Senin, 07 Maret 2016

Di Depan Pintu Coklat

Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata.

https://pixabay.com/id/gadis-duduk-sedih-bahagia-42659/
Credit
Aku duduk di sana, tak jauh dari lelaki berseragam biru dongker yang juga duduk menghadapi sebuah meja kecil. Aku tau, lelaki itu sesekali melirik ke arahku. Mungkin heran, mungkin juga simpati. Aku tak peduli. Aku fokus ke arah pintu berwarna coklat. Orang-orang keluar dan masuk. Yang kutunggu tetap tak ada. 

Dan aku masih di sini. Duduk sejak jam 9 pagi. Mungkin sudah sejam...dua jam.. tiga jam.. Aku mulai ingin menangis. Merasa sendirian dan merana. Tenggorokanku mulai sakit menahan lara. 

Pintu coklat terbuka, seorang wanita berpakaian hijau menghampiriku sambil tersenyum.

“Makan siang dulu, Mbak.. Masih lama,” katanya dengan ramah. 

Aku mengangguk dengan leher kaku karena tenggorokanku rasanya bengkak. 

Lagi, aku duduk sendirian ditengah keramaian orang-orang. Menghadapi sepiring kwetiaw goreng dan secangkir teh panas. Perutku lapar, tapi menolak untuk diisi. Air mata mulai mengaliri pipiku. Rasanya ingin menangis meraung-raung sambil memeluk seseorang. Tapi aku tetap sendiri. Menelan tangis dengan susah payah ditengah tatapan orang-orang. 

Aku memilih kembali ke sana. Ke sebuah kursi di depan pintu coklat dengan tenggorokan yang semakin bengkak. 

Duduk menunggu. Melihat orang-orang yang keluar masuk. Yang kutunggu tetap tak muncul. Senja menghampiri tepian jendela di ujung lorong. 

Aku gundah, aku ditunggu oleh seseorang. Tapi aku juga harus menunggu seseorang yang lain. Aku ingin membelah diriku menjadi dua dan memberikan satu untuk masing-masing mereka. Andai aku bisa.. 

Handphone yang sedari tadi kugenggam mendadak berbunyi dan tangisku tiba-tiba tumpah...... 

“Tolong tunggu sebentar.. Dia masih di dalam. Aku tak bisa pergi..” aku menangis. Rasanya dadaku mau pecah. Kurasakan pria berbaju dongker memandangku terang-terangan. Aku tak peduli. Aku butuh menangis. 

Azan magrib membuat air mataku makin deras mengalir. Tapi pintu coklat tiba-tiba terbuka. Wanita berbaju hijau tadi muncul dengan masker diwajahnya. 

“Sudah selesai, Buk... Silahkan masuk.” 

Aku lega juga takut. Kabar apa yang akan aku dengar? 

Pria gemuk berbaju kotak-kotak duduk dihadapanku, menggelar beberapa foto dengan tenang. Bicara pelan dan hati-hati, seakan enggan melukaiku. Perlahan tangannya menjangkau sebuah foto: 

“......Kalau gambarnya seperti ini, ada dua kemungkinan. Bisa peradangan, bisa juga tumor...” suaranya ditekan rendah selembut mungkin saat menyebut 'tumor'. Lalu sambil memandangku dia melanjutkan,” kalau peradangan, akan lebih mudah mengobatinya, tapi kalau tumor harus diangkat sebelum dia makin membesar dan menutupi seluruh saluran ini..” 

Aku terdiam. Tak tau harus menjawab apa.. 

“Tapi ibu nggak usah pikir itu dulu. Kita akan kirim sample jaringan ke bagian PA (Patology Anatomy) dulu, lalu kita tunggu hasilnya seperti apa. Sebelum hasil PA ada ditangan kita, jangan pikir macam-macam dulu..ya? Tenang saja...” 

Aku hanya diam dengan perasaan kosong. Tidak cemas, tidak sedih, tidak gembira, tidak ada yang kurasakan. 

Hambar. Kosong. Hampa


12 komentar:

  1. apa kabar mbak dewi?
    baik baik sajakah???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Elsa.. Meskipun ada sedikit duka, secara garis besar baik-baik aja.. :)

      Hapus
  2. Suami ?

    Siapapun & apapun itu, tetap berprasangka baik dengan yang di Atas ya Mbak. Insya Allah semua baik2 saja. Usaha dan doa, hanya itu yang bisa dilakukan. Semangat !

    BalasHapus
  3. 😭 terharu,WANITA HEBAT,tetap semangat kak,pasti di beri yang terbaik oleh sang KHALIK,Amin.

    BalasHapus
  4. Fiksi? atau terinspirasi dari kisah nyata?

    Masih essip markosip wae emake Vales nih nulisnya

    BalasHapus
  5. semangaaaat emaknya Vales...
    *sini nyidorin bahu buat menangis
    *nyodorin kedua tangan untuk memeluk

    hanya bisa mendoakan, semuanya akan baik2 saja ya wii...

    BalasHapus
  6. Dewii.., semua akan berjalan lancar insya Allah, semangat ya
    ikut mendoakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah..
      Amiiinnn..
      Makasih Mbak..

      Hapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...