Jumat, 05 Agustus 2011

Cinta Yang Tak Berbalas

Pengantar: Temans, ini cerita fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata. Secuil kisah ini ku ambil dari pengalaman nenek dan ayahku tercinta, sisanya dari pengalaman nyata para pejuang yang sering terlupakan. Semoga Allah Ta'ala membalas jasa-jasa mereka. Cek it ot!

Lelaki tua itu tertatih berjalan dengan tongkatnya, susah payah mencapai tempat duduk yang telah disediakan panitia. Wajahnya Nampak lega begitu menghenyakkan pantat dikursi paling dekat yang bisa di capainya. Lalu dia duduk tenang dan mengikuti jalannya upacara dengan khidmat.

Sejak pindah bekerja ke kota ini dan setiap tahun mengikuti upacara 17 Agustus, aku selalu memperhatikan orang tua itu. Setiap tahun dia selalu datang dengan pakaian seragam berwarna hijau tua dengan beberapa atribut di bahu dan dada, memakai peci warna senada. Tapi ada hal yang menarik perhatian, kakinya. Kakinya hanya satu, hingga dia memerlukan bantuan tongkat untuk berjalan. Meski begitu dia tetap terlihat segar dan murah senyum.

Sudah sejak lama aku ingin menyapanya, mengobrol, bercerita. Aku ingin mendengar kisah itu dari mulutnya sendiri. Tentang seorang veteran perang cacat yang terlupakan.

Upacara berakhir. Kulihat lelaki tua itu berusaha berdiri dan mulai berjalan tertatih. Aku segera berlari mendekat.

“Selamat siang, Pak,” ku ulurkan tangan menyalaminya. Lelaki tua itu tersenyum ramah.
“Selamat siang, Nak,” sambil menyambut uluran tanganku.
“Bapak tinggal di dekat mesjid Darul Akhyar, kan?” tanyaku.

Dia tertawa, mulutnya kosong tanpa sebutirpun gigi.

“Bukan. Saya malah menumpang tinggal dimesjid itu, Nak. Ada sebuah bilik kecil dibagian belakang, daripada kosong atau dihuni kecoak doang, mending saya tinggali, toh? Sekalian biar bisa bantu bersih-bersih mesjid,” jawabnya.

“Ooo… Pantes, saya sering liat Bapak disitu. Ayo, Pak, ikut mobil saya. Sekalian saya mau shalat zuhur nanti disana.”

Aku mengajaknya makan siang di sebuah warung di pinggir lapangan. Awalnya dia terlihat sungkan, tapi kemudian bersedia. Lalu mengalirlah cerita itu.

“Saya dengar, jaman perjuangan Bapak pernah menjadi teknisi alat-alat perang ya, Pak. Hebat itu, Pak. Berarti Bapak dulu sekolahnya tinggi, dong?”

Dia menatapku, senyumnya mekar.

“Iya, Nak. Itu waktu kami berjuang mengusir Belanda yang datang kembali dengan membonceng NICA dari daratan Sumatera bagian Tengah. Bersama teman-teman di Kompi Merdeka Resimen Sumatera sekitar tahun 1948, saya ikut berjuang. Saat itulah saya jadi teknisi alat-alat perang. Kalo sebelum 45, saya manggul senjata.”
"Manggul doang, Pak?" aku tersenyum menggodanya.
"Hahaha.... ya enggak, kadang-kadang nembak orang kalo dibutuhkan," dia balas bercanda. 

Lelah tertawa, dia meneguk air putih. Matanya yang berwarna abu-abu pudar menerawang langit siang.

“Tentu saja saya pernah sekolah, untuk jaman saya dulu, sekolah saya cukup tinggi. Orang tua saya pedagang tembakau yang lumayan berhasil. Dengan hartanya mereka membantu membiayai perjuangan para tentara kita. Suatu malam saat sedang belajar, tiba-tiba saya mendengar suara tembakan di luar. Ayah saya berteriak agar saya dan ibu naik ke atas loteng untuk bersembunyi. Saya mendengar pintu rumah di dobrak dari luar. Seseorang membawa pergi ayah saya yang tidak sempat bersembunyi. Saya tidak berani turun untuk menolongnya. Saya bersama ibu berdiam di loteng hingga pagi. Kami turun begitu langit terang. Tapi ayah saya sudah tidak ada. Hanya ada bercak darah dilantai rumah. Saya dan ibu menunggu berhari-hari, tapi ayah saya tak pernah kembali. Lalu saya berjanji, inilah saatnya saya ikut berjuang. Saat itu usia saya belum lagi 20 tahun, Nak,” dia menatapku lagi, ada duka dimatanya.

“Hanya beberapa bulan setelah saya pergi, kampung kami terbakar hebat. Rumah kami ikut terbakar.”
“Ibunya Bapak selamat?”
“Alhamdulillah. Ibu saya ikut berjuang, Bujang. Beliau memasak didapur umum untuk para pejuang. Kadang jadi kurir para pejuang. Kami adalah keluarga pejuang, Nak. Saat itu semua orang ikut berjuang mengusir penjajah dengan caranya sendiri-sendiri.”

Aku terdiam, ragu-ragu ingin menanyakan suatu hal yang agak riskan.
“Bapak tidak menikah?”
“Saya menikah beberapa tahun kemudian. Tapi istri saya telah meninggal 10 tahun lalu. Anak saya malah lebih dulu meninggal di dalam lobang ketika baru berusia 5 tahun. Anak yang malang.”
“Dalam lobang?”
“Dulu, kalau mendengar bunyi tembakan, orang-orang berlari masuk ke dalam lobang untuk berlindung dari serangan udara. Anak saya yang tengah sakit panas meregang nyawa didalam lobang, disaksikan ibunya. Saya entah dimana saat itu…” suaranya tercekat.

Aku tak tahan lagi ingin bertanya tentang sesuatu yang selalu mengganjal dihatiku selama ini.

“Maaf, Pak. Saya dengar Bapak tidak menerima uang tunjangan veteran perang dari pemerintah. Apa itu benar?”

Dia terdiam, menekuri tanah cukup lama. Tiba-tiba mataku melihat sosok tua yang kehilangan banyak hal diwaktu muda dan hidup kesepian dihari tua. Aku mendadak merasa rikuh, susah payah ku telan haru.

“Soalnya..soalnya…saya dengar pemerintah memberikan tunjangan untuk veteran perang, Pak.”
“Tidak untukku, nak. Mungkin tidak ada rejekiku disitu.”
“Kenapa, Pak? Bapak tidak mengurus surat-suratnya?” kejarku.
“Semua surat ada, Nak. Dokumen saya lengkap. Baju seragam pejuangkupun masih ada. Dan saya sudah mengajukan tunjangan itu sejak tahun 1993. Katanya tinggal menunggu SK. Tapi…hingga kini…,” suaranya tiba-tiba tercekat. Kali ini dia terdiam cukup lama.

“Sudahlah, Nak. Dulu kami berjuang dengan ikhlas, bukan untuk kepentingan diri pribadi. Tapi untuk bangsa dan Negara kita. Kami tidak mengharap apapun dari siapapun. Cukuplah menghargai perjuangan dan pengorbanan kami dengan menjaga negeri ini sebaik-baiknya. Jangan dihancurkan Negeri yang indah ini,” sebutir bening mengambang disudut matanya, suaranya tercekat melanjutkan,” Bagi kami, mau dikasih ya syukur, enggak dikasih ya sudah. Teman-teman saya ada yang dikasih tunjangan 600 ribu, ada yang 300 ribu tapi ada juga yang dapat 20 ribu saja. Yang namanya rejeki ya harus disyukuri. Kalo saya, syukur masih diberi kesehatan. Kau tau, Nak? Saya pernah menonton tipi di pos ronda tentang kisah hidup seorang mantan ajudan jendral jaman dulu yang sekarang jadi penyapu jalan di kota. Jadi, meski tidak ada perhatian dari pemerintah untuk kami, bukan berarti kami harus menangisi diri. Kami toh cinta negeri ini, dan kami berjuang demi cinta itu. Dulu dan kini, selalu berjuang. Dalam bentuk yang berbeda. Jika kau mencintai sesuatu, kau akan berjuang tanpa memikirkan pamrih, karena berjuang untuk cinta itu sangat membahagiakan.”

“Tapi, adalah hak bapak untuk…..”

“Tuhan lebih tau, Nak. Toh, hingga kini Dia masih memberiku rejeki,” dia tersenyum. Lalu memperbaiki duduknya, kepalanya menoleh, menatap keluar jendela warung. Jemari tuanya bergetar membuka peci. Membersihkan debu-debu yang menempel disana. Kupandangi rambutnya yang putih dan wajahnya yang penuh kerutan, lalu mata abu-abunya yang terlihat lelah menerawang, menyimpan terlalu banyak cerita duka. Terlalu banyak kehilangan. Tapi dia punya banyak cinta untuk negerinya.

"Kaki...kaki Bapak, ken..apa?" pertanyaan itu terlontar begitu saja, meski sudah kutahan sekuat tenaga.
"Oh, ini... Terkena pecahan mortir..." dia menjawab sambil melihat kakinya yang buntung.

Tiba-tiba, aku ingin menangis memeluknya.

Bintan, 04 Agus 2011, 22.00 wib
************************************************************

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.


Sponsored By :

- http://www.kios108.com/
- http://halobalita.fitrian.net/
- http://topcardiotrainer.com/
- http://littleostore.com/



36 komentar:

  1. jadi terharu dibuatnya....
    itulah yg bener2 dikatakan pahlawan, hanya Allah yg akan membalasnya..

    Merdekaa bu,,, merdeka untuk semuanya,,,,

    semoga sukses ngontesnya.. :D

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap.....
    Siap untuk dinilai oleh Tim Juri.....
    Salam hangat dari Jakarta......

    BalasHapus
  3. jadi cerminis lagi si mba ini :) :L

    BalasHapus
  4. nasib para pejuang memang selalu menyedihkan... jadi malu sendiri melihat generasi kita merasa seolah-seolah hidup nyaman di Indonesia ini sebagai -a gift from heaven- tanpa perjuangan..

    BalasHapus
  5. Fiuhhh....jd ikutan nangis mba Dew...fiksi yg sangat 'dalam'. Sepertinya akan jd salah satu pemenang ;)

    BalasHapus
  6. air mataku hampir keluar mbak. fiksi dari kisah nyata. Agak bingung jadinya.

    aku suka dengan katanya" Dia masih memberiku rejeki" bersyukur memang bahagia...

    BalasHapus
  7. keren neh
    banyak sponsornya juga
    semoga berhasil deh..

    BalasHapus
  8. jadi ingat jaman perjuangan dulu...

    semoga menang ya mbak...

    BalasHapus
  9. @ Mabruri:
    Merdeka!!

    Sukses buat Mabruri juga :D

    @ Nia:
    Tengkyu Ibu juri :D

    @ aryadevi:
    hahaha..kayak artis ya, aji mumpung. Lagi musim nyanyi ya jadi penyanyi, lagi musim film ya main film, lagi musim kawin yaaaaaa....gitu deh!

    @ Hilsya:
    Ho-oh... Banyak hal yang memalukan dimari, Mba'e

    @ Orin:
    Ah, Jeng Orin pandai memuji...

    @ Blog Keluarga:
    Gak usah bingung Mas. Ini kumpulan beberapa kisah nyata yang dialami bbrp orang dan saya rangkum dalam sebuah fiksi.

    @ Rawins:
    Amiiinnn..

    @ Zan:
    Berjuang dimana, Pak?

    Amiinn... Thanks.

    BalasHapus
  10. mantap mbak ceritanya, always inspiratif :L

    btw tuh mbak ada kata 'bujang'? di kalimat ini ku copas ya:

    “Hanya beberapa bulan setelah saya pergi, kampung kami terbakar hebat. Rumah kami ikut terbakar.”
    “Ibunya Bapak selamat?”
    “Alhamdulillah. Ibu saya ikut berjuang, Bujang. Beliau memasak didapur umum untuk para pejuang. Kadang jadi kurir para pejuang. Kami adalah keluarga pejuang, Nak. Saat itu semua orang ikut berjuang mengusir penjajah dengan caranya sendiri-sendiri.”


    nah tu artinya "bujang" apa ya???

    BalasHapus
  11. Jangan'' cerita beneran nich..
    hehhhe,,. moga menang ya,,.

    BalasHapus
  12. Mantab seritanya. Sayangnya ada beberapa pejuang yang keknya justru terlupakan di jaman merdeka ini. Hidupnya gak keurus. Miris melihat kenyataan ini.

    Selamat memeriahkan kontesnya Pakde

    BalasHapus
  13. keren bget, pasti menang ne... *beringsut pulang* *tulisan saya jelek banget, yg ini bagusny minta ampun*keren bget, pasti menang ne... *beringsut pulang* *tulisan saya jelek banget, yg ini bagusny minta ampun*

    BalasHapus
  14. terharu,..jadi ingat kakek saya yang giginya juga tiada dan ingatannya pun memudar..:) mereka benar2 terlupakan oleh para pemuda masa kini,..:)

    BalasHapus
  15. pahlawan jaman dulu, yang dulu berjuang mengorbankan banyak hal termasuk kondisi fisik, pada masa tuanya hanya menunggu mengantri untuk mendapat tunjangan.. miris..
    cerita menginspirasi, semoga menang yaa mbak dewi fatma!

    BalasHapus
  16. daku datang mbak habis subuh nih :) kemarin waktu ngenetnya habis hihihi, siap dicatat kok

    BalasHapus
  17. Fatmaaaaa..............dirimu sukses bikin bunda nangis ...hiks...hiks...
    begitu besar cinta si Bapak pd negeri ini
    jadi malu, dan berkaca , apa yg telah kita perbuat utk negeri ini yg telah direbut dgn segala daya oleh si Bapak veteran ini :(

    Semoga sukses diacara ini ya Fatma
    salam

    BalasHapus
  18. berjuang untuk cintanya pada indonesia, kalau skg berjuang untuk kedudukan yg lebih tinggi serta penghasilan yg besar, bila sudah dapat pun tak sepenuhnya membela negeri justru malah merusak..seperti korup dll.berjuang untuk cintanya pada indonesia, kalau skg berjuang untuk kedudukan yg lebih tinggi serta penghasilan yg besar, bila sudah dapat pun tak sepenuhnya membela negeri justru malah merusak..seperti korup dll.

    BalasHapus
  19. wuah menyentuh banget kisahnya.... :c

    BalasHapus
  20. kisah ini sangat bagus... menegur kita dgn tajam utk tidak menyia2kan kemerdekaan yg sudah diperoleh dgn susah payah...

    selamat bertanding di CBBP, semoga berhasil... :D

    BalasHapus
  21. semoga menang di kontes blogger bakti pertiwinya ya!

    BalasHapus
  22. Cerita yang mengharukan, klo zaman sekarang banyak yg pura-pura kakinya dibikin sakit, lalu dipakai untuk mengemis di jalanan..

    BalasHapus
  23. Kini semakin terbuka wawasan, mengapa para pejuang bisa memerdekaan negeri ini hanya berbekal senjata seadanya, salah satunya karena mereka berjuang bukan untuk materi, bukan untuk sebuah penghargaan, tapi mereka berjuang karena mereka cinta negeri ini,sebagai wujud dari keimanan, dan Allah sungguh ridho dengan hal yang seperti ini.

    Tapi meski mereka berjuang dengan ikhlas, semestinya pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kesejahteraan mereka, lebih menghargai mereka. Semoga saja, dari hari ke hari pemerintah kita terus berbenah mengurusi masalah ini.

    BalasHapus
  24. Sukses untuk CBBP kak Wi...., moga kita beruntung ya, tapi kalau kak Wi yang beruntung jangan lupa bagi dikit ya heheheh

    BalasHapus
  25. perjuangan bapakmu luar biasa uni...
    teruskan lah..

    BalasHapus
  26. Semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah kelak...

    BalasHapus
  27. @ Oen-Oen:
    hahaha... teliti banget sih, Oen?

    Tokoh disini "aku" disini adalah seorang pria muda. Dan "Bujang" adalah salah satu panggilan untuk anak muda di Sumatera Barat. Settingnya berlatar belakang perjuangan orang Sumbar ketika mengusir Belanda yang membonceng NICA.
    Ini kisah nyata, Oen. Cuma agak di tambah dan dikurangi disana-sini. :D

    Tengkyu, Oen.

    @ Cikal Ananda:
    Bener, ini beberapa kisah nyata yang dialami beberapa orang :D. Soal para pahlawan yang terlupakan ini pernah tayang kok di televisi. Cerita lainnya berdasarkan kisah kakek, nenek dan ayahku. Tentu tidak sama persis dengan cerita ini. Namanya juga fiksi, but based on true story.

    Makasih...

    @ Alamendah:
    Para pahlawan yang terlupakan dan hidup terlunta-lunta kan emang banyak :(

    Makasih, Mas.

    @ Honey:
    Ah, Hani suka ngomong dibalik-balik, deh. Saya kan udah baca punya Hani. Bagus kok!

    @ Kettyhusnia:
    Kakek saya malah udah nggak ada...

    @ Gaphe:
    Amiinnn.. Tengkyu, Phe.

    @ Lidya:
    Terima kasih, Ibu juri :D

    @ Bundadontworry:
    Makasih Bunda Sayang. Maaf kalo bikin sedih... :)

    BalasHapus
  28. @ Ibu Dini:
    Bener, mul. Semoga masa depan negara ini akan lebih baik, kelak.

    @ Nuellubis:
    Thanks, Dek Nuel :D

    @ mikhael & herman:
    Makasih :)

    @ Yuniarinukti:
    Betul banget, Mba Yuni. Apa emang kepengen pincang ya?

    @ Abi Sabila:
    Setuju, Abi. Mentang-mentang para pejuang itu ikhlas, pemerintah gak bisa dong,"ikhlas" gitu aja dengan pengorbanan mereka.

    @ Mulyani:
    Tenang, Mul. Ntar kalo dapet mukena, kita bagi ya? Aku dapet mukenanya, Mul dapat tas mukenanya. Setuju?

    @ puteriamirilis:
    Jiaaahh... Bukan bapakku ini, Jeng. Bapakku baru netes taon segitu :D

    @ Kang Nur:
    Amiiinnn...

    BalasHapus
  29. HIks..mengharukan..
    Moga menang ya Wi..

    BalasHapus
  30. Salam kenal, blogwalking jeung :) ...

    BalasHapus
  31. cerita yang menarik sob. tapi saya agak trenyuh dengan nasib kakek tersebut. udah mati2an berjuang, sampai mengorbankan kakinya, tetapi pemerintah malah sama sekali gak peduli

    BalasHapus
  32. Saya juga termasuk pejuang yg terlupakan.hahahah

    BalasHapus
  33. Aku doain semoga cepat terbalas ya B")

    BalasHapus
  34. Kisah yang menakjupkan sekaligus mengharukan. hebat ya, Mba Dewi bikin ceritanya, ternyata...

    BalasHapus
  35. HIks...hiks.... kau sudah berhasil membuatku terharu biru, Jeng...
    Kalo ada sms pemenang aku sms deh hahahaha.....
    :mj

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...