Ketika Pakdhe mengumumkan tentang kontes Proyek Monumental Tahun 2014, aku langsung terbayang proyekku ini. Proyek yang sudah lama berada dalam angan-angan dan doa, yang selalu masuk daftar resolusi tahunan, tapi selalu gagal dan mundur ke resolusi tahun berikutnya. Setiap saat aku meminta pada Yang Kuasa agar membuka jalan untuk terwujudnya Proyek Bersama ku ini. Alhamdulillah... Tahun ini mulai ada titik terang dari jawaban doa-doa ku itu...
Papaku berkali-kali bilang bahwa jikalau beliau meninggal nanti, tidak ada harta apapun yang bisa beliau tinggalkan untuk kami. Rumah yang kami tinggali sejak kecilpun adalah rumah warisan yang bisa saja tidak akan jadi milik kami. Tanah juga begitu. Kamipun manggut-manggut mengerti, memahami dan menerima keadaan dengan ikhlas.
Papaku berkali-kali bilang bahwa jikalau beliau meninggal nanti, tidak ada harta apapun yang bisa beliau tinggalkan untuk kami. Rumah yang kami tinggali sejak kecilpun adalah rumah warisan yang bisa saja tidak akan jadi milik kami. Tanah juga begitu. Kamipun manggut-manggut mengerti, memahami dan menerima keadaan dengan ikhlas.
Tahunpun berlalu. Hingga pada suatu hari papa memanggil kami berlima untuk duduk di sekitar meja bundar (meja makan) kami. Saat itu papaku berkata:
"Papa punya sedikit tabungan. Papa ingin membangun sebuah rumah untuk kalian semua.." papa membuka sebuah gulungan kertas yang ternyata bergambar sebuah denah rancangan rumah.
Kami berpandangan. Papaku pejabat daerah yang jujur. Karena jujur dia miskin..ihik.. Jadi kami agak heran kalau beliau punya tabungan untuk membangun rumah. Tapi tentu saja, kami senang!
"Hanya satu rumah. Satu rumah untuk kalian berlima!" papaku tersenyum *saat itu dia terlihat tampan sekali*.
"Tak mungkin papa membangun satu rumah untuk masing-masing kalian...." kami tergelak. Tentu saja itu tak mungkin!
Beberapa waktu kemudian, rumah itupun dibangun (lagi-lagi) di atas sepetak tanah warisan dari almarhumah nenek untuk mamaku. Rumah yang lumayan besar dengan 5 kamar tidur, 1 dapur, 1 garasi, 1 kamar mandi besar, 1 ruang kerja+ruang tamu (khusus papa), 1 ruang keluarga plus ruang makan dan 1 ruang tamu. Alhamdulillah, meski rumah itu untuk bersama, tapi kami sungguh riang gembira dan tak henti bersyukur...
Namun baru saja pondasi rumah selesai dan tinggal menaikkan bata, papaku dipanggil oleh Pemiliknya. Kami terkejut, syock dan sedih. Yang paling jadi pikiran kami adalah: bagaimana dengan rumah ini?
Namun bagaimanapun, kami sepakat, ini akan jadi Proyek Bersama kami, pembangunan rumah itu tetap harus berjalan. Sampai mentok. Sampai tetes dana terakhir. Terserah bagaimana bentuk akhirnya. Tapi baru selesai sekitar 70%, kami sudah kehabisan dana tabungan papa karena sebagian sudah terpakai untuk beliau berobat dan keperluan lain. Rumah itu sudah berdiri, tapi belum diplester, belum ada pintu dan jendela, belum ada plafon dan lantainya masih semen cor-an. Dan belum ada kamar mandi..
Kini, 8 tahun setelah ayahku berada di alam sana, akupun bicara pada mama mengenai rencanaku tentang rumah kami yang terbengkalai itu. Aku menyadari, diantara 5 bersaudara, saat ini hanya aku yang bisa diharapkan mama untuk menyelesaikan rumah itu.
"Rencanaku Ma, mulai tahun ini (2013), aku akan berusaha menyisihkan penghasilanku untuk menyelesaikan rumah ini. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa selesai secantik rumah orang. Tapi, Insya Allah... Aku akan berusaha, mudah-mudahan tahun depan (2014) kita sudah bisa lebaran di sini..."
Maka, kami berlima plus mama berbagi tugas :
Kakak nomor 1 bertugas di bagian konsumsi.
Kakak nomor 2 bertugas menerima dana, mencari supplier, mencari tukang plus negosiasi harga.
Kakak nomor 3 untuk sementara bertugas sebagai penggembira saja, karena usahanya baru jalan dan belum bisa diharapkan. Diharapkan tahun depan akan berpartisipasi sebagai penyandang dana berdua dengan aku.
Aku (tentu atas persetujuan suami) sebagai penyandang dana tunggal akan mengirim dana setiap bulan. Berapapun yang bisa kusisihkan akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh saudara2ku di kampung demi rumah bersama kami.
Kakak nomor 2 bertugas menerima dana, mencari supplier, mencari tukang plus negosiasi harga.
Kakak nomor 3 untuk sementara bertugas sebagai penggembira saja, karena usahanya baru jalan dan belum bisa diharapkan. Diharapkan tahun depan akan berpartisipasi sebagai penyandang dana berdua dengan aku.
Aku (tentu atas persetujuan suami) sebagai penyandang dana tunggal akan mengirim dana setiap bulan. Berapapun yang bisa kusisihkan akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh saudara2ku di kampung demi rumah bersama kami.
Untuk menghemat biaya tukang, adik bungsuku (satu-satunya cowok) memilih bertugas sebagai tukang plester setelah terlebih dahulu di 'sumpah' agar bekerja dengan baik dan tidak mengecewakan pelanggan. Jadi kami tinggal mencari tukang untuk memasang plafon dan pintu.
Terakhir, mama bertugas sebagai pengawas utama dari keseluruhan proses, plus tukang marah-marahin dan ngomel-ngomelin aku (kata adikku) -- sabar ya dek....
Proyek Bersama ini sudah berjalan sejak bulan September lalu. Sekarang, dinding bagian dalam dan sebagian depan udah selesai plester. Tinggal dinding kamar dan dinding luar yang belum. Pintu depan, beberapa jendela depan dan 2 pintu kamar juga sudah dipasang. Halamannya yang dulu rimbun juga sudah dibersihin oelh mama. Alhamdulilah...
Aku berharap tahun depan (2014) rumah ini sudah bisa dihuni. Mungkin belum akan ada lantai keramik, tapi setidaknya sudah tidak ada lagi kisah atap bocor yang selalu diceritakan mamaku setiap kali sehabis hujan. Insya Allah... Amiin...
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014
aku doakan semoga tahun depan sudah selesai semua rumahnya ya mbak
BalasHapusamiiiinnnn....
HapusSubhanallah, wi.. ini akan jadi hadiah terindah buat mama.. tahun depan Insya Allah Wi sekeluarga berlebaran bersama di rumah baru.
BalasHapusBundo mau main ke pincuran putiiii.....!! ;p
Amiinn... Insya Allah, Bun...
HapusAyoo Bun, main ke rumahku ya....!!
Syukur yah
BalasHapusiyah...
HapusWaahh, aku doakan segera terealisasi dan selesai ya, Jeng...
BalasHapusJadi kalo aku main sana gak perlu nginap di hotel hahahahah.... :P
Siap!! Nggak usah nginap di hotel, Mbak, nginap di rumahku aja. Diskon 50% deh... hahahahahaha....
Hapussemoga bisa terlaksana di tahun ini yah mbak,,,,,mudah-mudah Amiin,,,,
BalasHapusAmiiinnnn....
Hapusorang2 sibuk bikin proyek monumental, lha saya proyek nyari bini aja belum kelar2 :D
BalasHapussaya ikut bantu doa aja ya mbak, semoga proyeknya berjalan sesuai rencana...Amiiin :)
Mau tak bantuin nyari? Di sini banyak yang nganggur nih... :D
HapusAmiinn... Makasih doanya.. :)
Aamiin...InsyaALLAH Lebaran tahun depan sudah beres dan berkeramik jg ya mbak Dew *ketjup*
BalasHapusAmiinn.. SEmoga ya, Rin... *ketjupbalik*
HapusTerima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Proyek Monumental Tahun 2014
BalasHapusAkan saya catat sebagai peserta
Keep blogging
Salam hangat dari Surabaya
Makasih, Pakdhe...
HapusSalam hangat juga buat Pakdhe sekeluarga.. :)
Alhamdulillah meskipun agak tersendat tapi sepertinya sebentar lg selesai rumahnya Jeng....mudah-mudahan lebaran tahun depan udah selesai sempurna....aamiin
BalasHapusbismillah ya sis,insya allah diberikan kemudahan untuk keluarganya dan rumahnya segera rampung
BalasHapusinformasi yang bagus sob,
BalasHapusrumahku istanaku...semoga cepat rampung dan proyeknya berhasil yaaa mbaaa :D...cheeers....
BalasHapussaya suka informasinya sob,
BalasHapussemoga rumah renovasi cepat beres, dan proyek bersama di akhir 2014 dapat tercapai
BalasHapushome sweet home...semoga segera bisa menempati rumah idamannya ya Mbak.
BalasHapusHappy as always
semoga cepat kelar untuk segera ditempati ya
BalasHapuslama gak di-update ya blognya sob
BalasHapusSemoga cepat terRealisasikan mbak. salam :)
BalasHapussemoga sukses... amin
BalasHapus