sebagai laki-laki hal yang paling kubenci adalah membaca kisah kesedihan yang mengharu biru seperti ini. Saya ternyata masih terlalu cengeng untuk tidak berkaca-kaca membaca kisah sedih ini. Meski di umur saya yang sudah semakin mendekati kepala 4 yang kata Mbak Dewi sebagai laki-laki yang lagi matang dan hot-hotnya. Benarkah?

    Ah, beginikah akhirnya? Sungguh ini kisah cinta yang mengharukan. Terima kasih, Mbak Dewi akhirnya menuntaskan juga ceritanya.

    BalasHapus
  2. @ Mas Joko:
    Saya kan dah bilang, Mas.. Siapkan handuk..hehehe..
    Saya juga nangis waktu baca kisah ini. Kesannya kok habis manis sepah dibuang ya? Seolah-olah dia nggak berharga dan pengorbanannya sperti 'tak dilihat' oleh BK (itu anggapan saya).
    Soal lelaki yang sedang hot-hotnya, itu hanya kata orang, Mas. Puber kedua laki-laki katanya kan seumur itu. Salah ya? hehehehe...maaf kalo gitu..

    Begitulah akhirnya, Mas. Tapi hebatnya, Inggit nggak dendam ya sama BK? Dia malah selalu menerima istri-istri BK yang datang sowan ke dia dg tangan terbuka. Yang paling sering dtg itu adalah Haryati, dan mereka lumayan dekat.

    Terima kasih juga sudah bersedia meluangkan waktu membaca tulisan kacau balau saya, Mas.
    :)

    BalasHapus
  3. it's nice to be here... Luar biasa! Bnyak value yg bisa menginspirasi kita terutama kaum hawa dari kisah ini. Inggit adalah tipikal wonder woman dan pecinta sejati.
    Salam sobat :)

    BalasHapus
  4. kw lima x juga nih dapet. hehehehee
    numpang absen aja nihh..
    dah lama saia ga ngeblog..heheheee

    BalasHapus
  5. komplitttttt....... mantap sob.........kita perlu tahu sejarah nich.......pingin punya presiden kayak BK lagi........

    BalasHapus
  6. lho kok udah bagian 3. bentar nyari bagian 1 nya dulu. mantabs neh keknya...

    BalasHapus
  7. @ gaelby:
    Bener, Inggit adalah pencinta sejati. Mencintai tanpa pamrih, tidak sakit ketika disakiti, tidak dendam meski dilumatkan. Cinta yang tulus ikhlas sepenuh jiwa.

    Salam kembali.. :)

    @ Ra-koen:
    Selamat tahun baru... :)

    @ chikal:
    hi, Chikal. Welkambek! Makasih udah mampir.. :)

    @ menone:
    Iya, saya juga mengagumi BK dan pengen ada seseorang seperti dia untuk memimpin negeri ini. Sebagai presiden BK paling OK diantara yang lain. Sebagai cowok, BK ganteng dan cool (Ariel kalah deh..) SEbagai suami beliau penyayang dan penuh cinta dan sanggup membuat wanita merasa hanya dialah yang paling dicinta :)
    Tapi saya gak suka dengan ketidaksetiaanya. :(

    @ Rawins:
    hahahaha...moga cepet ketemu. Cerita ttg BK emang selalu mantabbss... :D

    BalasHapus
  8. bagian dimana peran irfan bachdimnya ada gak ya?!?!? hehehe...

    BalasHapus
  9. Kisah Inggit benar-benar inspiratif ya. Kagum dan salut dengan perempuan itu.

    BalasHapus
  10. @ Merli:
    haaa...bapak-nya Irfan Bachdim ja blon lahir saat kisah ini terjadi, Jeng...
    Eh, nge-pen sama Irfan yaaaaa..??? hehehehe..

    @ Ivan:
    Inspiratif banget. Sangat-sangat mengagumkan. Te o pe be ge te lah...

    BalasHapus
  11. cerita diatas mengingatkan saya, tidak ada yang abadi di dunia.. bahkan cinta kasih seorang suami sekalipun... saya menyimpulkan cinta Bung Karno pada suatu titik telah menjadi berkurang pada Inggit dan menjadi bertambah pada fatimah...

    dan ibu inggit setelah diminta memberi izin untuk bung karno menikah lagi... cintanya juga mulai sirna...

    karena jika cintanya tidak sirna... dia akan membiarkan dirinya dimadu asal bisa bersama bung karno... tapi kepedihan hatunya setiap kali emlihat bung karno bersama wanita lain , membuat dia memilih untuk tidak mempertahankan cintanya...

    bagaimana sikap mbak dewi sendiri jika dalam posisi mbak inggit ?
    ( mungkin jangan dijawab jika konsekuensinya besar saat dikonfirmasi oleh suami :)

    BalasHapus
  12. Baca yg ke dua gak komen, nunggu dulu yang ke-3...

    Ini udah habis ya ya mbak... Sedihnya ya??? Insya Allah istri seperti Ibu Inggit tetapi saya gak mau jadi seperti Pak Karno kalo urusan wanita,,, hehehe... hehehe......

    BalasHapus
  13. @knowledger80:
    Saya pernah berada di posisinya yang hampir sama dg Inggit..hehehe. Bedanya saat itu saya masih pacaran. Akhirnya ya putus deh...

    Jadi kalo dalam pernikahan saya berada di posisi seperti Inggit, saya akan mengambil langkah sama dg Inggit. Mending menjande deh.. Toh kita masih bisa mencintai tanpa memiliki..(cie..cie...)

    @ Blog Keluarga:
    Iye, dah habis. :)
    Untuk urusan beginian gak usah ngikutin Bung Karno lah.. Kasihan istrinya!

    @ Made Riantini Harjaya:
    Betul.
    'Syukuri apa yang ada...
    hidup adalah anugrah...
    *eh, kok malah nyanyi*

    BalasHapus
  14. Mantap Mba, gw jadi tau cerita lengkapnya Bu Inggit. Duh kasian yah Beliau. Tapi teteuo boo salut pisan. Mun abdi mah tos ngasah arit *mo nyembelih ayam maksudnya*

    Ditunggu cerita cinta tokoh2 yang laennya yah Mba. Misalnya Dewi Persik, JuPe, dll *muntah*

    BalasHapus
  15. @ Susan:
    Ntar kalo ayamnya udah dimasak, panggil aku yah Jeng? *gelopisan*

    Halahhh...kalo tokohnya yang itu mah..nyerah deh..wkwkwkwk...

    BalasHapus
  16. wah... baru tau kisah lengkapnya bu inggit, dulu aku kira beliau itu mjd istri BK cuma sebentar, ternyata lama juga ya smp 20 tahun... Subhanallah... Aku pernah dengar juga mba kisah istri BK yg orang jepang itu...

    BalasHapus
  17. @ Bunda Shishil:
    Iya Bund, paling lama sama Inggit dan paling setia, selama 20 thn gak ada wanita lain hingga datanglah Fat (kayak nama gw).

    Tapi kisah cinta dg Inggit berakhir menyedihkan. :(

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...