Jumat, 12 Oktober 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Prolog: Mamaku berlinang air mata ketika kami menonton berita tentang anak sekolah yang meninggal akibat tawuran antar pelajar,“Aku mungkin akan gila kalo anakku yang dibunuh begitu,” kata mama geleng-geleng kepala,”tak dapat kubayangkan….” lirihnya. 

Sedih dan memilukan memang. Kini tawuran bahkan sudah merambah ke anak-anak SMP. Dahsyat banget kan? Berbagai komentar bernada jengkel pun bermunculan: "Orang tua susah-susah cari uang agar kalian bisa sekolah, eh, kalian malah tawuran," begitu kata teman-temanku di kantor.  Mau jadi apa mereka kelak? Mau jadi apa negara ini kalau anak mudanya begini? Itulah pikiran yang sempat mampir di benakku ketika membaca berita bahwa KPAI mencatat pada tahun 2012, sekitar 103 korban tawuran antarpelajar di Jabodetabek, 17 orang di antaranya meninggal dunia, 39 orang mengalami luka berat, dan 48 orang mengalami luka ringan. Astaga! 

Bagaimanakah cara Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran ini? 

*Peran Sekolah
Sebuah sekolah menengah di Jakarta (sebut saja SMU Keren - soalnya aku lupa nama sekolahnya, nonton beritanya udah lama, sih) berhasil memperbaiki mental tawuran siswanya menjadi sebuah prestasi yang mengagumkan. Dulunya sekolah ini juga tukang tawuran, tapi beberapa tahun terakhir sudah berubah menjadi sekolah dengan segudang prestasi. Bagaimana mereka mengatasinya? 

Setiap siswa yang masuk sekolah dirazia, jika kedapatan membawa senjata tajam, langsung dikeluarkan dari sekolah. Para orang tua tidak bisa protes, karena hal tersebut sudah tertuang dalam sebuah perjanjian sebelum mereka resmi menjadi siswa/siswi di sana. Jika ketahuan ikut tawuran, juga langsung dikeluarkan dari sekolah. Cara lainnya; mereka diwajibkan ikut kegiatan ekstrakurikuler yang mereka pilih sesuai bakat dan minat mereka masing-masing. Jadi nggak ada waktu buat tawuran.

Ketika diwawancara oleh sebuah stasiun televisi, mereka dengan comel menjawab: "tawuran tuh, gak ada gunanya. Orang tua kan ngebiayai kita buat sekolah.."

"Nggak khawatir dibilang pengecut?" tanya wartawan.
"Enggak, biarin aja. Nggak ada gunanya.." sambil tersenyum manis tepuk tangan

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Musliar Kasim berkata "Selama ini kita terlalu fokus pada sisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi melupakan masalah perilaku, katanya. Beliau rencananya juga akan memasukkan pelajaran moral dengan porsi lebih banyak dalam kurikulum mendatang. Pendidikan agama juga diperbanyak ya, Pak? Jaman saya dulu hanya 2 jam seminggu sedih  Padahal itu dasar hidup kita, lho.. Semua agama mengajarkan kita untuk saling berkasih sayang, kan?

Dan bagaimana menimbulkan efek jera pada pelaku tawuran? Mungkin perlu diselidiki hingga ke akar permasalahannya hingga ke ranah keluarga, "Orangtua juga harus diproses. Tidak adil jika semuanya menjadi kesalahan anak, seakan-akan anak-anak hidup di lingkungan berbeda dari orangtua dan orangtua tidak punya hubungan sama sekali dengan anaknya," kata Pak Ihsan (Satgas KPAI) di kompas.com. 

Katanya lagi, menghukum anak seberat-beratnya (seperti di penjara) tidak akan menyelesaikan masalah, karena di dalam sana mereka akan bergaul dengan para pelaku kriminal, jadi begitu keluar dikhawatirkan akan melakukan kejahatan lagi. Akan lebih baik jika mereka dibina. 

Mungkin harus belajar juga Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran dari SMU Keren diatas ya, Pak Ihsan? senang

*Peran orang tua dan keluarga
Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) Pasal 26 Ayat 1 menegaskan bahwa orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab dalam melindungi anak, baik dalam hal mengasuh, memelihara, mendidik, melindungi, maupun mengembangkan bakat anak. Lihat diri kita; apakah kita terlalu sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan lahiriah anak kita hingga melupakan kebutuhan rohaniah mereka? 

Tidak, tidak tidak, bukan aku bermaksud menyalahkan orang tua dari anak-anak yang tawuran itu. Karena diantara mereka pasti ada yang sekedar ikut-ikutan teman karena takut dibilang nggak kompak, atau penakut. Tapi kata Kak Seto yang kubaca di kompas.com, "penanaman etika dan pendidikan karakter memerlukan kerja sama antara orang tua, guru, dan aparat." ditambahkan pada kesempatan lain oleh Pak Ihsan, "sebagai makhluk yang hidup dalam lingkungan sosial, tentunya pendidikan karakter dan etika itu juga menjadi tanggung jawab masyarakat alias lingkungan yang mendidik anak-anak tersebut secara tidak langsung. Tapi tanggung jawab besarnya tetap pada keluarga itu sendiri." 

Peran seorang ayah juga sangat diperlukan. Yang kita tau, dalam masyarakat kita, tugas ayah adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan mengurus anak, mendidiknya dan lain-lain adalah tugas (yang lebih banyak dibebankan pada) ibunya. Sudah benarkah ini? 

Anak yang dekat dengan Ayahnya, akan tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia, dan memiliki emosi yang lebih tenang ketika dewasa. Mereka juga tergolong anak yang kuat, berani dan bertanggung jawab, Demikian hasil penelitian terbaru yang dipimpin oleh seorang peneliti asal India.

Tapi jauh sebelum peneliti asal India itu lahir dan membuat penelitian, Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” 

Aku pernah membaca opini disebuah blog yang berbunyi kurang lebih seperti ini; para orang tua yang hebat; dokter, pengacara, hakim, dosen, guru bahkan ustadz, yang disibukkan dengan kegiatan di luar rumah untuk mendidik orang lain, memperbaiki akhlak hidup orang lain hingga mungkin saja mereka melupakan pendidikan moral untuk anak-anaknya sendiri, yang menyebabkan anak-anak muda sekarang jadi senang berkelahi (mungkin karena kurang diperhatikan ortu ya?)

Jadi, agar kita bisa Mencegah dan Menanggulangi Tawuran sedini mungkin,  mari besarkan anak-anak kita dengan kasih sayang. Dekatlah dengan mereka, pandang mereka dengan pandangan penuh cinta, rangkul dan peluklah mereka. Anak yang dibesarkan dengan pelukan akan punya IQ lebih tinggi dibanding mereka yang jarang dapat pelukan, begitu kata sebuah situs. 

Alkisah, seorang sahabat yang melihat Rasullullah mencium cucunya berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka” maka Rasulullah bersabda,” Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.” 

Apakah Anda seorang yang kesulitan memberikan pelukan dan ciuman untuk anakmu sendiri? Maka, berubahlah! 

Bagaimana cara mendidik anak yang baik? Ini beberapa hal yang kukutip dari berbagai sumber (buat pengetahuanku sendiri juga tentunya mengerlingkan mata): 

1. Berikan keteladanan, bukan hanya nasehat. 

2. Jangan pernah memukul anak dari lutut keatas, jika terpaksa memukul, pukullah telapak kakinya, itu akan bagus karena ada efek refleksologi yang merangsang ke bagian otak

3. Jangan pernah memukul anak pakai tangan. Mamaku paling wanti-wanti mengenai ini. Pukulah dia dengan media lain sebagai penyambung tangan (jika terpaksa lho, ya). Karena sekali memukul pakai tangan kita akan kebiasaan memukuli mereka, bagai candu. Lagipula itu akan menyebabkan anak makin nakal dan susah diatur. 

4. Ada yang pernah berkata begini pada anaknya: "Papa-Mama kerja siang malam banting tulang buat kamu, tau!" No no, no! Jangan pernah mengeluh dalam membesarkan dan mendidik anak, karena mereka akan merasa bahwa mereka adalah beban bagi orang tua. 

5. Jangan mengatakan hal-hal yang buruk di depan mereka, panggil mereka dengan panggilan sayang.

6. Dengarkan dan lihat mereka ketika bercerita, jangan abaikan meski menurut kita ceritanya sepele.

7. Sering berikan pujian.

8. Nikmatilah waktu Anda bersama mereka karena mereka akan terus tumbuh besar dan waktu seperti itu tak kan terulang lagi dimasa mendatang. Akan tiba masanya mereka akan sibuk dengan dunia mereka sendiri, dengan anak-anak mereka sendiri dan mungkin kita akan menikmati sepi sambil mengenang masa indah bersama mereka sedih

Bersabda Rasulullah SAW: “Berguraulah dengan anak2mu ketika usianya 1 hingga 7 tahun. Setelah 7 hingga 14 tahun didik dan ajarlah mereka, kalau salah pukullah dia (sebagai pengajaran dan tidak bermaksud menyakiti)"

Jika seorang anak hidupnya diterima apa adanya,
Ia belajar untuk mencintai. 

Jika seorang anak hidup dalam kejujuran dan sportivitas,
Ia belajar akan kebenaran dan keadilan 

Jika seorang anak hidup dalam permusuhan,
Ia belajar untuk berkelahi. 

Jika seorang anak hidup penuh persahabatan,
Ia belajar bahwa dunia ini merupakan suatu tempat yang indah untuk hidup. 

Jika kamu hidup dalam ketentraman,
anak - anakmu akan hidup dalam ketentraman batin. 

Anak terlahir bagai kain putih, kitalah yang membentuknya menjadi manusia seutuhnya. Jadi baik, atau jahat.

Bagaimana Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran menurut Anda, Temans? 



Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: 




"Postingan ini disadur dari berbagai sumber. Terima kasih telah sudi berbagi ilmu"
...pssttt... pasca hiatus mesti buat postingan serius tersenyum lebar

50 komentar:

  1. sejak pertama mengetahui tawuran melalui televisi karena seumur hidup saya nggak pernah melihat secara langsung, kadang suka kesel liatnya, mengapa harus pake berantem, hidup itu hanya sebentar, bisa-bisanya ada yang berantem aja kerjaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga lom pernah liat langsung, ditempat asalku dan ditempat aku merantau, semua adem ayem, rukun tentram. Alhamdulillah... :)

      Hapus
  2. kemajuan zaman yang semakin pesat ternyata belum mamapu mencerdaskan generasi muda bangsa ini..
    semoga pihak keluarga, sekolah,dan lingkungan sekitar kita ikut berperan dalam penanggulangan tawuran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya mereka kurang kegiatan positif, jadi energinya disalurkan untuk hal-hal negatif *sok teu* :D

      Amiin.. SEmoga begitu.





      Hapus
  3. serius banget para blogger lagi rame masalah tawuran! kalo pelajar dan mahasiswa tawuran mah udah biasa, gimana kalo blogger tawuran?? hehehe

    gak semua pelajar beringas kayak gitu, gak semua mahasiswa ganas kayak gitu.. semua tergantung pendidikan pertama mereka.. it's KELUARGA!!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya serius lah, kan ngontes..hihi..

      Pastinya nggak semuanya, contohnya akiu.. Jaman masih jadi pelajar aku nggak ganas sama sekali lhoooo... :D

      Hapus
  4. Sebenarnya semua mulai dari keluarga... disitausi apapun itu.. keluargalah adalah tempat pendidikan awalnya... sekolah adalah tempat membuktikan bagaimana pendidikan di keluarga sebenarnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bener bener. Aku setuju. Keluarga yang membentuk kita sejak awal kita melihat dunia. Tapi, setelah dewasa banyak hal yang kadang membuat kita keluar 'jalur' karena terbawa arus. Kadang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita juga. Semoga yang begini cepat kembali ke jalur yang benar :)

      Hapus
  5. apapun masalah yang menyebabkan tawura, saya rasa peran keluarga dan pihak sekolah yang seharusnya ditingkatkan untuk menanggulangi masalah tersebut

    sukses ngonesnya mbak pat ^^

    BalasHapus
  6. hebat ya mbak, di Indonesia apapun bisa jadi media tawuran, antar sekolah, di stadion bola antar pemain n oficial, antar suporter, gedung DPR bisa jadi juga, trus sidangnya insan perfilm-an juga tawuran, trus tni ma polisi juga tawuran, polisi ma kpk juga tawuran, antar buruh aja juga jadi tawuran karna g mau diajak demo buruh, mahasiswa antar fakultas, antar suku, antar agama, wuihhhh masih banyak lagiii, ALANGKAH INDAHNYA NEGERI INI... (macak serius juga :p)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin itu mereka-mereka yang putus asa, Oen.. :D
      Andai mereka tau bahwa damai itu indah...

      Hapus
  7. menyedihkan memang mendengar berita tawuran marak akhir-akhir ini.
    selamat ngontes mbak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bapak-bapak yang tawuran nggak terlalu sedih sih ;P, tapi kalo anak-anak tawuran yo sedih.. Bakal seperti apaaaaa coba masa depan mereka :(

      Hapus
  8. tangkepin yang tawuran kirim ke nusakambangan
    yang ngeyel ceburin ke laut..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha.. Ayah'e Ncit ganas banget euy! :D
      Tega tega tega...!

      Hapus
  9. Semoga dengan banyak yang memberi tips untuk mencegah tawuran, maka tawuran lenyap dari muka bumi Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinn....
      Amiinn...
      Semoga mereka pada mbaca ya, Pak :D

      Hapus
  10. peran semua berpotensi untuk meminimalkan atau membiasakan tp wong kito galau selalu kok....apa-apa selalu diselesekan dengen ekspresi esmosi...kreatif deket kek...sesekali diselesekan dengen merenung berjamaah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Cik Gu.. Yang diatas ngasih contohnya begitu sihh.. Yang dibawah ikut2an deh... :)

      Hapus
  11. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  12. tawuran kebanyakan juga disebabkan karena pengaruh sosial, banyak anak yang aselinya baik baik tetapi mendapatkan tekanan bila tidak ikut tawuran. ada juga yang ikut tawuran untuk mendapatkan pengakuan sebagai pria :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tu dia.. Takut dibilang nggak kompak juga sih.. Ntar kalo nggak ikutan, dianya yang dikeroyok di sekolah..
      *geleng-geleng kepala*

      Hapus
  13. Bagaimanapun juga tawuran tetap tidak menguntungkan bahkan dampaknya bisa terkena pihak yang tidak ikut tawuran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tul sekali. Kita nggak usah tawuran ya, Pak?

      Hapus
  14. kunjungan,

    thanks for share, slam kenal sukses selalu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga, meski kuyakin nggak mbaca :D

      Hapus
  15. pantesan lama gak keliatan, hbs hiatus rupanya ya Mbak. Sip deh, harus di mention neh..kalau terpaksa mukul anak jgn pakai tangan..berarti nyubit jg gk boleh pakai tangan ya...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku bertapa nyari pangsit, Jeng :D

      mbok ya jangan dicubit ddooooonggg... Sakit ituuuu... Coba deh, prakatekin dulu ke diri sendiri klo gak percaya :)

      Emakku nggak pernah nyubit kami. Beliau pernah liat kakakku nyubit anaknya, mamaku langsung meradang: "coba kau cubit tanganmu dulu, kalau kau merasa tak sakit, baru boleh kau cubit anakmu!"

      Jangan dicubit anaknya ya, Say.. Kasihaaannn..pliiiisss..

      Hapus
  16. Yupz.. bapak polah anak kepradah mbak..

    saya mau manggil Valeska sayaaaang ah.., sebagai latihan menjadi orang tua yang hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, Uncle.. Vales bersedia jadi ajang latihan Uncle asal kelak Uncle bener-bener jadi Ayah yang Te O Pe Be Ge Te :D

      Hapus
  17. Iya lho Mamaku juga sama, hati emak2 ya :)

    Siiip, anak yg dekat dengan Ayah akan lebih bahagia :)

    Gudlak dikontes ini.

    BalasHapus
  18. iya nih,,hiatusnya lama bener mbak....ayo kita juga harus berperan menanggulangi tawuran..jadi inget film jepang " Gokusen " mungkin kita juga butuh guru yang kaya gith mbak,,^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..iya, lagi ngk mood :D

      Aku blom nonton film itu. Pinjem doongg..

      Hapus
  19. mengerikan mbak kalau melihat tawuran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeri banget. Kita yang punya anak jadi was-was ya, Jeng..

      Hapus
  20. tawurannya gmana kalo di dalam air aja, biar aman larinya..kwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. gimana kalo nggak usah tawuran aja

      Hapus
  21. Ulasan yang sangat menarik.,

    Mengangkat topik dengan solusi & tips jalan keluar terbaiknya.,
    Sangat bermanfaat.,

    Ijin nyimak mbak.,
    Thanks.,

    BalasHapus
  22. sekolah yg berhaisl membalikkan image, dr sklh tukang tawuran jd skl berprestasi seharusnya jadi sekola percontohan utk sekola2 yg masih pada suka tawuran muridnya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bener.. Ntar kita usul sama Pak WaMen.. :)

      Hapus
  23. sik,,,asik,,,,ngepost lagi nih mbak ,,,,bener sekali muncul langsung serius ni...
    ayuk kita ikut menanggulangi....aku setuju sama caranya,apalagi peran orang tua,,

    BalasHapus
  24. Kurasa, Pakdee sudah menemukan juwaranya! Selamat, Jeng :D

    BalasHapus
  25. Mbak dewiiiiii apa kabar...halah resolusi untuk kopdaran kok menguap begitu saja kie piye..hehehe udah minta nomer telp dirimu juga dari mbak isna tapi yo blom sempat telp ..*maaf bukan maksud nggak niat lho ya..tapi asli tau sendiri dan merasakan kalo jadi ibu dan bekerja serasa waktunya kurang...apalagi di tempat kerjaku bisa tanyakan isna mbak..update ini itu...waktu juga seakan kurang..heuheuehue....kalo aku ya aku usahakan pulang tepat waktu,..
    btw ini artikelnya keren banget....memadukan berapa berapa aspek agama, pemerintah, sekolah, data ...keren pokoknya..eh asli sumpe nggak ngintip dan janjian..baru main kemari hari ini se ide menuliskan catatan dorthy Notle tentang pendidikan anak..:)
    sip semoga sukses kontesnya mbak..:)

    BalasHapus
  26. eh btw kemarin hari minggu ketemu mbak mul di pertamina terus bilang mbak dewi bilang pingin ketemuan nieh....waduh kapan yah mbak..aku bulan oktober lebaran haji ini mudik...insyallah abis mudik aja yah mbak..entar insyallah aku kabar kabari..

    BalasHapus
  27. bagus bgt mba bahasannya, salam kenal :)

    BalasHapus
  28. Sangat setuju banget...!
    lebih baiknya pemerintah sendiri harus turun tangan Mbak Dew.

    BalasHapus

Yang cakep pasti komen, yang komen pasti cakep..

Tapi maaf ya, komentar nggak nyambung akan dihapus :)
Terima kasih...